Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Mahasiswa

Saya mahasiswa. Tetapi, sejauh ini saya tak pernah benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan labeling tersebut. Apakah mahasiswa berarti dia yang setiap jam kerja menenteng tas cangklong, juga tas ransel, yang bermuatan buku-buku, dan lantas berangkat ke suatu tempat yang dinamakan kampus? Apakah mahasiswa adalah dia yang duduk di sebuah bangku memegang bolpoin dan mengguratkannya pada lembar-lembar kertas di hadapan seorang pengampu bernama dosen, dan lalu aktifitas itu dinamai dengan kuliah? Ataukah mahasiswa ialah dia yang memiliki sense of politic yang teramat tinggi, sehingga kemudian kerjaan-nya tidak lain daripada merancang serentetan demonstrasi dan menamakannya, agar terkesan lebih gagah, dengan istilah “Aksi”? Ataukah mahasiswa adalah dia yang nampak sangat kritis terhadap apapun, kepada siapapun, lebih-lebih terhadap berbagai kebijakan yang dinilainya tidak memihak kalangan kecil, diskriminatif, dan atau apapun yang disangkanya bertentangan dengan nilai-nilai “perjuangan”?
Ah, sebetulnya saya ingin tak mau tahu; saya mau tak ingin peduli. Tetapi sikap acuh tak acuh juga bukanlah pilihan yang sama sekali benar. Saya hanya merasakan bahwa definisi terhadap kata mahasiswa kini telah terlalu gemuk, sehingga bahkan bisa dikatakan sudah kelebihan beban. Dulu, sebelum saya masuk ke dunia intelektual itu, saya hanya berpikir untuk melanjutkan study. Tak kurang tak lebih, saya hanya hendak meningkatkan dan mempertajam kualitas pengetahuan belaka.
Namun, belakangan semua itu menjadi kabur. Pertama kali memasuki gerbang perkuliahan, saya sudah disuguhi oleh beban pertama yang dikandung oleh makna mahasiswa. Bahwa, di dunia kampus tersebut, saya harus menentukan pilihan-pilihan jurusan. Dan di sinilah, konon, prospek masa depan mahasiswa ditentukan. Saya lantas ditakut-takuti agar jangan salah menentukan pilihan jurusan. Sekarang saya tahu, asumsi-asumsi yang diketengahkan sebagai argumentasi untuk menunjukkan prospek sebuah jurusan, ternyata berdampak negatif. Bahwa, pada akhirnya, lahirlah semacam klasifikasi sosial yang melahirkan kelas-kelas di kalangan mahasiswa, berdasarkan kepada asumsi tentang prospek jurusannya. Maka, tidak mengherankan apabila sebuah fakultas A dianggap lebih elite dibandingkan fakultas B. Sebaliknya, jurusan D dinyana lebih elok daripada jurusan C. Dan, apa yang saya resahkan pun terjadi; makna mahasiswa pun “dimonopoli” oleh segerombolan mahasiswa dari golongan elite dan elok itu, plus dukungan dari birokrasi kampus yang bagi saya masih amat feodalistis itu. Mahasiswa dari golongan lain, tak dianggap. Sebagai mahasiswa sebuah jurusan yang sub-ordinat, saya betul-betul dibikin gerah juga. Tentu saja, dari sudut pandang ini, saya tak tercakup dalam klasifikasi sebagai mahasiswa.
Demikianlah, monopoli makna yang pertama.
Monopoli yang kedua. Tersebutlah sebuah mitos yang kebenarannya masih patut dipertanyakan; bahwa, mahasiswa harus terlibat dalam aktifisme. Ya, mahasiswa katanya musti mampu bersikap kritis, dan karena hal itulah mereka harus terlibat dalam pergerakan, masuk organisasi, terlibat dalam demonstrasi, mengkritik di sana sini dan lain sebagainya. Sekali lagi, orang-orang yang berada di luar lingkaran ini, dicap sebagai “diragukan status kemahasiswaannya”. Sementara, kita juga sama-sama tahu, bahwa pelbagai bentuk pergerakan dalam wujudnya yang berupa-rupa itu, saling sergah satu dengan yang lain; saling mencemooh; pendeknya saling meragukan status kemahasiswaan masing-masing. Lihatlah mereka saling beradu pengikut, saling meremehkan eksistensi kelompok yang lain, saling berpandangan dengan sudut mata yang curiga. Mereka bertarung, mereka bertengkar, mereka berebut status sebagai “mahasiswa sejati” (bandingkan jargon ini dengan konsep “mahasiswa abadi”).
Selain kedua jenis monopoli di atas, sebetulnya masih banyak bentuk-bentuk mitos lain yang menyelimuti sebuah kata ambigu berbunyi mahasiswa. Semua digaungkan; dihembuskan; didesiskan. Bahkan, anda sendiri, umpamanya, juga berhak memberi masukan pemaknaan sesuai dengan kehendak hati anda sendiri-sendiri. Atau, sebaliknya, anda termasuk mahasiswa yang mau saja “dibodohi” oleh rupa-rupa mitos yang telah tersedia sebelumnya? Anda; korban mitos? Terserah, toh semua adalah hak prerogatif anda. Hanya, pada saat yang hampir bersamaan, mahasiswa menjadi entitas yang semakin gembrot. Hampir-hampir saja ia tidak termaknai; tak terpahami.
Karena itulah saya semakin sangsi; apakah saya benar-benar menginginkan semua ini? Belakangan baru saya tahu, bahwa nyatanya saya semakin tak tahu diri; semakin tidak mengerti siapa sebetulnya diri saya sendiri. Mahasiswakah saya?

Palembang, 02 Mei 2010
Turabul Aqdam
Lukman Hakim Husnan
(Terdaftar dan tercatat sebagai Mahasiswa Jur. Akidah Filsafat Fak. Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang Sumatera Selatan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 09/05/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: