Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Rendra

Berjumpa Rendra sedang menenggak arak dan mengunyah babi panggang? alangkah membuat cengang. Tapi demikianlah kenyataannya. Warimin menemukan momentum tersebut di sebuah kamar tertutup, sebuah ruangan yang lantainya terbikin dari sungai; mata air yang memabukkan, pancaran minuman keras. Rendra hanya memerlukan sedikit energi untuk menggerakkan lengan; menciduk dan kemudian meminumnya sampai mabuk. Atau itu juga tidak perlu, sebab kiri-kanan Rendra kini telah dipenuhi wanita-wanita molek yang siap melayaninya untuk apa saja.
Pagi itu, ribuan orang berkumpul memenuhi halaman sebuah rumah unik di bilangan Depok Jakarta. Semua berbalut hitam. Sekilas nampak Taufik Ismail dan Mustafa Bisri. Warimin sendiri tegak berdampingan dengan Goenawan Mohammad, berhadapan dengan sesosok manusia yang kini tergolek kaku. Wajah yang pucat, yang semasa hidupnya menjadi tanda dari setiap kehadiran seorang bernama WS. Rendra.
Beberapa minggu terakhir ini memang penuh dengan perkabungan. Kurang dari sebulan yang lalu, KH. Taufiqurrahman Fattah pergi meninggalkan kita semua, disusul –tak kurang dari beberapa minggu sesudahnya- oleh ibunda beliau tercinta, Ibu Nyai Hj. Musyarafah Fattah. Kedua orang ini merupakan tonggak penyangga tradisi Islam di Pesantren Tambak Beras Jombang.
Kemarin, 3 hari yang lalu, kita diledakkan oleh kabar kematian Mbah Surip –Pengamen dan seniman tulen yang dianggap oleh media sebagai artis itu. Kita semua yang biasa diajaknya tertawa mendadak menderaikan air mata. Siapa lagi mampu membikin kita tertawa? (Sadar atau tidak, Mbah Surip telah sangat berjasa meletakkan dirinya sendiri sebagai obyek tertawaan dari hampir keseluruhan masyarakat Indonesia, yang telah seperti tidak mampu menertawakan dirinya sendiri. Bagi Warimin, Mbah Surip adalah martir)
Malam tadi, 06 Agustus 2009 pukul 22.05, giliran WS. Rendra menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok.
Kini, Warimin berhadap-hadapan dengan sebatang jenazah. Meski begitu, dengan kemampuannya membelah ruang dan waktu, Warimin dapat bertemu dengan Rendra. Nun jauh di sana, dijumpainya Rendra sedang mabuk memegang paha babi panggang ditemani bidadari-bidadari surga.
Ya, Rendra –dan juga Mbah Surip yang ditemuinya sedang menghisap ganja¬ di ruangan yang lain pada kompleks yang sama– adalah sosok-sosok syahid budaya, dan karena itu layak menghuni surga.
Inilah alasan kenapa pada saat semua orang meratapi kepergian Rendra, Warimin malah tersenyum-senyum sendiri. Baginya, acara tahlilan yang diadakan oleh keluarga Rendra malam hari nanti, bukan lagi berarti ekspresi kesedihan. Warimin menyebutnya dengan pesta dan/atau syukuran.
Marhaban, ya Rendra.
Gemakan sajak-sajakmu ke seluruh penjuru surga.

Villa Al-Lathifiyyah
Palembang, 07 Agustus 2009
Tengah malam
Kutertawakan kesedihanku

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: