Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Mau Dong Masuk Penjara !!!

Artalyta ‘ayin’ Suryani, 47 tahun, terbukti melakukan penyuapan kepada jaksa Urip Tri Gunawan. Sejak Maret 2009 silam, perempuan yang mempunyai julukan “Ratu Lobi” ini pun diganjar 5 tahun kurungan. Sejak saat itu, kediaman pengusaha asal lampung ini berpindah dari sebuah rumah mewah di bilangan Simprug Jakarta selatan menuju rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sebagai penjara, “kantor baru” Ayin, dimana dia bisa menerima tamu dengan leluasa, mengorganisir perusahaan, menonton siaran televisi, memelihara pembantu, dan lain sebagainya, ini tidak bisa disebut tidak megah. Apakah, seperti diusulkan oleh Indonesian Coruption Watch (ICW), Ayin memang lebih layak dikirim ke Nusakambangan?
Penjara memang tidak lagi bermakna neraka, terutama bagi mereka yang punya “kuasa”. Penjara tidak lagi memiliki fungsi seperti yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan bahwa hunian bagi narapidana bukan sekadar tempat memenjarakan orang, melainkan tempat merehabilitasi dan mengembalikan orang yang pernah melakukan tindak pidana ke masyarakat. Alih-alih merehabilitasi, penjara kini berganti wajah menjadi semacam apartemen sementara, di mana orang yang berduit boleh melenggang sekehendak hati.
Terbukti, pelaku tindak pidana korupsi lebih diistimewakan daripada tahanan-tahanan yang lain. Akan halnya Artalyta, ia mendapatkan berbagai fasilitas lux yang membuatnya tidak lagi tepat untuk dinamai sebagai hukuman. Karena, bayangkan, “penjara” Artalyta terletak di sebuah tempat khusus di gedung administrasi lantai tiga. Ruang berpenyejuk udara itu dilengkapi dengan sebuah televisi layar datar, sebuah tempat tidur terbuat dari kulit berukuran dobel, sebuah sofa dan dua buah meja.
Sel pelaku tindak pidana korupsi memang tidak disatukan dengan narapidana-narapidana yang lain. Ada lokasi khusus yang membedakan mereka dari pelaku tindak kriminal dari jenis yang berbeda (non-korupsi). Para koruptor, misalnya, tidak perlu repot berdesakan dengan pengutil, pencopet, perampok atau agen narkoba. Dan para koruptor tidak harus “menikmati” penjara yang sesak dan apak, yang quotanya saja berlebihan; kapasitasnya 90 ribu orang namun dijejali dengan 132 ribu manusia.
Hal ini tentu menambah daftar hitam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Ketika di luar penjara, semua orang ribut berjuang membersihkan institusi hukum dari kejahilan para makelar, di dalam penjara makelar-makelar itu berhasil menyumpal mulut sipir dengan uang. Ketika di luar penjara, semua orang sibuk memperkarakan orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus korupsi, di dalam penjara terdengar suara yang melambai; “masuk penjara juga ndak apa-apa, di sini enak kok!”.
Kontroversi di seputar perlakuan yang tidak sama di dalam Lembaga Pemasyarakatan ini sebetulnya bukan perkara baru. Waktu itu, bangsa ini pernah digegerkan oleh persoalan baju tahanan tindak pidana korupsi. ICW bahkan sempat memamerkan beberapa desain khusus yang dirancang sebagai alat untuk membuat para koruptor itu malu dan jera. Lantas muncul perdebatan di tengah publik; pantaskah seorang koruptor, yang kalau bukan pejabat maka pengusaha berpengaruh itu, memakai pakaian yang berlabel narapidana? Bukankah bersafari saja seperti biasanya sudah cukup, terlebih mereka juga pernah berjasa kepada negara?
Hingga ekspose tentang kehidupan bui Artalyta bergema di berbagai media massa, kontroversi tentang perlakuan khusus tersebut masih belum selesai. Kalau boleh dirunut ke belakang, Artalyta sebetulnya cuma meneruskan perilaku para pendahulunya. Bahwa sudah menjadi rahasia umum, sel yang diberikan kepada Hutomo Mandala Putera (Tommy Soeharto) adalah ruangan “bintang lima”, hanya saja lokasinya di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Syahril Sabirin juga serupa, di Cipinang juga, ditempatkan di sebuah sel Isolasi dengan fasilitas kamar mandi ber-shower, satu buah televisi, serta diperbolehkan membawa komputer jinjing dengan koneksi internet. Kondisi yang mirip bahkan juga berlaku di Nusakambangan, saat Bob Hasan memperoleh fasilitas rumah tahanan VIP. (Lihat Investigasi Tempo)
Persoalannya barangkali tidak semudah seperti yang diasumsikan oleh ICW ketika menanggapi fenomena Artalyta; bahwa yang belakangan ini harus segera dipindahkan ke Nusakambangan. Tentu saja tidak segampang itu. Yang sesungguhnya kita hadapi sekarang adalah sebuah dampak sistemik, meminjam kosa kata yang sekarang sedang populer dalam penanganan kasus Bank Century, atas pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan yang kacau; manajemen yang amburadul yang setiap saat bisa dipecundangi oleh para penghuninya (narapidana).
Beberapa saat sebelum kasus Artalyta ini mencuat, santer terdengar kabar bahwa di Medan, sebuah Lembaga Pemasyarakatan bahkan sanggup beralih rupa menjadi “Kampung para Bajingan”. Salah seorang “alumnus” dari Lapas ini, yang berkesempatan mendokumentasikan perilaku para tahanan di sana melalui perangkat video amatir, membeberkan kerja harian para narapidana yang berjudi dadu dan kartu di halaman penjara, memakai dan mengedarkan narkoba, dan bahkan menularkan virus HIV AIDS.
Ada yang salah dengan tata kelola Lembaga Pemasyarakatan di negeri ini. Dan barangkali karena inilah, kejahatan demi kejahatan, korupsi demi korupsi, masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, bahkan pada saat yang sama ketika upaya pemberantasannya juga digalakkan. Penjara masih berarti sebagai hal mengerikan bagi orang-orang seperti mbok Minah, “pencuri” tiga biji Kakao, atau Sulfiyana yang mengambil beberapa bungkus roti dan kopi instan di perusahaan tempat dia bekerja. Tetapi bui ternyata tidak berarti apa-apa bagi orang macam Artalyta Suryani, yang memiliki sejuta jurus untuk menyulap Lembaga Pemasyarakatan menjadi Kompleks Perumahan. Penjara tak lagi memberi efek jera.
Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah besar terutama bagi Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang baru-baru ini dibentuk oleh presiden. Kuntoro Mangku Subroto, ketua Satgas tersebut, bersama dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia harus bersedia bahu membahu mengusut tuntas dan menindak tegas berbagai penyelewengan di dalam Lembaga Pemasyarakatan ini. Lapas harus segera disucikan dari oknum-oknum yang memperdagangkan fasilitas. Kalaupun memang ada standardisasi dan klasifikasi kelas tahanan untuk jenis narapidana dan ragam kejahatan yang berbeda-beda, maka perlu ditinjau ulang seberapa jauh seseorang boleh menempati sel berbintang lima. Atau kalau perlu, karena hal ini sudah melibatkan rasa keadilan massa rakyat, seorang koruptor ditempatkan pada sel yang sama dengan ruang pencuri ayam. Namanya juga penjara yang memang berfungsi sebagai media untuk menjerakan. Jika tidak segera ditangani maka jangan disalahkan apabila nanti korupsi menjadi semacam trend. Saat itu, ganjaran kurungan berapa tahun pun tidak lagi menjadi soal. Dari sini, kita perlu sesekali mendengarkan anekdot kecil yang keluar dari canda masyarakat: “Lebih baik hidup di penjara, sehari-hari makan terjamin. Dari pada di sini (di luar penjara), sehari belum tentu makan”. Nah, hari ini, penjara ternyata tidak dipahami sebagai penjera, dan justru sebaliknya dipakai sebagai kamuflase untuk menyembunyikan diri dari jerat hukum. Ayin masih tetap melobi ke sana ke mari, dan mungkin lebih leluasa sebab sekarang ia berada di luar area pengawasan KPK, karena di kantongnya masih terselip blackbery.
Berkaitan dengan pelaku tindak pidana korupsi, sudah waktunya KPK mempunyai Lembaga pemasyarakatan sendiri yang, seperti hak-hak eksklusifnya dalam urusan penyidikan, dikelola dengan tata aturan yang extra-ordinary. Jangan hanya karena soal bui, indeks persepsi tentang pemberantasan korupsi menurun lagi, sebab para “tikus berdasi” itu yang karena terinspirasi Artalyta Suryani sama merengek; “Mau dong masuk penjara!!!”.

Iklan

4 comments on “Mau Dong Masuk Penjara !!!

  1. >tapi aku tetep gak mau lho.

  2. ibn nawawi
    01/08/2010

    >hehehehe,,,,liat liat om, penjaranya siapa,,,,

  3. aey
    06/08/2010

    >betull….para tikus emang waktunya di kurung sampai ajal membumbung,,,

  4. Anonymous
    11/08/2010

    >dead: bukankah diri kamu sendiri adalah penjara? hehehehe.ibn nawawi: penjara negeri ini…aey: tapi kalu penjaranya kayak hotel? siapa g kerasan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 09/05/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: