Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Century

Yang membedakan Boediono, Sri Mulyani dan Warimin adalah Jusuf Kalla. Tentu saja, coba tengok dengan tak perlu lebih jeli, Boediono adalah penamaan khas manusia jawa. Semua yang berbau “o” pasti akan merujuk atau dirujukkan kepada identitas kultural jawa. Bukan Cuma Boediono, tetapi juga nama-nama beken semacam Soesilo Bambang Yudhoyono, Joko Suyanto, Sutanto, atau yang tidak sama sekali populer seperti Mulyono –tetangga penulis yang jualan bakso.Sri Mulyani juga idem. Nama Sri merupakan identitas kultural –dalam hal ini juga jawa. Konon, seorang dewi (atau dewa perempuan) yang menguasai soal padi-padian, bukan beras –sebab ini hak prerogatif Bulog, memiliki nama Sri. Ya, Dewi Sri, dan bedakan dari bintang film dari India yang berjuluk Srhi Devi.
Sedangkan Warimin menjadi jawa karena dia merasa jawa. Barangkali Warimin memang narsis, tetapi semoga tidak over sehingga ia menjadi Hitler, maka dia pun dengan kepercayadirian yang luar biasa menyabotase haknya untuk menjadi orang Jawa. Sebab, bagi Warimin, ada yang sakral dengan sebutan jawa. Dalam hal ini, Jawa yang dimaksud Warimin bukanlah Jawa sebagai identitas kultural atau kebangsaan, tetapi jawa sebagaimana pengucapan Ronggowarsito ketika dia berkata; “Wong jowo kari separo”, orang jawa tinggal sebagian. (Note; Menarik untuk dicatat, Ronggowarsito ditransfer ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Ranggawarsita, padahal orangnya sama. Tetapi kenapa Mulyono, tetangga penulis itu, ngotot dan bahkan marah-marah ketika disapa Mulyana. Ah, Boediono tak mungkin diralat menjadi Boediana kan?). Jadi, Warimin memang tak pernah menyoal status kebangsaan seseorang. Sebagai orang yang mengaku sebagai penganut Humanisme, Warimin sudah merasa puas dengan statusnya sebagai manusia. Ingat, Warimin dulunya adalah seekor kecoa.
Karena itulah Warimin tak mau mempermasalahkan kondisi Jusuf Kalla, yang dari namanya saja sudah nampak kalau dia bukan jawa. (Note; Dulu, Warimin bahkan sempat bertanya-tanya kenapa Kalla bernama Kalla, bukan menang. Usut punya usut, ternyata orang yang kerap disapa JK ini akhirnya kalah beneran di pentas pemilihan umum Presiden pada medio 2009). Tetapi tetap saja Kalla berbeda dari Boediono dan Sri Mulyani, terutama ketika selebritas ketiga tokoh republik ini dipertaruhkan di hadapan sidang Bail Out Bank Century. Kalla melihat bahwa yang terjadi pada Bank Century bukan lagi kebangkrutan sebuah bank seperti biasa, sehingga pemerintah sangat tak patut mengucurkan bantuan. Tidak, sebab ia kolaps bukan karena gertakan ekonomi yang pada saat itu disinyalir sangat rawan. Bank Century terpuruk karena dirampok pemiliknya sendiri, ujar Kalla. Maka kemudian dia memerintahkan untuk menangkap sang bangsat yang bernama Robert Tantular itu.Toh, Kalla termasuk satu dari sekian nama terkenal yang menilai bahwa rontoknya Bank Century, karena dia hanya Bank Gurem, tidak mungkin berdampak negatif pada industri keuangan secara umum. Dalam hal ini pandangan Kalla segendang sepenarian dengan pikiran pembesar –atau mantan pembesar– Bank Indonesia macam Anwar Nasution atau Burhanuddin Abdullah.
Lain Kalla lain pula Sri Mulyani dan Boediono. Keduanya sepakat bahwa keterpurukan sebuah bank, sekecil apapun dia, memberikan dampak yang buruk pada pasar keuangan. Contohnya, kata mereka berdua, adalah krisis ekonomi pada 1998. Ketika itu sekian banyak bank ambruk diterpa krisis. Bagi Bu Ani dan Pak Bud –sapaan akrab Sri Mulyani dan Boediono, pada mulanya Century memang bukan apa-apa, tetapi keadaan ini menjadi lain karena situasi yang berbeda. Ya, situasi krisis pada 2008 mampu membikin sakit yang dialami oleh sebuah bank menular pada bank-bank yang lain. Karena itulah keduanya kemudian setuju untuk mengalirkan dana segar, dengan harapan century mampu berdiri kembali, dan pada akhirnya, bank-bank lain pun tak perlu jatuh.
Kini jelas, perbedaan antara Boediono, Sri Mulyani dan Jusuf Kalla bukan pada domain kebangsaan atau identitas kultural, tetapi lebih pada penalaran ekonomi yang tak sepenuhnya sinkron. Jika perlu dilukis secara skematis, sikap terhadap Bank Century ada dua; (1) menolak Bail Out dan (2) mendukung Bail Out. Tak heran kalau kemudian arak-arakan di jalan pun terbelah menjadi dua juga. Sebagian mereka memang terdapat yang mendukung Bail Out, tetapi sebagian yang lain menolak. Tetapi sebetulnya ada massa yang lebih besar, yakni segolongan besar orang yang berteriak “tuntaskan kasus century, penjarakan orang itu dan manusia ini”, tanpa harus tahu duduk soalnya. Barangkali yang terakhir ini memang hanya bertugas sebagai wakil dari nurani; dari rasa keadilan; suara orang yang frustasi sebab kehilangan uang. Tetapi ini sangat wajar sebab uang yang hilang mencapai jumlah triliunan.
Nah, di sinilah pangkal soal sebenarnya, benarkah ada uang rakyat yang hilang? Betulkah kucuran dana buat Bank Century itu merugikan rakyat? Bukankah sangat mungkin, Bail Out Bank Century seharusnya diartikan secara terbalik, bahwa ia dipilih untuk menyelamatkan rakyat dari mudhorot krisis ekonomi yang lebih besar?
Maka lantas sekumpulan manusia terhormat yang duduk di balik senayan pun turun gunung. Sebetulnya, Warimin agak curiga dengan “niat baik” para anggota DPR itu. OK, kita mungkin bisa menganggap motifasi para wakil rakyat dalam membentuk sebuah panitia khusus, yang populer dengan nama Pansus Angket Bank Century ini, adalah semacam gayung bersambut atas aspirasi rakyat. Akan tetapi, masih menurut Warimin, sambutan atas tuntutan rakyat tersebut bisa bermakna dobel. Bahwa, pertama, desakan dari arus bawah untuk segera menyelesaikan kasus Century –sebetulnya desakan tersebut tidak spesifik mengena ke DPR- dirasakan juga oleh para anggota Dewan yang terhormat, sehingga sangat tidak etis apabila mereka, yang justru dirujuk sebagai wakil rakyat itu, tidak responsif. Citra sebagai perwakilan dari rakyat, bukan sekedar duta dari partai, harus tidak boleh anjlok. Nah, dengan menyambut dan, kenyataannya, mengambil alih suara rakyat, citra DPR pun tidak lantas menjadi cemooh. Dalam pemaknaan ini, Pansus Century tidak lebih dari sekedar keterpaksaan.
Kedua, hampir sama meski tak sepenuhnya serupa, DPR memanfaatkan momentum Century sebagai upaya mendongkel status hero. Pikirnya, dengan menggayungsambuti tuntutan rakyat, mereka lantas dielukan sebagai penyelamat. Indikator ini sangat jelas, betapa inisiator Angket pun dipuja-puji laiknya Superman. Rakyat pun kemudian terjebak berpikir, “Oh, ternyata di Senayan pun masih ada yang benar-benar mikirin rakyat”.
Ketiga, kecurigaan yang lazim diisukan oleh media massa, bahwa di dalam institusi legislatif terdapat kelompok oposisi yang memanfaatkan kasus Century untuk tujuan menjungkalkan Pemerintah. Lalu meloncerlah gossip tentang pemakzulan alias impeachment, hingga pun Presiden kemudian direpotkan olehnya. Belakangan, langkah-langkah sang eksekutif terlihat semakin tidak rasional. Bak anak kecil, ia mengadu dalam beberapa banyak pidato, mengaku sedang diserang oleh segerombol penyamun yang hendak membajak negara ini –sesuatu yang juga ia lakukan ketika pada hari anti korupsi sedunia ia menggembosi rencana-rencana demonstrasi yang sedianya akan digelar besar-besaran.
Alhasil, Warimin yakin, panitia angket yang tak semuanya paham ekonomi dan telah berkali-kali mendatangkan saksi itu akan kerepotan merumuskan kesimpulan. Argumentasi meyakinkan dari Sri Mulyani dan Boediono, disokong oleh keterangan dari pihak-pihak terkait dari Bank Indonesia (BI) dan Lembaga penjamin Simpanan (LPS), berhadapan dengan retorika Jusuf Kalla ditambah para mantan pembesar BI. Belum lagi saksi-saksi ahli yang didatangkan juga tidak selamanya memiliki kesamaan visi. Faishal Basri, misalnya, bertentangan dengan Ihsanuddin Noersy dan atau Rizal Ramli.
Orientasi Pansus juga semakin kabur. Dari investigasi untuk melucuti dugaan kasus korupsi dan penghilangan uang negara sampai pada perdebatan, yang tidak lebih dari sekedar menyalahkan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kebijakan, soal ekonomi. Kalau begitu, kalau dugaan “pencurian” uang negara itu tak terbukti dan pansus beralih menjadi pihak yang sekedar mencari celah kesalahan, pikir Warimin, kenapa tidak mereka saja (Anggota DPR) yang menjadi menteri keuangan dan atau Gubernur BI?
Ujung-ujungnya, dana miliaran rupiah yang digelontorkan untuk mendanai kegiatan pansus berujung pada kesimpulan yang nol. Euphoria Pansus Century, termasuk akrobat-akrobat politis lucu yang mereka tampakkan secara vulgar, belum selesai ketika beberapa pihak meragukan status uang bail out itu kepunyaan negara apa bukan. Jusuf Kalla berkata “Ya, Uang negara, lha wong modal LPS itu awalnya dari negara”. Yang lain menyebut bahwa meskipun modalnya dari negara, tetapi karena LPS adalah sebuah badan hukum atau lazim disebut yayasan, maka keuangannya pun tidak lagi bisa disebut sebagai milik negara. Semakin rancu, semakin kabur.
Kalau argumentasi yang terakhir betul, maka harapan menyulap kasus century menjadi sebuah dakwaan tindak pidana korupsi, gugur sudah. Negara tidak dirugikan sesuatu apa. Akan tetapi, beberapa orang yang demikian gandrungnya dengan aktifisme keantikorupsian ngotot bahwa tetap saja ada yang dirugikan dalam negara. Apa itu? Perekonomian.
Absurd, bahkan terkesan mengada-ada. Padahal kita tahu, para pendukung bail out Century menjadikan keberhasilan ekonomi sebagai salah satu basis argumentasi. Dus, juga kita tahu, bahkan perekonomian negara pun tak dibikin rugi, malah katanya semakin diperhitungkan dipentas global.
Jadi, apa sebetulnya makhluk bernama kasus Century ini?
Bagi Warimin, ia adalah pertama-tama wajah politik Indonesia, yang gandrung akan politisasi. Century adalah sebuah cerita ketika perlombaan perebutan kekuasaan ditampakkan dengan sangat telanjang; pihak penguasa yang resisten atau bertahan berhadapan dengan oposisi yang terus tak sabar untuk segera duduk di pusat. Sebuah dinamika demokrasi yang sangat wajar, sebetulnya. Namun, akan halnya Warimin, ia semakin muak. Betapa tidak, ternyata semua manusia Indonesia telah tak mampu memikirkan nasib orang lain. Betapa kita hanya bisa mementingkan birahi diri sendiri.
Ah, Warimin juga mau, maaf, “Onani”…

Ahad, 23 Januari 2009
Saat malam beranjak sepi
Kala dini tak terdengar lagi suara ngaji
Rumah Curiga Al-Lathifiyah, Palembang

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 09/05/2010 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: