Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Diskursus

Beberapa saat setelah menginjakkan kaki di Palembang, segera saya berkenalan dengan sosok-sosok yang “bergairah”. Kami lantas mendirikan sebuah “Forum Diskusi” yang setiap anggotanya diwajibkan membikin “reportase pikiran” masing-masing dalam wujud tulisan. Berikut adalah beberapa topik yang kami bincangkan pada setiap pukul Sembilan minggu pagi di lantai dua Masjid Agung Palembang itu…REFLEKSI I
MENGENAL TUHAN, MENJADI BERAGAMA
13 September 2009

KEYAKINAN, BUKAN PERSEPSI
Fia
Hampir setiap orang sadar akan adanya kekuatan yang Maha Dahsyat di alam ini, baik setiap saat maupun hanya pada waktu bencana besar melanda. Sang pemilik kekuatan maha dahsyat itu, tidak lain tidak bukan adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Pertanyaannya adalah siapakah Tuhan Yang Maha Esa itu? Setiap agama yakin dan percaya akan adanya Tuhan yang disembah oleh penganutnya. Tuhan bersifat abstrak atau dalam istilah Islam-nya disebut ghaib, terkecuali hasil karya-Nya yang ada di jagad raya ini. Mungkin karena keabstrakan-Nya inilah memunculkan berbagai media komunikasi atau syari’at yang berbeda untuk menuju kepada-Nya.
Lalu, bagaimana para penganut setiap agama meyakini Tuhannya, apakah hanya dengan persepsi belaka? Padahal teori persepsi mengajarkan bahwa tanggapan terhadap obyek tidak pernah bisa obyektif seluruhnya karena selalu diwarnai dan dipengaruhi oleh beberapa kecenderungan subyektif.
Unsur subyektifitas inilah yang terkadang menimbulkan kemalasan pemeluk agama untuk mencari kebenaran hakiki terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta syariat seperti apa yang seharusnya ditempuh.
Tuhan telah menjadikan akal, indera dan hati bagi manusia sebagai jalan untuk mengenal-Nya baik secara hakikat maupun syariat. Sudah sepatutnya berbagai jalan tersebut digunakan dengan maksimal sesuai porsinya dan menggunakan prinsip tawazun (keseimbangan). Karena walau bagaimanapun, kekeliruan dalam memahami atau meyakini hakikat ataupun syariat dapat mengantarkan manusia dalam kekufuran.

MENGENAL TUHAN MENJADI BERAGAMA
Nunun
Berbicara tentang Tuhan bukan sesuatu yang baru bagi saya. Perjalanan hidup yang sedemikian rumit mengantarkan saya mengenal Tuhan lebih dalam. Saya bukan orang yang pandai untuk merangkai kata menerangkan atau menjelaskan apa itu Tuhan, atau mengapa setiap agama memiliki nama yang berbeda untuk Tuhannya. Bagi saya yang terpenting pengertian atau penjelasan yang gamblang tentang Tuhan itu tidak akan bermakna jika esensi dari nilai-nilai ketuhanan tidak dipahami dan diaplikasikan.
Tuhan menurut alam pikiran saya adalah zat yang memiliki kekuasaan atas alam semesta ini. Yang berwewenang untuk menentukan kapan orang akan hidup ataupun kapan ajal akan menjemputnya. Mengapa saya percaya kepada Tuhan? Karena bagi saya mengenal Tuhan membuat hidup saya menjadi terarah.
Karena saya diciptakan sebagai makhluk sosial maka mau tidak mau saya juga berhadapan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan Tuhan dalam tatanan kehidupan. Beragamnya makhluk di muka bumi ini juga turut memberagamkan persepsi mereka tentang Tuhan.
Mengapa kita memiliki persepsi yang berbeda tentang Tuhan? Perlukah kita beragama agar bisa mengenal Tuhan? Karena di negeri ini orang yang tidak memiliki agama terkadang dinamakan orang yang tidak bertuhan. Lain agama berarti berlainan Tuhan. Karena saya sendiri bingung dengan pertanyaan-pertanyaan ini maka saya melalui tulisan ini ingin berbagi kebingungan dengan teman-teman saya. Syekh Lukman, Fia, Fuah, Eka dan selamat datang untuk anggota baru Wulan, Parti, Titin dan Zainah.
Bagi yang beragama karena keturunan dengan kata lain dia Islam karena orang tuanya Islam, tentu bukan menjadi permasalahan besar baginya untuk mengenal siapa Tuhan yang ia sembah. Namun menjadi berbeda ketika seseorang mencari “Zat yang Maha Tinggi” yang menguasai kehidupan melalui pencarian agama yang pas dari segi nalarnya. Ia bisa berpindah dari ajaran agama yang satu ke agama yang lain untuk mencari Tuhan yang sesuai dengan logikanya. Tak pelak ada yang berhasil namun ada juga yang gagal dan justru dianggap menyimpang ketika ia merumuskan pengertian Tuhan yang berbeda dari orang kebanyakan. Dianggap sesat karena aliran keagamaan yang ia usung tidak termasuk dalam daftar aliran keagamaan di tempat ia tinggal.
Terlepas dari itu semua, apa sebenarnya makna Tuhan itu sendiri? Perlukah diskusi, debat panjang lebar untuk menentukan Tuhan yang sebenarnya itu berada dimana? Apakah semua agama ataupun aliran kepercayaan pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama, Tuhan yang Maha Esa? Lantas apakah bisa dibenarkan orang yang percaya kepada Tuhan namun tidak beragama atau beragama namun tidak melaksanakan ajaran agamanya?
Bagi saya pribadi, sebenarnya tidak perlu ada perdebatan panjang untuk menentukan agama yang mana yang paling benar secara mutlak untuk semua orang. Karena agama itu dipeluk oleh seseorang berdasarkan persepsinya tentang Tuhan. Seseorang tertarik pada agama Islam bisa jadi karena penjelasan tentang Tuhan dalam Islam lebih mengena dalam pikirannya. Demikian juga halnya penganut Budha, Kristen, Hindu dan lain-lain. Tak jarang kita dengar seseorang berpindah agama karena penjelasan tentang Tuhan dalam agama lamanya tak selogis penjelasan dalam agama barunya.
Nah kalau sudah begini mau tidak mau saya sampai pada satu alternatif kesimpulan (karena mungkin akan ada alternatif-alternatif lain yang akan muncul setelah ini) kalau seluruh agama di muka bumi ini pada dasarnya memiliki Tuhan yang sama yaitu Tuhan yang Maha Esa. Saya setuju dengan pandangan Cak Lukman yang bilang kalau kita berpendapat Tuhan kita berbeda dengan Tuhan dalam agama Kristen maupun agama lainnya artinya kita percaya ada Tuhan selain Allah (nama Tuhan dalam Islam). Dan ini bisa mengakibatkan kita masuk dalam kategori syirik, satu hal yang paling dibenci Allah.
Lantas jika kita semua pemeluk agama menyembah Tuhan yang sama, mengapa kita harus bersitegang, perang urat syaraf, bahkan kontak fisik yang memakan korban hanya untuk menyatakan bahwa agama kita yang paling benar? Parahnya lagi perang tersebut dipayungi oleh berbagai pembenaran teologis dan kutipan-kutipan sakral dari kitab suci masing-masing.
Jikalau sudah begini agama bukan lagi sebagai wahana pencitraan diri sebagai makhluk beradab. Padahal Allah telah menganugerahkan akal, indrawi, intuisi maupun ilham yang membedakan kita dengan binatang. Karunia-karunia yang sudah sepatutnya digunakan agar kita benar-benar bisa menjadi makhluk yang beradab dalam segala hal.
Semua orang tahu bahwa setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk bisa berperilaku secara beradab. Namun pada kenyataannya banyak yang beragama namun perilakunya jauh dari kesan beradab. Beragama tapi tidak beradab.
Bagaimana sih beragama secara beradab? Menurut Syafii Maarif dalam bukunya Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, beragama secara beradab sama artinya dengan beragama secara jujur, tulus dan lapang dada. Dengan sikap lapang dada berarti prinsip pluralisme menjadi penting dalam hal kesediaan kita mengakui hak orang lain untuk berpendirian bahwa agama yang dipeluknya adalah yang paling benar, sekalipun kita tidak perlu menyetujuinya. Pada saat bersamaan, orang lain juga harus menghormati orang Islam yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
Menurut Maarif, ungkapan paling benar disini harus dikembalikan kepada kepercayaan pemeluknya masing-masing. Adalah sebuah sikap tak beradab, jika seseorang berkata “agama kamilah yang paling benar, agama anda penuh mitos”. Pernyataan semacam ini jelas bisa menimbulkan perkara di tengah masyarakat yang tidak hanya majemuk dalam ras, suku, maupun etnis namun juga dalam agama dan aliran kepercayaan.
Diakhir tulisan ini saya berkesimpulan bahwa perbedaan paham tentang agama, tentang Tuhan tampaknya tidak akan pernah selesai di dunia ini sampai kiamat. Karena pada dasarnya kita memang diciptakan berbeda satu sama lain. Yang paling berhak untuk memberikan solusi tentang perbedaan paham keagamaan adalah Tuhan yang Maha Esa. Tugas kita sebagai pemeluk agama adalah berlomba-lomba dalam menegakkan dan menebar kebaikan tidak hanya untuk diri sendiri ataupun kelompok sendiri tapi untuk semua. Wallahu a’lam.

MENGENAL TUHAN, MENJADI BERAGAMA ???
Lukman
Tuhan merupakan tema sentral dalam setiap kepercayaan metafisik -agama maupun format kepercayaan yang lain. Hampir setiap orang tidak menafikan-Nya, meski Dia sendiri disebut dengan banyak nama. Kita ingat, Islam mengenal sembilan puluh sembilan sebutan yang kesemuanya dinisbatkan kepada Tuhan, walaupun sebenarnya -menurut beberapa Ulama’- nama Allah tidak terbatas pada jumlah tersebut. Sembilan puluh sembilan nama, yang lazim kita terjemahkan dengan asmaul husna itu, adalah beberapa saja yang sanggup dibahasakan oleh manusia. Lafadz “Allah” (الله) sendiri hanyalah satu nama dari-Nya; nama yang paling populer, nama yang ter-agung (al-asma’ al-a’dzam).
Logika yang sama sangat mungkin diaplikasikan pada realitas keberagamaan kita yang plural. Bahwa, perbedaan dalam menyeru nama Tuhan, yang pada gilirannya juga berarti perbedaan atas keyakinan keberagamaan yang dipeluk, tidak lebih dari pilihan-pilihan manusiawi yang tidak perlu melibatkan sakralitas –dan apalagi klaim kebenaran; merasa bahwa Tuhan kita adalah tuhan yang paling benar untuk disembah. “Alloh” –sebutan Tuhan bagi Muslim Indonesia, misalnya, secara esensial tidak berbeda dari “Allah”-nya orang Kristen dan bahkan “Atman”-nya orang Hindu. Keduanya merujuk pada satu muara, yakni Tuhan (Ilah; Arab, God atau Lord; Inggris). Sesuatu yang kita tak pernah tahu “bagaimana”-nya, namun kekuasaan-Nya senantiasa mengesankan dan membuat kemanusiaan kita takjub (Misterium Fascianum).
Ya, Tuhan memang satu, hanya saja Dia tampil dengan banyak nama.

Arti Tuhan bagi Manusia
Dalam hubungannya dengan Tuhan, sepanjang pengetahuan penulis, manusia dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok manusia yang meyakini dan/atau mempercayai adanya Tuhan (Kelompok Theis). Kedua, kelompok manusia yang tidak meyakini dan/atau mempercayai adanya Tuhan (Kelompok Theis). Untuk mengetahui arti Tuhan bagi umat manusia, terlebih dulu kita perlu menyelidiki -atau sekedar tahu barang secuil- kenapa Tuhan tidak berarti bagi kaum Atheis. Dengan demikian kita bisa membandingkannya dengan makna Tuhan bagi kaum Theis.
Pada umumnya, gejala atheisme muncul secara lebih massif di era modern. Kita ingat, pada waktu itu gereja -sebagai simbol dan representasi praktis dari Tuhan- digugat oleh sekelompok orang yang terpesona terhadap diskursus ilmiah. Supremasi gereja pertengahan, dan dengan demikian berarti supremasi “kekuasaan Tuhan”, pun digeser oleh gagasan tentang antrophormisme. Tuhan kini tak lagi menjadi domain sentral keberadaan manusia. Jika sebelumnya manusia memerlukan diri untuk mendapatkan restu dari Gereja, maka sekarang ia bisa mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri.
Filsuf yang pertama-tama disebut dan terkenal sebagai “Pembunuh Tuhan” itu bernama Ludwig Feurbach. Selorohnya yang seringkali dikutip adalah, “Manusia menciptakan Tuhan dengan citranya”. Dari sini kita tahu bahwa, bagi kaum atheis, ada atau tidaknya Tuhan sebenarnya tidak layak untuk dibicarakan, karena toh yang ada hanya manusia –bersama alam tentunya. Manusialah yang mangatur dirinya sendiri dan bukan atas campur tangan Tuhan. Jika Tuhan, mengutip Feurbach, ternyata adalah ide tentang manusia juga, maka kenapa kita tidak berkonsentrasi membicarakan manusia saja?
Dus, atheisme tidak pernah menganggap Tuhan berarti karena Dia tidak relevan. Ide tentang Tuhan dan konsep-konsep ketuhanan bukan sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia. Sebab hanya manusia-lah yang mengatur dirinya sendiri. Bagi kebanyakan pemikir pada saat itu, lebih baik membicarakan ilmu pengetahuan (sains) daripada terlibat dalam perdebatan tentang Tuhan. Feurbach sendiri mencanangkan penghapusan teologi dan menggantikannya dengan antropologi.
Jadi, kenapa Atehisme menolak Tuhan? Sebab Tuhan tidak relevan. Kenapa Tuhan tidak relevan? Karena, bagi mereka, hanya manusialah yang penting.

Apa atau Siapakah Tuhan
Tuhan, bagi penulis, adalah sesuatu –yang entah dzat atau apapun- yang menggetarkan dan mengatasi manusia.. Dia berada di luar jangkauan manusia, sehingga seperti tak mungkin untuk dimengerti. Namun begitu, Dia teramat dahsyat, dan karena itu tak heran banyak pemikir yang menyebut-Nya sebagai Misterium Fascianum (sesuatu yang betapa misterius, tapi sekaligus begitu mempesonakan). Dia jauh namun sekaligus dekat. Dia baik namun tak jarang juga jahat (konsep-konsep kontradiktif seperti inilah yang barangkali sangat sulit dipahami oleh kaum atheis, sehingga mereka pun menolak konsep tentang Tuhan). Tuhan memang sebuah konsep bagi manusia, namun Dia juga sekaligus kenyataan di dalam diri-Nya sendiri. Dia adalah realitas (bahkan ultimate reality) yang hanya mampu dicerna akal, dan bukan indera, manusia. Dia tak kasat mata, tapi terang benderang di hati manusia.
Pada intinya, Tuhan adalah sesuatu yang ditinggikan manusia. Jika pun kaum atheis menolak Tuhan karena terjebak pada konsep ketuhanan abad pertengahan, maka sebenarnya mereka telah mempertuhankan hal lain selain “Tuhan”, betapapun mereka menolak konsep ketuhanan itu sendiri. Feurbach, misalnya, bisa kita sebut sebagai menyembah konsep kemanusiaan, karena terbukti meninggikan manusia di atas segalanya. Filsuf-filsuf yang lain, yang lebih respect terhadap sains dan mengalahkan yang lain, sebagai perumpamaan berbeda, bisa dikatakan telah menyembah sains.
Dengan demikian, kaum atheis terlibat dalam penyembahan atas sesuatu yang lebih kasar dibandingkan dengan Tuhan-nya kaum theis.

Arti Agama
Apakah mengenal dan mengetahui Tuhan secara otomatis berarti keharusan untuk menyembah-Nya? Sekurang-kurangnya terdapat dua jawaban; Ya da Tidak. Jawaban afirmatif adalah milik kaum beragama dan jawaban negatif ialah khas kaum deis.
Menurut kaum beragama, Tuhan mengkomunikasikan “pikiran-pikiran”-Nya kepada manusia. Wujud dari komunikasi tersebut adalah wahyu, ketika Dia mengirimkan seorang atau beberapa orang utusan untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya (Risalah). Pada gilirannya, wahyu tersebut diterjemahkan oleh sang Rasul ke dalam bentuk institusi keagamaan. Diantara isi agama sendiri adalah aturan-aturan penyembahan terhadap-Nya dan juga petunjuk-petunjuk tentang kehidupan kemanusiaan.
Keberadaan Rasul, dan kemudian keberadaan agama, inilah yang disangsikan oleh kaum deis. Lepas dari kemungkinan bahwa mereka didera pengalaman buruk berkaitan dengan agama, mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap institusi agama itu sendiri.
Di sinilah letak perbedaan asasi antara kaum deis dan kaum beragama. Bahwa bagi kaum beragama, mengenal dan mempercayai Tuhan sekaligus berarti mempercayai tentang konsep Rasul dan kemudian agama. Buktinya, Rasul-rasul itu juga dibekali oleh mukjizat-mukjizat yang, tentu saja, tidak bermula dari kemampuan manusia belaka. Mukjizat adalah sebentuk pertanda yang kedahsyatannya membuktikan kekuasaan sang Misterium Fascianum.
Ala kulli hal, menjadi beragama tidak hanya berarti mengenal dan mempercayai Tuhan, karena beragama berarti juga mempercayai utusan (Rasul). Beragama berarti juga bersiteguh memegangi wahyu.

REFLEKSI II
AGAMA SAMAWI vis a vis AGAMA ARDHI
11 Oktober 2009

AGAMA SAJA : TAK PERLU SAMAWI DAN ARDHI
Lukman

Komunikan-Komunikan Tuhan
Mungkinkah manusia hidup tanpa agama? Sepertinya tidak. Sepertinya sangat tidak mungkin. Hal ini tersirat dalam diskusi perdana, bahwa betapapun beberapa jumlah orang telah memilih untuk tidak bertuhan dan -pada akhirnya- tidak beragama, tetap saja agama menjadi diskursus yang amat penting. Kenapa lacur, sebab Tuhan –dan kemudian juga agama- merupakan hal esensial dan bahkan natural di dalam diri manusia.
Hemat penulis, agama adalah seperangkat keyakinan meliputi hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia, diantara yang terpenting di sini ialah konsep mengenai Tuhan. Selain itu, agama juga berarti tata aturan yang berfungsi sebagai pedoman bagi manusia untuk mengadakan penyembahan kepada-Nya. Karena itulah kemudian agama juga berarti ritual-ritual keagamaan sebagaimana orang Islam menyebutnya dengan ibadah. Ritual yang bermakna sebagai tata cara penyembahan terhadap-Nya.
Tata cara peribadatan ini kemudian berbeda dari satu ke lain agama; setiap agama memiliki prosesi ritual yang berlainan satu dengan yang lain. Bahkan jika diperbolehkan bertanya kenapa harus ada polarisasi dan pluralitas keagamaan? Jawabnya jelas, bahwa setiap satu dari masing-masing agama yang ada mempunyai identitasnya sendiri-sendiri yang unik, yang membedakannya dari yang lain. Dan sungguh celaka, perbedaan-perbedaan tersebut tidak serta merta dapat diredusir dan lantas diunifikasi. Perbedaan tersebut esensial di dalam setiap agama.
Taruhlah apa yang kita maksud dengan Tuhan adalah hal yang sama; sesuatu yang serba Maha. Namun, apakah secara otomatis apa yang kita pikirkan tentang-Nya adalah juga serupa? Tentu tidak. Sebab, manusia ternyata adalah sekelompok orang buta yang berebut mendefinisikan gajah. Persepsi tentang Tuhan selalu berbeda antara satu orang dengan yang lain, begitu pun akhirnya hal ini bisa analog dengan pluralitas agama.
Pertanyaannya kemudian, jika memang seperti itu, jika memang persepsi tentang Tuhan berbeda dari satu individu dengan individu yang lain, maka kenapa yang lantas muncul adalah bukan agama yang bersifat sangat personal? Kenapa, misalnya, di Indonesia tidak lahir dua ratus juta agama, sesuai jumlah penduduk yang ada, dan hanya berlaku beberapa agama belaka?
Sebab, dipercaya –dan bisa jadi kenyataannya memang demikian, tidak semua orang mampu “berkomunikasi” dengan Tuhan. Tidak seluruh manusia berhak menjadi Rasul (Utusan). Nabi adalah mereka yang dipilih oleh Tuhan secara pribadi. Nabi dan Rasul adalah mereka yang oleh Tuhan telah dibekali dengan kualitas yang adi-manusiawi yang sekaligus berarti sebagai representasi sang misterium fascianum itu sendiri. Lahirlah istilah mukjizat; sebuah keahlian yang khusus diberikan kepada Nabi dan Rasul. Nabi dan Rasul inilah yang selanjutnya membimbing dan mengarahkan manusia-manusia yang lain, yang tidak memiliki kualifikasi profetik itu, berjalan menuju Tuhan. Mereka mengajari manusia apa dan bagaimana cara menyembah-Nya.
Demikianlah agama. Ia senantiasa berasosiasi kepada “orang-orang agung”. Islam mengenal Muhammad, Kristen dengan Isa (Yesus; yunani), Yahudi dengan Yesus atau Budha dengan Sidharta. Bahkan, agama seperti hindu dan aliran-aliran kepercayaan lainnya selalu memiliki sumber rujukannya dalam bentuk manusia yang historis, walaupun yang terakhir ini seringkali anonim. Merekalah komunikan-komunikan Tuhan.

Komunikasi Tuhan dengan Manusia
Bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia? Tentu saja kita tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan ini sebelum kita benar-benar mengalami momentum komunikasi itu sendiri. Akan tetapi, setidaknya kita bisa “menculik” informasi dari sumber-sumber yang dianggap representatif –setidaknya representatif bagi kita yang beragama Islam. Dari Al-Qur’an (As-Syura 42:51) kita tahu bahwa Tuhan (Allah) berkomunikasi dengan manusia dengan tiga cara.
Pertama, dengan perantaraan wahyu. Sebagaimana disebutkan oleh para ulama tafsir, pengertian wahyu di sini adalah setara dengan apa yang kita pahami sebagai ilham, semacam bisikan yang muncul di dalam hati atau barangkali juga mimpi-mimpi yang benar (ar-ru’ya as-shadiqah). Dikisahkan, peristiwa seperti inilah yang dialami oleh Asiyah sebelum melahirkan Musa. Ia mendengar bisikan yang kemudian ia tahu berasal dari Tuhan. Sebaliknya Nabi Ibrahim berkomunikasi dengan Tuhan melalui mimpi, yang juga ilham, ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih puteranya Ismail.
Kedua, di belakang tabir. Metode komunikasi yang seperti inilah yang dialami oleh Nabi musa ketika dia “berbincang-bincang” dengan Allah di Tur Sina, seperti dilansir dalam An-Nisa’ ayat 164 : “Wa kallamallahu musa taklima”. Artinya, kurang lebih, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.
Ketiga, mengutus utusan. Dalam hal ini, Rasul tersebut adalah malaikat yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan pesan-Nya kepada Nabi (dan/atau Rasul). Lazimnya, sesuai dengan sistem akidah umum kita, malaikat yang dimaksud di sini adalah Jibril.
Ketiga metode inilah setidaknya yang dapat kita ketahui sebagai cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Di atas segalanya, seperti tercium dari ujung ayat yang sama, Tuhan sendirilah yang memilih bentuk komunikasi mana yang Dia kehendaki. Dari sini, sebenarnya kita sekali lagi tak akan pernah benar-benar mengetahui bagaimana sejatinya Tuhan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk-Nya.

Agama Ardhi : Tinjauan Kritis
Secara garis besar, agama dibedakan menjadi dua; agama samawi dan agama ardhi. Pada umumnya, agama samawi didefinisikan sebagai agama yang berdasarkan pada wahyu; bisaanya berupa kitab suci yang dibawa oleh seorang Nabi. Sebaliknya, agama ardhi dimengerti sebagai agama yang tidak memiliki akar langit (wahyu), meskipun “nabi” mereka datang dengan menggenggam kitab suci juga.
Penyebutan agama ardhi sebenarnya sangat riskan, karena hal ini mengindikasikan ketidak-otentikan sebuah agama. Kenapa kesan tidak otentik itu muncul? Sebab agama ardhi adalah agama yang diandaikan lahir di bumi, bukan berasal dari langit di mana Tuhan “bersemayam”. Dus, agama ardhi, sekali lagi kesannya, adalah agama hasil rekayasa manusia, “dibikin-bikin” oleh manusia. Sidharta kemudian dinilai tak lebih sebagai revisionis agama hindu dan kemudian menjelmakannya dalam bentuk agama baru; agama Budha. Zarathustra pun dituding sebagai pencipta agama majusi (Zoroaster). Sementara Konfusius dicap sebagai kreator agama Konghuchu.
Pertanyaannya kemudian, bukankah sangat mungkin “orang-orang agung” itu adalah nabi juga??? Toh, kita sendiri tidak bisa membuktikan bahwa mereka ternyata adalah sebaliknya…
Dalam terminologi agama samawi, Nabi atau Rasul adalah sosok yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya kepada manusia yang lain. Dalam hal ini Nabi adalah sosok-sosok yang diberi kemampuan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Hasil komunikasi ini terkenal dengan istilah wahyu, sementara proses komunikasi itu sendiri disebut dengan peristiwa pewahyuan. Diantara isi yang terpenting dari Risalah-Risalah wahyu tersebut, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, adalah tata cara penyembahan terhadap-Nya. Belakangan kita mengenal Risalah itu dengan sebutan kitab suci.
Dari sini, secara kasar kita bisa merumuskan beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebuah agama sehingga dia bisa masuk dalam kategori agama samawi :
1. Adanya Nabi / Rasul
2. Adanya proses pewahyuan (komunikasi antara Nabi/Rasul dengan Tuhan)
3. Adanya kitab suci (wujud riil dari peristiwa pewahyuan)
4. Adanya ajaran keagamaan

Merujuk pada kriteria ini, agama-agama yang bisaa kita sebut sebagai agama ardhi itu pun sesungguhnya bisa kita sebut sebagai agama samawi. Kecuali barangkali kriteria kedua, kriteria-kriteria tersebut di atas sebetulnya telah mereka penuhi. Anggap saja agama Budha memiliki nabi bernama Sidharta, kitab suci Weda dan ajaran-ajaran Budhisme.
Problem kita memang terletak pada kriteria yang kedua. Apakah Sidharta benar-benar pernah berkomunikasi dengan Tuhan? Mungkin pernah dan mungkin tidak. Akan tetapi, melihat bagaimana cara Tuhan berkomunikasi, maka sangat terbuka kemungkinan bahwa Sidharta dan “pendiri-pendiri” agama yang lain itu telah mengalami proses pewahyuan, dan karena itu sangat mungkin memanggilnya sebagai seorang Nabi (dalam pengertian agama samawi).
Argumentasinya adalah, pertama, sidharta dan pendiri-pendiri agama terkenal yang lain seperti majusi, sabian, hindu, dll hidup pada kurun sebelum kelahiran Muhammad. Dengan asumsi bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir dan penutup Risalah, maka sangat terbuka kemungkinan bahwa pendiri-pendiri agama tersebut adalah nabi juga. Orang boleh berkata bahwa Musailamah atau bahkan Lia Eden, orang yang mengaku sebagai nabi itu, bukanlah Nabi sebab pintu wahyu telah tertutup, tapi tidak buat Sidharta dan kawan-kawan.
Kedua, jika dugaan kenabian Sidharta dan kawan-kawan dibantah dengan alasan bahwa tidak ada bukti mereka pernah berkomunikasi dengan Tuhan, maka seharusnya kita juga mengatakan hal yang sama pada Nabi-nabi seperti Samuel, Daniel, dsb. Mereka ini tak terbukti pernah berkomunikasi dengan Tuhan, bukan? (bahkan kita tidak menemukan bukti-bukti tersebut dalam Al-Qur’an).
Setidaknya dengan dua argumentasi ini –yang setiap saat bisa ditambah dan/atau dikurangi, kita bisa meninjau lagi kenapa kita memerlukan pembedaan antara agama samawi dan ardhi. Menurut penulis, sebagai pedoman hidup, agama apapun seharusnya didudukkan pada posisi yang sama. Penulis curiga, dengan pembedaan agama ardhi maupun samawi sesungguhnya dimaksudkan untuk membunuh karakter, mengkerdilkan dan menciutkan ruang gerak agama-agama selain tiga agama besar (Islam, Kristen dan Yahudi). Maka, apakah pandangan yang tidak jujur tersebut masih sepatutnya dipelihara? Wallahu a’lam.
Ah… tapi bukankah…
Al-Khatha’ al-masyhur khairun min al-shawab al-mahjur
(Kesalahan yang populer lebih baik dari pada kebenaran yang tersisih)???

Agama Ardhi?, Kok Bisa Ya?
Fia

“Mengapa agama kita disebut agama samawi?”, tanyaku pada seorang dosen. Mungkin ini karena kebodohanku dan kemalasanku dalam membaca.
“Agama samawi ya agama yang berasal dari langit, memiliki kitab suci yang bersumber dari wahyu”.
“Lalu apa bedanya dengan agama ardhi?”
“Jelas beda, karena agama ardhi bisaanya muncul dari pemikiran seseorang atau biasa disebut meditasi yang menghasilkan juga ajaran-ajaran bagi pengikutnya, kemudian dibukukan”.
Agama samawi dianggap lebih benar dari agama ardhi. Ini hipotesis awal, mengapa? Tentunya bisa beragam jawabannya. Mulai dari pengikut agama samawi lebih mayoritas dari agama ardhi sampai kepada pemahaman bahwa yang datang dari langit tentu lebih istimewa daripada yang berasal dari bumi.
Padahal kalau dilihat lagi, masih banyak saja mereka yang percaya kepada agama ardhi, walaupun mungkin dipandang sebelah mata. Ya, ini masalah keyakinan. Siapa saja boleh dan berhak percaya kepada keyakinan yang dianggap paling benar. Walaupun terkadang tidak semua orang bisa bersikap objektif dalam keyakinannya, melainkan ada faktor-faktor awal yang telah mendoktrin mereka.
Tapi yang perlu diingat, agama samawi bisa saja menjadi agama ardhi saat sudah dicampuri oleh berbagai kepentingan, baik politik, ekonomi, dsb. Keserakahan manusia bisa merusak segalanya termasuk agama. Berapa ribu orang disesatkan dan berapa banyak lagi yang tersesat.
Menengahi berbagai realitas yang muncul, manusia akhirnya lebih memilih untuk saling menghormati agama masing-masing. Dengan kata lain, seperti yang dikatakan oleh salah satu dosen filsafat saya, sebaiknya kita memandang berbagai agama dengan pandangan sosiologis dan teologis.
Pada akhirnya saya punya kesimpulan yang sedikit berbeda. Saya menganggap perbedaan ini sebagai sunnatullah, hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya seperti apa. Karena jika diteruskan, akan timbul lagi pertanyaan-pertanyaan baru, mengapa Tuhan menjadikan orang-orang yang membawa risalah samawi dan ardhi? Atau mengapa pembawa risalah ardhi bisa berpikir sedemikian jauhnya? Bukankah Allah telah menyatakan akan menyesatkan atau memberi hidayah orang-orang yang dikehendaki-Nya.

AGAMA SAMAWI VIS A VIS AGAMA ARDLI
Nunun
Ada yang disebut agama ardli (agama bumi) karena berdasarkan sejarahnya ia bukan berasal dari langit. Atau dengan kata lain ia bukan berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah. Agama-agama yang termasuk dalam kategori ini menurut konsep teologi kita adalah Hindu, Budha, Konghucu, dan lain-lain.
Yang disebut agama samawi (agama langit) adalah agama yang menurut sejarah berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Rasul melalui perantara malaikat Jibril. Agama-agama yang termasuk dalam kategori ini kita kenal dengan nama Islam, Nasrani dan Yahudi.
Menurut hemat saya, wahyu merupakan bukti bahwa Allah memberikan pengetahuan tentang diri-Nya kepada manusia. Esensi wahyu adalah penguatan terhadap kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah. Kenapa ia bisa menjadi terma sentral untuk justifikasi sebuah klaim kebenaran? Jawabannya karena wahyu merupakan bukti utama dari sang pemilik kebenaran.
Hanya saja yang menjadi masalah adalah apakah agama yang tidak berdasarkan wahyu lantas menjadi agama yang salah? Atau agama yang berdasarkan wahyu mutlak benar meskipun pada perkembangannya oleh pemeluknya ia menjadi menyimpang dari wahyu?
Esensi dari beragama adalah bukan untuk merasa menjadi yang paling benar. Wahyu yang disampaikan Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia adalah sebagai bahan renungan dan pijakan sebelum bertindak. Sangat riskan sekali jika pengikut para Nabi dan Rasul lantas menjadikan wahyu untuk bergagah-gagahan, sok paling benar, paling pintar. Tidak demikian.
Tidak masalah jika ada yang membuat suatu persepsi sendiri tentang Tuhan tanpa wahyu, selama itu tidak merugikan dan tidak merusak tatanan moral yang ada. Karena yang berhak menilai benar atau tidak persepsi kita tentang Tuhan adalah Tuhan itu sendiri. Bukankah Allah memberi hidayah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya? Yang tidak boleh adalah merasa paling benar dengan dalih berpegang pada wahyu.
Dalam kapasitas sebagai seorang muslim, kita diharuskan berpegang teguh pada wahyu (Al Qur’an) yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Jelas diterangkan dalam Al Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah penutup nabi-nabi. Ini berarti bahwa wahyu yang disampaikan kepada para utusan-Nya di muka bumi sudah final. Jika ada orang sesudah nabi Muhammad mengaku mendapat wahyu dari Allah maka itu perlu dipertanyakan. Namun sekali lagi bukan untuk dicaci maki, bukan untuk dipersalahkan bahkan diteror.
Setiap agama memiliki dasar pijakan sendiri-sendiri. Kita tidak berhak mencap agama orang lain salah dan merasa agama kita yang paling benar. Kita punya wahyu yang disampaikan oleh Allah melalui Nabi Muhammad sebagai dasar kebenaran dalam agama kita. Namun agama lain mungkin juga punya wahyu sebagai dasar kebenaran dalam agama mereka. Lakum dinukum waliyadin.
Menghargai setiap perbedaan yang ada dalam hal apapun merupakan salah satu cara untuk beragama secara tulus. Jangan kita mengaku beragama tapi setiap hari dan setiap malam nilai-nilai luhur agama itu kita injak-injak atas nama wahyu lebih-lebih atas nama Tuhan. Wallahu a’lam.

ISLAM DAN FRAGMENTASI TEOLOGIS
Nunun
Manusia diciptakan tidak dalam satu format sosiokultural, tetapi dalam lingkungan beragam umat dengan ciri khasnya masing-masing. Ciri khas ini adalah pertanda bahwa Allah, Maha Pencipta, anti keseragaman, karena serba seragam dapat membuat manusia menjadi miskin wawasan dan kaku dalam pergaulan.
Celakanya keragaman ini kebanyakan tidak diresapi maknanya oleh sebagian besar umat Islam. Perbedaan cara pandang, system teologis, tata cara beribadah yang menimbulkan pertumpahan darah adalah fakta sejarah yang harus diakui.
Sistem teologi kita ternyata memang tidak harus ditafsirkan secara mentah-mentah. Wahyu yang tertulis dalam Al Quran pada akhirnya penafsirannya memang harus sesuai dengan konteks kekinian. Dengan begini benar adanya system kepercayaan ternyata diciptakan di bumi oleh manusia dengan segala lebih dan kurangnya, tidak diturunkan dalam paket lengkap dari langit.
Akan tetapi penafsiran yang berbeda karena beragamnya sudut pandang dalam beragama tidak perlu harus mengakibatkan pertumpahan darah. Yang harus diperhatikan adalah perlunya lebih mengedepankan sikap toleransi antar berbagai cara pandang tersebut. Dalam hal kemajemukan agama (pluralisme agama), Al Quran tampaknya berangkat lebih jauh. Tidak saja orang harus mengakui keragaman agama yang dipeluk oleh umat manusia, mereka yang tidak beragamapun harus punya tempat untuk melangsungkan hidupnya di bumi. Dalam masalah ini Al Quran ternyata lebih toleran dibandingkan dengan kebanyakan umat Islam : memusuhi kaum atheis. Al Quran selalu mengajak manusia untuk beriman karena beriman teramat penting bagi perjalanan hidupnya sampai akhirat, tetapi jika mereka tetap saja memilih untuk tidak beriman, apakah harus dihukum berdasarkan agama? Memang iman memberikan keamanan ontologis kepada manusia dalam pengembaraan hidupnya yang sarat dengan keguncangan dan tantangan, tetapi pertanyaannya tetap saja, jika seseorang merasa tidak memerlukan keamanan ontologis itu, mau diapakan? Tugas para nabi dan pengikutnya hanyalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan hari akhir dengan cara-cara beradab, dan jauh dari paksaan.
Lantas jika demikian, tentunya ayat 256 surat Al Baqarah bisa ditafsirkan:”tidak dapat sekali-sekali dipaksa seseorang dalam urusan iman” , karena jika seseorang memaksa orang lain untuk beriman sama dengan melawan Al Quran atau merasa lebih pintar dari Allah. Bukankah ini bisa dikatakan sebagai sebuah keangkuhan teologis yang tidak patut?
Kalaupun seandainya jika kebenaran itu telah gamblang, tetapi sebagian orang tetap memilih jalan yang sesat, itu semua menjadi urusan yang bersangkutan dengan Allah. Dengan kata lain hukuman dunia tidak berhak mengadilinya. Klaim merasa agama kita paling benar dan menganggap sesat agama lain tidak dibenarkan. Dalam kehidupan dunia, orang yang menurut anggapan kita tidak sesuai dengan ajaran agama kita, tidak perlu dikucilkan, diteror atau bahkan dibunuh, selama mereka mau menjaga pilar-pilar keharmonisan dalam kehidupan bersama. Hal ini karena masalah iman pada suatu kebenaran pada tingkatnya yang tertinggi adalah masalah pilihan. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 09/05/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: