Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kesaktian Baru

>Abad ini memang abad sakti, segala hal seperti telah merasa tahu diri. Matahari, dengan daya sinarnya yang hampir tak pernah mati, merasa mampu merobek-robek lapisan ozon yang selama ini diyakini sebagai pelindung bumi terbikin dari besi. Matahari yang over-optimistis, ditambah dengan sedikit dendam terhadap bumi, berhasil menjebol lelapis baja tersebut dan pada gilirannya menyengat, bukan sekedar membikin hangat puluhan lembar pakaian yang dijemur Jumini, babu Pak Hendri. Hutan semakin mudah terbakar, sungai rentan kekeringan, laut sering muntah, sawah-sawah dihardik tandus, bukit-bukit botak, tanah jebol, lumpur muncrat, dan manusia gosong. Goro-goro datang, Global Warming menjelang.
Babi pun pilek dan ayam bersin-bersin.

Sementara manusia juga semakin sakti. Pejabat dan aparat semakin pandai bermain debus di depan hukum -sebentuk kekebalan yang luar biasa. Selain kita juga tahu kalau tangan mereka semakin lama semakin memanjang. Tacik-tacik memiliki cara baru, yang katanya lebih etis dan profesional, untuk mencekik pelanggan. Yang tak berpunya semakin mampu mengembangkan jiwa besar; dilupakannya segala kesusahan, dibayangkannya hidup -seakan-akan- berada di tengah-tengah kemewahan.
Jangan lupa, Warimin juga mengalami revolusi-nya sendiri. Semenjak mengikrarkan diri untuk senantiasa menjadi manusia –dan tidak kembali ke wujud kecoa, ia kini merasakan sebuah kesaktian baru menghuni tubuhnya. Ia tak minta, namun sekonyong-konyong kesaktian itu datang secara tak diduga. Setelah meninggalkan kemampuan alih rupa-nya, Warimin kini mampu mengangkangi ruang dan waktu. Ia, umpamanya, dengan sekali kedip bisa tiba-tiba berada di Mekah. Pada kedipan yang kedua, mendadak dia sudah berada di dalam tanah, di sebuah gua kecil yang pengap, yang ternyata gorong-gorong tempat semut berlalu lintas. Sekarang Warimin juga bisa bertatap langsung dengan Aschilles, pahlawan troya yang menjadi idola-nya itu, disamping juga mampu bertemu dengan Hector.
Bukan hanya itu, Warimin pun berekspansi ke masa depan. Beberapa kali ini ia dipertemukan dengan seorang bocah bernama Muhammmad Michael Jackson Al-Buchory, yang semestinya baru lahir sepuluh tahun yang akan datang dari rahim Mbak Siti –gadis yang biasa membantu ibunya jualan soto ayam di pinggiran simpang empat, tempat Warimin biasa nongkrong.
Dus, Warimin bertambah sakti, seiring dengan kemajuan-kemajuan manusia yang bertambah pesat setiap hari. Ia bersyukur karena telah menjatuhkan pilihan untuk menjadi manusia. Mau tak mau, langsung maupun tidak, menjadi subyek atau obyek, Warimin terseret jauh ke dalam arus perubahan yang hampir terjadi setiap detik. Perkembangan, kemajuan, dan Warimin bahagia menjadi manusia.
Tidak, Warimin tidak berbangga karena dia telah menjadi manusia. Hatinya barangkali sedang berbunga-bunga sesaat setelah ia ketiban pulung memperoleh door prize kesaktian. Coba tengok tingkahnya kini; tak pernah berhenti berkedip-kedip. Konon, ia sedang ketemuan dengan Dewi Kwan Im di satu tempat dan dengan Catherine Willson di tempat yang lain.

Villa Al-Lathifiyyah
Palembang, 06 Agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: