Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Identitas

Warimin gelisah. Otaknya yang gundah terus mengecamukkan pertanyaan; “Siapakah sebenarnya aku?”. Apakah dia masih kecoa seperti sedia kala, ataukah manusia seperti yang diinginkannya?
Ditengok dari sudut wadag, bentuknya memang manusia –apalagi setelah lisensi alih rupo-nya dicabut, sehingga ia pun kini mustahil berubah menjadi katak atau lemari. Hidungnya hidung manusia, giginya gigi manusia, kakinya kaki manusia, dan dia tidak bersungut.

Ya, dia manusia. Tetapi apakah hanya itu syarat untuk menjadi manusia? Bagaimana jika manusia adalah, seperti dalam Plato serta Descartes, pikiran-pikirannya? Bagaimana jika, meskipun wadagnya manusia, ternyata kesadarannya tak lebih daripada kesadaran ala kecoa? Bukankah jaman sekarang banyak orang yang bentuknya mirip manusia tapi kelakuannya, yang diasumsikan lahir dari kesadaran, tak ubahnya anjing? Mirip kucing? Sama dengan babi? Seperti tikus?
Ah, bukankah manusia adalah hasratnya? (Nietszche dan Chairil Anwar)
Karena itulah, demi meyakinkan dirinya sendiri –dan bukan orang lain, Warimin pun mengarang-ngarang cerita. Diciptakanlah sejenis narasi;
“Aku Warimin. Aku sendiri tak tahu orokku tumpah di mana; apakah ranjang atawa lantai. Aku juga tak tahu, apakah sesunggguhnya yang pertama-tama keluar dari mulutku; Apakah tangis, apakah desis. Apakah tawa, ataukah senda. Seperti disebut dalam Saman, “Kebahagiaan memang tak perlu dan tak harus dinamai” (Ayu Utami). Kubayangkan dua emak dan bapak yang tersenyum puas, sebab anaknya ini lelaki. (mereka letih dengan dua perempuan!!!).
Aku adalah anak pertama, kedua dan ketiga secara sekaligus. Bapakku kawin dengan perempuan, dan lahirlah bayi perempuan. Emakku bercumbu dengan laki-laki, lalu muncul anak putri. Maka aku anak ketiga, setelah Bapak dan Emak masing-masing bercerai dari pasangannya, kemudian saling bertemu dan menikah. Tapi anak perempuan Bapak mati sebelum bersua dengan Emak, maka aku anak kedua. Tapi aku adalah satu-satunya hasil biologis dari pergumulan Bapak dan Emak, maka aku anak pertama.
Ada randu di halaman rumahku, saat Bapak mengunduh buahnya dengan watang. Maka kusebut tanahku dengan Randuwatang.
Bapak sibuk mengunduh buah, ketika kulihat ribuan orang bersijingkat dari arah timur. Mereka mengusung warna; merah. Sebaliknya, di barat, ribuan yang lain menunggu dengan parang berwarna hijau. Sekecil itu, aku tak segera mengerti apa yang sedang terjadi. Sementara Bapak masih asyik mengunduh buah, aku mengintip gelombang hijau dan merah itu bertubrukan. Bacok-bacokan antara ijo dan abang. Warna-warna semburat di langit, muncrat. Aku melihat darah berpadu, persatuan antara ijo dan abang; Jombang.
Aku Warimin, aku dari Randuwatang, aku dari Jombang. Tapi aku ngudi kawruh di Tambakberas. Kampung santri, dusun Kyai. Aku pernah beberapa lama di Surabaya dan Sukabumi. Aku juga pernah berada di Jogja, sebelum akhirnya pergi lagi.
Aku Warimin. Aku dari Randuwatang. Aku dari Jombang. Dan aku punya sedikit kisah dengan gadis dari daerah Rembang. Tak perlu kuceritakan, sebab aku kini berada di Palembang. Semua yang terlewat hanya pantas menjadi kenangan, dan aku hanya harus memandang ke depan.”
Demikianlah Narasi yang berhasil dirangkai Warimin. Dibacanya terus narasi itu berulang-ulang. Warimin mengunyah kisah pendek itu tiga kali sehari, layaknya minum resep dokter. Sebuah kegiatan aneh yang mirip indoktrinasi –hanya saja ini dilakukan pada dirinya sendiri, untuk kepuasan secara pribadi.
Hasilnya, Warimin semakin yakin bahwa dirinya adalah manusia. Sekarang, ia merasa punya riwayat, punya hikayat, punya sejarah. Warimin adalah manusia, sebab hanya manusia yang punya nama, memiliki identitas. Juga hanya manusia yang menganggap penting sebuah nama, dan cuma manusia yang menegaskan identitas.
Maka kelahirannya ini -Warimin mendramatisir kejadian ini sebagai sebuah kelahiran kembali, Renaissance- dirayakan Warimin dengan mentraktir dirinya sendiri minum kopi. Banyak-banyak, hingga ia pun terpaksa tidak bisa tidur. Dalam ambang keterpaksaan tidak bisa tidur itu, Warimin mendengar suara tanpa rupa –ini bukan mimpi;
“Hei, Kau yang kebanyakan minum kopi. Siapakah dirimu?”
Aku Warimin.
“Dari mana asal-usulmu?”
Aku dari Randuwatang. Aku dari Jombang.
“Di mana dirimu sekarang?”
Aku sekarang di Palembang.
“Kemana kamu akan menuju?”
Aku berjalan ke depan.
“Kau manusia, bukan?”
Ya, aku manusia.
“Apa yang membuatmu berbeda dari kecoa?”
-=&%^$#*())&%#@#$^*_

Warimin tersedak. Mendadak ia berhadapan dengan pertanyaan yang tak diperhitungkan sebelumnya. Ia kelabakan. Ia gelisah. Ia gundah. Kebingungan mendorongnya untuk sekali lagi berpikir, menguji dan mempertanyakan kembali kebenaran-kebenaran yang diyakininya sendiri.
Ternyata nama, hikayat, sejarah, identitas dan apapun namanya, bukanlah segala-galanya. Bagi Warimin, manusia tidaklah hanya karena ia disebut sebagai manusia. juga bukan karena ia berpikir atau ber-rasa. Pada dasarnya, manusia tidak berbeda dari yang lain; tumbuhan, hewan, alam. Bahkan, definisi yang lain itu seharusnya tidak ada. Liyan adalah sesama. Sama-sama makhluk-Nya. Karena itulah betapa sesungguhnya tidak relevan mengedepankan identitas.
Sebab Klaim melulu destruktif, dan manusia hanya akan menjadi manusia jika ia mengakui keberadaan yang lain. Manusia yang mengunggulkan rasnya saja, segi manusia-nya belaka, akan terjerumus pada kecongkakan yang merusak. Sesuatu yang membuatnya tidak berbeda dari kecoa.
Manusia adalah afirmasi kepada yang lain.
Dan Warimin pun akhirnya tak perlu membedakan diri dari kecoa.

Kepada Ahmed, Derrida dan Habermas
Graha Al-Lathifiyyah, 24 Oktober 2009

Iklan

One comment on “Identitas

  1. aironi
    22/04/2010

    >mana yang baru… ditunggu2 kok, sibuk ngulek kata nang masjid agung ae…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/11/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: