Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kambing Hitam

(Hewan di Tengah Pergumulan Cicak Melawan Buaya)
Kata siapa kambing selalu berbulu putih? Di Republik ini, kambing bahkan harus berwarna hitam. Seperti kecoa tidak melulu berwarna cokelat, laiknya Warimin yang dulunya adalah kecoa berwarna hijau, kambing di negeri ini tidaklah mesti berwarna putih. Kalaupun semua nampak putih di mata kita, oleh sebab produksi make-up yang lumayan massif dan variasi bedak yang cukup kreatif, maka sewajarnya ada kambing yang dibikin hitam –dipaksa berwarna hitam.

Ya, harus ada kambing hitam, sebagai mangsa dari buaya yang kelaparan. Atau harus ada kambing hitam, sebagai camilan dari cicak yang kini telah bermetamorfosa tidak hanya menjadi komodo, tetapi lebih dari itu berubah menjadi tiranosaurus (Tirex). Atau harus ada kambing hitam, sebagai tumbal bagi kekuasaan sang Raja Hutan. (Label Cicak dan Buaya diambil dari pemakaian latah media massa sebagai isyarat atas dua lembaga Polri dan KPK. Kabarnya, dan karenanya Kapolri kemudian meminta maaf, penggunaan metafor yang menyudutkan citra polisi tersebut, dimulai oleh seorang oknum pembesar Polri sendiri yang berinisial SD. Dialah yang pertama kali menabuh genderang perburuan cicak oleh para buaya. “Cicak mau melawan Buaya?”, selorohnya dengan sinis sebagaimana dikutip Tempo. Sementara itu, metafor Raja Hutan dikutip dari seorang kawan yang saat ini berdomisili di Cirebon, untuk menunjuk pada figur yang anda sendiri sudah tahu siapa dia)
“Memang harus begitu…”, pikir Warimin. “Sebuah negeri tidak sepantasnya hanya mengenal nama-nama pahlawan, yang dipuji secara berjama’ah, belaka. Sekali-kali, atau bahkan berkali-kali juga bukan masalah, harus dimunculkan nama-nama bangsat. Nama-nama yang bisa dijadikan sasaran penghujatan bersama-sama”.
Benar juga. Pada jaman Orde Lama, kita mengenang nama-nama manusia seperti Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, dll atau nama-nama ide seperti Kontra-Revolusi, manikebuis, dsb. Setali tiga uang, walau agaknya terdengar lebih sopan –atau lebih berbasa-basi?, di masa Orde Baru lazim diumumkan nama-nama manusia seperti Aidit, Subandrio, Nyono, dll atau nama-nama ide seperti komunis, narapidana, dsb. Mereka-mereka inilah, nama-nama yang menandai sekumpulan hasrat untuk menghujat kepunyaan rakyat Indonesia, setidaknya pada masa itu. Mereka inilah, meski kita sangat boleh mempertanyakan hipotesis ini, kambing-kambing yang dipaksa untuk berwarna hitam. Merekalah kambing hitam itu, sosok hewan yang sorot matanya selalu terlihat memelas pada saat hendak disembelih. Tapi apa daya, menjadi kambing hitam, ternyata berarti menyumpal mulut mereka dengan lakban yang juga berwarna hitam. Teriakan, bagaimanapun bentuknya, akan melulu terhenti di perut (syukur-syukur kalau masih bisa dikeluarkan bersama tinja).
Sebaliknya, hampir setiap kali kita menemukan kambing hitam, di situ –duduk disampingnya dengan raut terkekeh, seekor binatang buas “disembah” ibarat pahlawan. Dia berkhutbah, “Kita sudah menangkapnya. Inilah sesungguhnya biang kerok kekacauan (chaos) yang selama ini menghantui kita. Silahkan kita menggebukinya dengan cerca. Jika ditujukan pada penjahat, cemoohan akan selalu absah untuk disemprotkan, bukan? Mari… mari semua meludahi kambing ini”.
“Setelah anda semua puas”, lanjut si binatang buas, “kami berharap kita semua melupakan perkara yang menguras energi ini. Masalah kita, sebagai bangsa, masih bertumpuk-tumpuk. PR kita masih banyak. Karena itu, mari kita akhiri perdebatan-perdebatan yang tidak berguna ini. Pertentangan dan kontroversi yang masih tersisa dari kasus yang belakangan terjadi”.
Sejauh ini, Warimin hanya mampu bertanya, siapakah nantinya yang bakal ketiban laknat sebutan kambing hitam?
Sementara itu, Cicak yang kini telah beralih rupa menjadi Tiranosaurus, untuk sejenak bisa tertawa lebar. Mereka berhasil memukul telak buaya -sehingga terkapar sesak napas sekarang, dengan cara membeber rekaman yang diandaikan sebagai bukti adanya rekayasa kriminalisasi.
Di pihak lain, kumpulan buaya seperti kebingungan. Sebagian mereka ada yang menelan ludah. Sebagian yang lain ngotot bahwa cicak masih dimungkinkan bersalah, karena palu pengadilan ternyata belum juga diketuk (boro-boro diketuk, sidang aja belum).
Lebih dari kebingungan buaya, sang Raja Hutan terlihat stress. Pasalnya, nama “bapak” disebut-sebut oleh seseorang di dalam rekaman penyadapan tadi. Akan tetapi Sang Raja sedikit lebih aman, sebab beberapa hari belakangan dia telah membentuk semacam tim pengurai kesilang-sengkarutan nasional ini. Bagi Warimin, hal ini tidak lebih dari upaya cuci tangan dari Sang Raja setelah sebelum itu namanya dicatut dalam transkrip-transkrip rekaman yang beredar di media massa. Dengan membentuk tim, Sang Raja ingin dinilai bertanggung jawab. Kasarnya, dia hendak membangun citra bahwa dirinya memang tidak terlibat. Betapapun, citra yang telah susah payah dia bangun pada saat Pemilu tidak boleh rontok hanya sebab tai cicak. Tim itu adalah TPF, Tim Pencari Fakta. Sesuatu yang, bagi Warimin, bisa jadi bakal menjadi kambing hitam itu sendiri. (Sahabat Warimin ada yang menerjemahkan akronim tersebut dengan Tim Pembela Feodalisme. Ini karena baginya, Pemerintahan SBY tidak lain daripada metamorfosa Orde Baru atau kita bisa menyebutnya Neo Orde Baru. Sebuah pemerintahan militer dan militeristik yang berasaskan pada prinsip ABTM “Asal Bapak Tidak Marah”, modifikasi dari ABS “Asal Bapak Senang”).
Ala kulli hal…
Kembali pada pertanyaan Warimin tadi, siapakah nantinya yang bakal didaulat menjadi Kambing Hitam?
Wallahu a’lam, yang jelas ada gelagat bahwa cicak ingin lepas dari jerat masalah. Begitupun buaya, hendak lari dari tuduhan gila. Apalagi sang Raja Hutan… dia masih merasa berhak untuk meneruskan pemerintahan lima tahun ke depan, sehingga dia pun menitah, “Hai penegak-penegak hukumku, tangani semua ini dengan baik”. Setelah menyerahkan bebannya kepada TPF, batang kebijakannya tak diketahui lagi.
Karena itu, bersiaplah kita semua mendengar kabar tentang seekor kambing hitam tiba-tiba muncul memecahkan kebuntuan. Sosok martir yang memang ditugaskan untuk melestarikan kebuasan binatang-binatang birokrasi. Kita masih ingat kasus pembunuhan Munir yang tiba-tiba berhenti setelah menemukan kambing hitam bernama Pollycarpus. Kasus itu, yang diduga melibatkan rantai birokrasi, dipeti-eskan begitu saja. Kita juga ingat, pada kasus tersebut bukannya tidak dibentuk Tim Pencari Fakta. Tim-tim semacam itu musti dipandang secara sinis, karena bisa jadi hanya berfungsi sebagai kepanjangan tangan penguasa, sebab itu kerjanya tak lebih dari sekedar sia-sia. Kasus pembunuhan Munir sampai detik ini pun masih kabur. Atau mungkin saja ia dikaburkan, dengan modus melahirkan sosok-sosok kambing hitam? Toh siapapun, entah buaya, cicak atau raja hutan sekalipun, tentu tidak ingin mukanya dicoreng dengan mudah.
Warimin menggeleng pasrah. Dia berdoa semoga aparat tidak menghitamkan kekambingannya.

04 November 2009
Rumah Damai Al-Lathifiyyah Palembang

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: