Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kriminalisasi

Pada dasarnya, tidak ada heteroginitas dalam globalisme. Segalanya homogen, meski tampilan tampak sangat plural. Jargon-jargon macam kebebasan, keragaman, pluralisme dan lain-lain hanya mungkin dinilai sebagai nol besar. Setelah kapitalisme, gumam para filsuf futurolog pada suatu saat, yang datang kemudian adalah globalisasi, ketika dunia seperti menciut menjadi sebatas kampung; dusun global. Dengan demikian, karena ruang bukan lagi kendala untuk mewujudkan kolonialisme, siapapun yang punya “kuasa” akhirnya berhak untuk menjajakan -apa bedanya dengan menjajah? Dan dari sudut mana pula kita bisa melihatnya sebagai lain dari memaksa?- produk wacana yang kelak menjadi makin seragam dari satu ke lain kepala manusia. (Heran, kenapa manusia selalu asyik dengan tempurungnya sendiri?)
Maka berbahagialah, mereka yang tak sempat tersentuh dan bersentuhan dengan informasi (barangkali juga listrik dan televisi, seperti dalam Bilangan Fu-nya Ayu Utami). Sebab hanya dengan beginilah mereka akan lepas dari jebakan reduksi dan homogenisasi opini, tak perlu ber-pening terlibat dalam apa yang disebut dengan perang wacana (psy-war). Karena sesungguhnya tak pernah ada perang, sebab pemenang telah ditentukan. Seperti kata Foucault, kebalikan dari Bacon, “Kekuasaan adalah pengetahuan”. Siapa ber-kuasa, dialah pemegang kunci dominasi -dan barangkali juga hegemoni, sebagaimana Gramsci- wacana “tahu” manusia.
Penguasa informasi –sosok yang mungkin tak pernah personal, dia atau mereka atau itulah yang mengantongi kunci.
Karenanya, pikir Warimin, kita tidak perlu repot terlibat dalam perdebatan antara KPK vis a vis Polisi. Pertarungan cicak melawan buaya (lihatlah, kenapa penyebutannya tidak boleh dibalik; Buaya melawan cicak, misalnya? Bagi Warimin, ini seperti soal makna konotatif dari bahasa, sehingga protagon harus selalu diletakkan di depan, agar ada penekanan terhadap tokoh utama. Juga tengoklah, kenapa yang dipilih adalah cicak, dan kenapa pula buaya, meski kita tahu keduanya tergolong jenis reptil juga? Kenapa tidak komodo melawan buaya saja? Anda, yang tentu lebih hebat daripada Warimin, bisa menjawabnya sendiri). Kita tidak akan memperoleh apapun di sini, selain bahwa kita semakin sangsi. Cicak mungkin benar, dan buaya bisa saja salah, setelah mendadak media-media kita -ataukah memang ada penguasa wacana di balik lakon mereka?, menelurkan istilah “Kriminalisasi”.
Secara gampangan, Warimin mengartikan istilah yang relatif baru ini dengan “pengkriminalan”, alias membikin seseorang yang semula bersih menjadi berstatuskan kriminal. Bandi bukan siapa-siapa, sebelum kemudian ditangkap polisi karena maling ayam. Perbuatan Bandi masuk dalam kategori tindakan kriminil, sehingga Bandi sendiri sekarang bisa disebut kriminal. Polisi mengkriminalisasi Bandi?
Bibit dan Chandra, keduanya dari KPK, dikabarkan mengalami hal yang sama seperti yang dialami Bandi. Benarkah? Tidak, sebab dua orang ini belum terbukti bersalah. Ini masih sinyalir, ini masih dugaan. Tetapi siapa yang berhak mensinyalir dan menduga, apalagi menetapkan status sebagai tersangka, kecuali polisi? Dus, kriminalisasi di sini juga berarti rekayasa terselubung untuk membalikkan status seseorang yang semula netral menjadi kriminal. Ya, rekayasa; tindakan yang disengaja, bahkan mungkin telah direncanakan serta dipersiapkan secara rapi.
Sebaliknya, hari ini, buaya-buaya polisi menangkap kedua cicak itu. Tuduhan yang memberatkan adalah bahwa mereka telah menghilangkan bukti, memprovokasi opini masyarakat, dikhawatirkan melarikan diri dan lain sebagainya (kita juga musti meneliti penggunaan istilah-istilah di atas yang bukan tidak mungkin menyimpan bias). Selain itu, Mabes Polri menolak dituduh telah mengkriminalisasi kedua wakil ketua KPK non-aktif tersebut. Mereka juga melansir argumentasi, sebagaimana pihak candra dan bibit melakukan hal yang sama.
Kita tahu, ada perang wacana, antara cicak dan buaya…
Tetapi tahukah kita, terjadi perang yang hampir serupa antara kita -sebagai pemirsa- melawan media massa -atau induk semang di belakangnya?-. Terjadi pergumulan yang tidak kurang keras antara kita dan produsen opini itu. Pergumulan di sana terkait dengan dikotomi subyek dan obyek, persoalan yang sesungguhnya sudah sangat basi. Pertanyaan Warimin kemudian adalah; siapa sesungguhnya subyek? Siapa pula obyek?
Sudah tentu, kitalah obyek. Kitalah pihak yang kalah itu. Bagi Warimin, media sejak awal telah menang justru ketika kita telah menyerahkan diri untuk dijajahnya. Pada saat informasi hanya diklaim dan dikuasai oleh media, dan kita percaya.
Sesungguhnya, tidak penting benar siapakah pada akhirnya yang menang dan siapa yang kalah dalam pertarungan antara cicak dan buaya, sebab pada akhirnya kita sendirilah yang kalah.
Usul Warimin, jika tidak mau dikuasai oleh wacana dominan, maka matikan televisi, potonglah kabel-kabel listrik, jauh-jauhlah dari monster internet. Pergilah ke pedalaman hutan dan temukanlah dunia yang sama sekali lain. Di situ, bangunlah wacana lain, arah lain, dan barangkali peradaban lain, dengan sedikit resiko…
Bahwa kita akan dianggap pinggiran. Dan kita pun menjadi usang.
Ah, desah Warimin, bukankah al-khatha’ al-masyhur khairun min al-shawab al-majhur. Salah yang kaprah lebih baik daripada kebenaran yang terpojok.

Rumah Damai Al-Lathifiyyah Palembang
29 Oktober 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: