Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Mahasiswa, Mahagoblok, Mahasantri

Guru saya di tingkat menengah dulu berteori. Kurang lebih begini;
“Siswa itu…”, katanya di tengah suasana kelas yang bising, “cuma sekedar penamaan alias kata lain dari orang yang –maaf– goblok. Tak ada yang istimewa dari sebutan siswa selain apabila ia di-imbuhi kata Maha, ia akan beralih makna menjadi Mahagoblok. Goblok bertumpuk-tumpuk”.

Agak kasar, memang. Saya sendiri tidak tahu kenapa beliau tiba-tiba berkata begitu, padahal kami sadar beliau adalah guru kesenian. Apakah hal ini termasuk bagian dari pelajaran estetika, atau hanya semacam ungkapan jengkel yang bertumpuk-tumpuk atas kelakuan kami yang bengal? Atau, isterinya di rumah kembali berulah, atau…? Ah, entahlah. Lagi-lagi saya tak mengerti, kendatipun saya akui, saya terlanjur tertarik.
Ya, sarkasme –atau vandalisme?– itu telah mempengaruhi saya. Bahkan hingga kini, ketika bangku kelas tersebut sudah bertahun-tahun saya tinggalkan. Bagi saya, siswa masih saja berarti sebuah kebodohan. Dan mahasiswa, tak kurang tak lebih, adalah kegoblokan yang tiada tara; tak terperi. Ketika saya kemudian memilih untuk menjadi mahasiswa, misalnya, saya tak memiliki niat untuk merebut prestise sebagai seorang kampiun ilmiah dan/atau mbah-nya intelektual. Saya sadar, betapapun sekarang saya bersekolah di tempat yang dinamai kampus, berguru pada seseorang yang disebut dosen, berseragam dengan sesuatu yang dikenal sebagai jas atau jaket almameter, saya tidak beranjak kemanapun kecuali saya semakin bodoh. Hal ini bertambah jelas, seperti telah dipertemukan kepada momentumnya, saat status saya yang sekarang adalah mahasiswa; seorang mahagoblok. Saya mengharuskan diri untuk tidak terpukau terhadap segala label yang dibubuhkan di atas sebutan mahasiswa.
Karena itulah, laiknya sebuah khotbah, saya mengajak kita semua untuk tidak bertakwa, untuk tidak pasrah kepada “beban nama” yang disandang oleh status mahasiswa. Dengan kata lain, semoga ini lebih keren dan lebih bernuansa aktifisme, ayo kita tolak shock culture (jangan lupa kepalkan tangan, hehehehe).
Mahasiswa memang sebuah status yang kabur, sebab itu rawan krisis. Kekaburannya justru diakibatkan oleh, menurut hemat saya, beban pemaknaan yang terlampau berlebihan, yang celakanya timbul dari kebebasan para pelakunya untuk menempel dan mencomot makna. Anda, umpamanya, dihalalkan untuk memilih menjadi salah satu diantara beberapa opsi berikut; mahasiswa aktifis, mahasiswa kutu buku, mahasiswa da’i, mahasiswa resimen, mahasiswa pecinta alam dan seabrek konotasi lain yang telah disediakan; legal maupun ilegal. Sementara itu, anda juga berhak untuk menetapkan pemaknaan lain sesuai dengan prinsip narsisme yang melekat pada diri anda sendiri. Misalkan anda mematok diri untuk menjadi mahasiswa pasifis, mahasiswa kutu kupret, mahasiswa bromocorah, mahasiswa metro-seksual dan lain sebagainya. Semua itu absah, hanya pada saat yang sama kita pun kalap, kita pun gagap. Kita ternyata lebih sering sewenang-wenang dalam menentukkan pemaknaan bagi diri kita sendiri.
Kenapa? Sebab secara umum status mahasiswa dianggap istimewa dan berbeda dari tingkat-tingkat di bawahnya. Memasuki gerbang perkuliahan berarti say good bye kepada fase cinta monyet, menuju masa romantisme yang katanya lebih dewasa (Ah, bagi saya, cinta tak perlu harus berjenjang. Ia hanya berupa perasaan saya terhadap dia yang saya anggap indah, itu saja!). Dus, tali silaturrahim terhadap masa lalu sengaja kita putus. Hasilnya? Shock!!!
Benar, di sinilah titik balik kejutan itu, setidaknya bagi saya. Di sinilah pula relevansi usulan saya, sekurang-kurangnya ada dua usul. Pertama, kita kembalikan mahasiswa kepada pengertiannya yang semula, yang tidak berlebihan dan istimewa. Bahwa kita semua adalah sekelompok manusia naïf yang seyogyanya tak perlu neko-neko. Seluruh kita adalah manusia-manusia goblok, dan bahkan mahagoblok. Goblok minta ampun, tidak lebih kurang dari itu. Nah, coba tengok, bukankah ini esensi dari santri?
Kembali kita kilas balik…
Segera setelah pendidikan tingkat menengah saya khatam, saya nekad masuk pesantren, mengorbankan cita-cita saya yang pilot –masya Allah, tinggi banget. Di situlah saya lantas mendengar Mahakyai saya berujar; “Iso’o ngroso, ojo ngroso iso”. Bisalah merasa, jangan merasa bisa. Jangan merasa pintar, tetapi pintarlah merasa. Jadilah orang goblok dan hayatilah kegoblokanmu. Bukankah, semakin kita tahu, semakin luas pula medan ilmiah yang tak kita tahu?
Lepas dari konteks ruang dan waktu pengucapannya, petuah ini demikian menerkam dan selanjutnya mempengaruhi gambaran saya tentang santri. Di sudut lain, di suatu manuskrip yang saya rasa sampai sekarang masih berwarna kuning, disebutkan; “Ilmu adalah air, mengalir ke tempat yang lebih rendah”. Wal hasil, terdapat benang merah yang menghubungkan mahasiswa dengan santri. Sama-sama tidak terlalu istimewa, tidak merasa istimewa, akan tetapi keduanya dituntut untuk senantiasa arif.
Tibalah saatnya pada usulan saya yang berikut. Kedua, kenapa kita tidak menjadi santri saja? Kenapa kita tidak menjalin hubungan baik dengan masa lalu kita?
Tentu yang saya maksud dengan masa lalu bukan cuma kenyataan bahwa kita adalah alumnus pesantren, dan dengan demikian kita dibebani oleh nama baik-nya. Lupakan nama baik pesantren, dan jujurlah. Bahwa di dalam hati kita telah terpahat suatu akar kesantrian yang tak bisa dihapus begitu saja. Kita punya masa lalu; masa lalu kultural. Masa lalu yang tidak tertinggal di belakang, dan bahkan bakal terus menemani kita membabat masa depan. Kita tak mungkin membohonginya, kan?
Ala kulli hal, menjadi mahasiswa tak selalu bonafite. Menjadi mahasiswa hanya salah satu jalan untuk menghayati kebodohan kita yang maha agung. Akan halnya menjadi santri, kita musti melulu mencari sampai mati. Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Sekali menjadi santri, selamanya menjadi santri. Sudahkah anda merasa menjadi santri hari ini?

 

Iklan

One comment on “Mahasiswa, Mahagoblok, Mahasantri

  1. badri
    31/10/2009

    >Mbah Men, Q kangen ambek postinganmu seng enyar, tak tunggu!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29/08/2009 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: