Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Rambut Gimbal

>Warimin selalu terkesan dengan rambut gimbal. Tidak tahu mengapa, rambut gimbal menyedot kesadarannya pada angan-angan tentang kebebasan (freedom) dan, tentu saja, pemberontakan –yang diyakini sebagai media dan/atau alat perebut kebebasan itu sendiri. Simbol rambut gimbal, bagi Warimin, tak kurang tak lebih adalah penanda dari kebebasan dalam praktek, bukan sekedar teori belaka. Rambut gimbal bukanlah politik praktis yang nonsens, sebab rambut gimbal juga berarti musik Reggae, genre musik yang dianggit Bob Marley.
Tengoklah sepetik syair sang Maestro;
Get Up Stand Up… Get Up Stand Up…
Ayo bangun, ayo tegak berdiri…
Warimin pertama kali berkenalan dengan syair heroik ini di Jogja. Di pinggiran kali code itu beberapa orang pengamen –multi gender, laki-laki dan perempuan- melantunkannya dalam suasana koor. Petikan gitar yang dipenuhi suara bass mendesak semangat Warimin. Tak jelas mengapa, nada-nada yang sepintas seperti lagu orang sakaw itu menohok kesadarannya. Sepulang dari code, Warimin bergegas mengunduh lagu itu di internet. Hampir secara bersamaan, seorang teman menyodorkan Reggae yang lain, hanya kali ini beda; berasal dari Band Lokal. Warimin pun bersalaman dengan Coconut Trees. Tapi kebetulan Warimin tidak tergugah dengan Welcome To My Paradise, melainkan sebuah lagu lama yang sampai sekarang ia tak paham judulnya.
Aku ingin nyanyikan lagu
Bagi orang-orang yang tertindas
Hidup di alam bebas
Dengan jiwa yang terpapas
….
Kenapa harus takut pada matahari
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari
Nyalakan api dalam hati, usiri segala gelapnya
Warimin agaknya ragu-ragu, apakah ketertarikannya kepada rambut gimbal dan reggae hanya karena syair-syair heroik belaka, seperti ia juga sangat menggandrungi lagu Gie karya Eross Candra –yang gak ada Reggae-Reggaenya sama sekali. Belakangan ia berteori, ketertarikannya kepada syair-syair heroik adalah ketertarikan logis, sebentuk ketertarikan yang ditimpulkan oleh magnet ide-ide sosialis di dalam batok kepalanya. Hal ini bisa menjelaskan kenapa ia lebih menyukai Redemption song-nya Bob Marley jauh di atas lagu-lagu yang lain.
Sebaliknya, musik Reggae dan Rambut Gimbal baginya menyuguhkan kenikmatan yang estetis. Ketika ditanya, ”kenapa kamu dengerin musik begituan”, misalnya, hampir dipastikan Warimin tak mampu segera menjawab. Namun begitu, tidak dapat dipungkirinya, kedua hal ini seringkali tidak terbedakan, bergumul menjadi satu kesatuan. Sehingga tak jarang Warimin lantang membalas pertanyaan tersebut dengan, ”Menjadi Rastafarian –kelompok pecinta Bob Marley dan Musik Reggae- berarti memberontak sistem sosial yang dominan tetapi menindas, Rambut gimbal adalah perlawanan sekaligus pembebasan”.
Nuansa dan perspektif ini pula yang Warimin pakai ketika ia mendengar –dan membaca- sebuah lagu tak gendong, yang kata media menjadi populer sebab ukurannya yang ekonomis (baca; simpel).
Tak gendong kemana-mana…
Tak gendong kemana-mana…
Enak dong, mantep dong
Daripada kamu naik pesawat, kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo mau kemana…
Menurut pikiran Warimin –disebut pikiran karena kita sedang memasuki wilayah teoritis, lagu ini bukanlah lagu biasa, yang digubah dengan asal saja oleh penciptanya. Berkebalikan dari itu, lagu ini dimulai dari riwayat perenungan yang amat dalam. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa muatan konotatif lagu ini terdiri dari berjubel-jubel pengalaman pahit (Ingat, lagu ini dibawakan oleh seorang penganut Reggae, dimana ia menjadi minoritas di kancah persenian Indonesia, selain juga amat dekat dengan komunitas jalanan yang tak mewah). Singkatnya, lagu tak gendong adalah cermin dari empati, persamaan dan perlawanan sekaligus.
Bayangkan seorang Mbah Surip, penggubah sekalian penyanyi lagu tersebut, yang kita tahu amat sepuh dan ringkih itu mau meng-gendong kita kemana-mana. ”Betapa ia seperti tak pernah memikirkan dirinya sendiri”, sergah Warimin. Point pertama, Mbah Surip mengingatkan kita lagi kepada segenap arti dari berbagi, sama rasa sama rata. Agak komunis, memang!!!
Namun kenapa harus dengan gendong-an, dan bukan yang lain, becak misalnya? Dan kenapa pula gendong-an harus dikontraskan dengan pesawat dan/atau taxi, bukan bus kota? Sebab, sebagai yang tak berpunya dan bahkan tak punya apa-apa, tak ada alat transportasi lagi kecuali kaki, dengan cara di-gendong. Dan karena Pesawat dan Taxi adalah tumpangan kelas bonafite yang tak mungkin dijangkau oleh manusia-manusia kelas bawah, sehingga lagu tak gendong lebih relevan jika disebut sebagai lagu keprihatinan; Syair Protes.
Di sinilah uniknya Reggae dan Komunitas Rastafaria. Point kedua, Sebuah protes tak melulu harus diungkapkan dengan meradang-radang. Sebuah kekecewaan bisa juga ditunjukkan dengan enjoy, santai atau mungkin tertawa lepas. Kepala manggut-manggut dan tubuh menari-nari.
Perlawanan yang menghibur. Sebungkus satire.
Setiap kali mendengar Reggae, kepala Warimin juga manggut-manggut, tubuhnya berguncang-guncang, akan tetapi batinnya meratap. Batin yang prihatin, bagi Warimin, adalah sebongkah bara yang membakar kita untuk segera bangkit dari kejatuhan. Spirit Reggae selalu mengingatkan Warimin untuk, Mengutip Taufiq Ismail, ”Kita harus, berjalan terus, karena berhenti atau mundur, berarti hancur”.
Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangun, tidur lagi
Bacalah syair ini sebagai satir, dan kemudian tertawalah bersama Mbah Surip yang berambut gimbal. Hwahahahaha.
Warimin tersedu. Bukan karena apa-apa. Ia hanya meratapi dirinya yang dilarang untuk berambut gimbal. (Ah, bukankah itu cuma simbol belaka, sedangkan engkau harus mereguk spirit-nya?)

Villa Al-Lathifiyyah
Palembang, 06 Agustus 2009
(Dua hari setelah Mbah Surip wafat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: