Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Orde Lupa

Warimin adalah, dulunya, seekor kecoa. Anda tidak lupa, kan? Semoga tidak. Tetapi, siapa atau apakah sesungguhnya Warimin ini? Darimana dan bagaimanakah latar belakangnya? Tidak, anda telah lalai. Anda lupa siapa Warimin, dari mana asalnya, dan bagaimana latar belakangnya. Karena itulah Penulis berinisiatif untuk mendongeng lagi, mengingatkannya kembali kepada anda semua yang barangkali saja telah tertular sebuah wabah populer bernama Syndrome Lupa.
Demikianlah faktanya:
“Warimin terlahir sebagai seekor Kecoa. Seekor kecoa yang alangkah aneh dan tidak lazim. Jika umumnya kulit kecoa berwarna cokelat, maka tidak bagi Warimin yang tubuhnya ternyata tidak berwarna sama dengan komunitasnya tersebut; dia malah ditakdirkan untuk menyandang warna hijau. (Note; Penulis agak kerepotan membahasakan apakah sesungguhnya yang membangun tubuh kecoa; apakah kulit ataukah bulu atawa justru sayap? Entahlah, dan penulis memilih kata kulit dengan harapan pilihan ini juga anda sepakati. Bukankah, seperti kata ulama-ulama pragmatis Amerika dan pada gilirannya juga post-strukturalis Perancis, ilmu dan/atau pengetahuan tidak lebih dari konsensus-konsensus? Kesepakatan-kesepakatan belaka?).
Di sinilah akar perkaranya; warna kulit yang berbeda. Warimin, yang pada saat itu masih terkenal dengan panggilan kecoa hijau, tersingkir dari sosialita masyarakatnya, pergaulan bersama di tengah lingkungannya. Dia merasa terasing, merasa disingkirkan, hingga pada suatu ketika dia bertemu dengan sosok tetapa tua dari bangsa kecoa juga.
Tetapa yang amat renta, namun begitu bijaksana. Sampai-sampai, dalam perjumpaan yang relatif singkat itu, Warimin seperti menemukan dirinya sendiri pada kecoa tua itu; dia bertemu dengan teman, bersua dengan sahabat. Tetapa yang tidak lagi, seperti tetangga-tetangganya, mempersoalkan warna kulitnya yang hijau.
Tetapa itu berkulit cokelat, hanya saja mengenakan jubah berwarna hijau -satu hal yang menumbuhkan kesan sama dengan Warimin. Di kebun salak, di tempat Warimin biasa menyendiri, sang Tetapa mengajarinya sebuah rahasia; ilmu alih rupa. Sebuah keterampilan teknis yang dipercaya hanya dimiliki oleh orang-orang khusus. Sebuah keterampilan teknis, ketika seekor kecoa pun bisa beralih rupa menjadi manusia, mampu berubah menjadi wujud apapun sekehendaknya.
Perjumpaan itu sendiri mengubah Warimin, yang pada waktu itu masih berjuluk Kecoa Hijau, menjadi Warimin yang sekarang. Warimin adalah nama manusia yang dia pilih, diantara seabrek pilihan nama lain yang lebih “berkelas”, seperti nama-nama teman manusia yang dikenalnya kelak; Bill Gate yang jadi Billy, Jonathan Frizie atau disebut Jonny, dan lain sebagainya. Kecoa Hijau berani tidak populer dengan memilih Warimin –disapa “Min”, sebuah nama yang baginya bernuansa perlawanan terhadap Barat, sebab pada dirinya sendiri nama itu sungguh oriental.
Warimin, seorang manusia yang mulanya adalah seekor kecoa, kini bergumul dengan manusia yang lain dan kronik-kronik kemanusiaan yang mereka hadapi. Warimin “bersetubuh” dengan semua yang dikerjakan manusia, yang dipikirkan, bahkan juga hal-hal yang menjadi impian mereka. Sehingga kemudian Warimin kehilangan kemampuannya untuk beralih rupa menjadi apa saja. Dia telah tak mampu menjadi semut, lemari, apel, dan yang lain. Dia terjebak di dalam wadag manusia. Dia tak lagi bisa kembali ke wujud asalnya yang kecoa.
Warimin, kini, adalah manusia.”
Fakta sudah berkata, akan tetapi Warimin tak pernah melupakan masa lalunya. Warimin menolak dijangkiti syndrome lupa. Warimin ingat benar bahwa meskipun sekarang dirinya adalah manusia, dia tak mungkin lepas dari unsur kekecoaan. Dia sadar, meski bagaimanapun dia menolak, kekecoaannya adalah hal yang kemudian membedakan dirinya dari kelompok manusia yang lain. Takdir itu tiba-tiba saja mendarah di dalam nadinya.
Ya, seperti saat dia masih kecoa, Warimin tetap sosok yang berbeda dari manusia-manusia yang lain. Perbedaan ini asasi, karena Warimin bukanlah manusia utuh, melainkan kecoa yang terjebak menjadi “manusia jadi-jadian”.
Perbedaan ini pula yang melandasi kelainan pikiran-pikirannya –tanpa melupakan banyaknya kesamaan yang ada, tentunya. Warimin menanggapi segala sesuatu dengan caranya sendiri sehingga tak jarang pandangan-pandangannya bergesekan dan bahkan bertolak belakang dari pola pandang umum. Sudut pandang yang berbeda ini pula yang dipakainya untuk meneropong persoalan yang sedang berkecamuk di negerinya, di Republik Indonesia, menyangkut konflik antara Cicak melawan Buaya (KPK melawan Polisi; keduanya aparat negara).
Setelah konflik meruncing, dan setelah kuku-kuku cicak hampir berhasil menusuk ekor, bukan leher buaya, arah perdebatan mulai mencair (Note; kuku cicak semakin tajam dengan maraknya dukungan masyarakat yang melihat konflik ini sebagai rekayasa yang disengaja oleh pihak buaya). Setelah common sense -akal sehat?- pemirsa media massa melihatnya sebagai upaya menguliti tubuh cicak, selanjutnya “buaya memang hendak melumat cicak”. Dan wacana pun bergulir sedemikian aneh, ketika mata pembaca berita tiba-tiba melirik sinis kepada dua cicak Candra Hamzah dan Bibit Samat Rianto. Para pendengar kabar pun bertanya; siapa sesungguhnya pelaku rekayasa? Oknum cicak ataukah oknum buaya? (Note; lihatlah pergeseran wacana yang terjadi; dari Cicak Vs Buaya yang berarti institusi, menjadi Oknum Cicak vis a vis Oknum Buaya yang maknanya individual. Bukankah ini aneh? Bukankah telah terjadi pengkaburan esensi? Entahlah!).
Lebih jauh, ada yang bertanya, benarkah memang ada rekayasa?
Ah, kita semua memang sedang dilanda gejala Syndrome Lupa. Demi mengikuti bombardir pewacanaan yang dibikin –semoga bukan dibuat-buat– oleh media, kita lantas melupakan apa yang telah kita perbuat kemarin. Seminggu yang lampau, saat kita menghujat buaya dan memenangkan cicak dalam pengadilan jalanan. Bagaimana sekarang, apakah kita masih mendukung Bibit Samat dan Chandra Hamzah?
Sikap Warimin jelas, “Tidak!!!”. Lalu ketika ditanya, apakah hal itu berarti dia berpihak pada polisi? “Juga Tidak”, tandas Warimin. Kalau begitu, sebenarnya Warimin menolak siapa?
“Saya bermusuhan dengan Orde Lupa”, katanya. Yang dimaksud dengan Orde Lupa oleh Warimin adalah setiap kekuasaan yang berusaha menyembunyikan keburukan dan kejahatan-kejahatannya dengan cara membuat rakyat lupa atas dosa-dosa yang telah diperbuat penguasa. Orde Lama adalah Orde Lupa ketika Sang Presiden memprioritaskan politik mercusuar –politik chauvinistic yang tidak berbeda jauh dari fasisme; Nasionalisme Indonesia berubah menjadi alat represi terhadap musuh-musuhnya yang adalah “pihak asing” dan anak negeri sendiri, sehingga angka inflasi ekonomi naik mencapai enam ratus persen. Rakyat diajak melupakan dirinya sendiri melalui slogan-slogan kosong Anti-Imperialisme, Ganyang Malaysia, dll. Semangat kebangsaan terus dipompa, dan dengan begitu rakyat lupa akan perutnya yang lapar atau rumahnya yang roboh, sementara istana Negara dipenuhi dansa.
Orde Baru adalah juga Orde Lupa saat kebijakan yang mementingkan stabilitas, dan dengan demikian keamanan bagi investor asing, membungkam suara-suara kritis dengan senapan, sepatu lars dan bui. Tidak ada kebebasan untuk bersuara. Semua-mua dibungkam, dan karena itulah rakyat lupa akan keterbelakangannya sendiri, dibikin lupa oleh janji pembangunan dan janji pemerataan, sehingga terbongkar; ternyata ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir orang terdekat birokrasi.
Singkat kata, menurut Warimin, Orde yang hendak diciptakan oleh rezim penguasa yang sekarang adalah juga Orde Lupa. Bahwa, setiap Orde Lupa senantiasa menslogankan hal-hal kosong, itu tak perlu dipertanyakan lagi. Bedanya adalah setiap Orde Lupa memakai cara-cara yang tidak sama untuk membikin rakyat melupakan semuanya, dengan kata lain menjadi terlena.
Warimin menduga bahwa terdapat kecenderungan absolutisme pada pola-pola pemerintahan yang sekarang, sesuatu yang sama yang dulu kita temukan pada rezim Orde Baru. (Note; lihatlah, misalnya, hampir keseluruhan pidato Bapak Presiden selalu dibubuhi dengan kata “Saya”, dan celakanya bukan “Kami”. Ambil contoh, “Saya senang menteri ini sudah melakukan itu”, “Saya suka”, “Saya berjanji”, dst. Dus, seperti ada gelagat pemberhalaan diri, atau bisa jadi malah penobatan diri sendiri sebagai Raja-Presiden. Sementara, di pihak lain, para loyalis presiden telah benar-benar mendefinisikan kedudukannya sebagai hamba dari sang Raja. Mereka hanya harus berpikir “Asal Bapak Jangan Marah”. Mereka, dan kebanyakan rakyat juga, seperti disihir oleh pesona “kekuasaan yang santun” dari Sang Raja-Presiden). Jika penguasa Orde Baru mempraktekkan bentuk-bentuk intervensi yang vulgar dengan umpamanya senjata, maka Orde kekuasaan sekarang lebih menekankan diri pada intervensi lunak. Kongkritnya adalah dengan mengaduk-aduk media massa, alias membikin mereka kocar-kacir dalam mengejar berita. Singkatnya, penguasa yang sekarang ingin membuktikan dirinya sebagai penguasa wacana sekaligus. (Note; pelarangan menggunakan terma cicak dan buaya adalah salah satu bukti paling vulgar bahwa penguasa hendak menguasai wacana media).
Dengan demikian, kesimpang siuran kabar menjadi sesuatu yang menarik, sebab ia menimbulkan kontroversi dan dengan demikian diminati pemirsa, pembaca maupun pendengar. Hal ini, bagi Warimin, sepertinya telah sangat disadari oleh rezim yang sekarang. Warimin bertanya, kenapa akhir-akhir ini sering lahir kontroversi, terutama hal itu muncul sesaat sesudah pemerintah disinggung oleh kritik? Jawabnya terang, karena pemerintah memang mengalami ketersinggungan.
Baiklah kita cari sample. Isu tentang keterlibatan Wakil Presiden dalam kasus korupsi Bank Century, yang menghasilkan tuntutan mundur kepadanya, dibungkam dengan wacana ceremony pengangkatan menteri. Namun ternyata pilihan Presiden atas menteri-menterinya dirasa kurang proporsional, sehingga beberapa menteri pun ditolak dan bahkan sebagian daerah menuntut agar putera-puteranya ada yang diangkat menjadi menteri. Muncullah kontroversi cicak melawan buaya.
Dengan modus menguasai media massa sedemikian rupa, massa rakyat –yang sebagian besarnya adalah konsumen dan bukan produsen berita– dibikin lupa bahkan atas tuntutan-tuntutan mereka sendiri. Mereka lupa telah menuntut apa beberapa hari yang lalu, sementara isu-isu baru membuatnya semakin mengendap atau bahkan hilang dari kesadaran.
Warimin percaya bahwa media tidak semata-mata independent ketika memilih isu untuk mereka angkat. Ada rantai birokrasi yang ujung-ujungnya memihak kepada kepentingan penguasa. Jika tidak begitu, maka tentunya isu-isu tersebut memang telah dirancang secara langsung oleh penguasa. Diciptakanlah satu skenario tentang kerusuhan, konflik, pertikaian, perdebatan atau yang lain. Di tengah-tengah chaos tersebut lantas muncul seorang hero penyelamat yang tak lain tak bukan adalah presiden itu sendiri. Sosok Presiden yang bermaksud menjadi raja, yang segala titahnya harus dipatuhi dan didengar.
Warimin berkata, “Maksud dari semua ini sebenarnya cukup simpel. Dengan membuktikan bahwa dirinya, dan hanya dirinya, penuh dengan prestasi, Presiden hendak mengambil hati rakyatnya dengan. Setelah itu, rakyat pun berbondong-bondong untuk mempercayainya. Jika sudah begini, akibatnya sangat fatal. Bahwa Presiden dan rantai Birokrasi di bawahnya akan bertindak seenak udel belaka.” (Note; maka mestinya kita harus takut jika rezim sekarang ini benar-benar didukung apalagi dicintai oleh hampir separuh dari rakyat Indonesia. Sebab cinta dan kekaguman akan melahirkan irasionalitas, sesuatu yang tidak disyaratkan dalam Negara demokratis yang membutuhkan kontrol langsung dari rakyat. Sebab cinta dan kekaguman terhadap pemerintah berarti kita telah terlibat ke dalam Orde Lupa).
Jadi, apakah ada rekayasa atas konflik cicak dan buaya?
Warimin menjawab, “Ada!!!”. Siapa yang memprakarsainya? “Sebuah Orde Lupa”. Siapakah sesungguhnya mereka? “Entahlah, saya sendiri lupa siapa yang menjadi pemimpin saya sekarang!!!”.

Subuh, 8 Nopember 2009
Rumah Al-Lathifiyyah
(aku tak merasakan kedamaiannya lagi)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: