Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Liberte !!! Merdeka !!!

>Liberte
Mendengar kata itu disebut, mendadak dia muram. Sekonyong-konyong ingatannya tumpah pada acung tombak, deru meriam, ceracau senapan, dentum tank, serpih granat, desah pesawat, dan… darah manusia.
Merdeka…
Kata tersebut tak kalah amis. Baginya, kata itu melulu disepuh dengan darah, sehingga tanpa dia sendiri sadari, otaknya dipenuhi dengan berliter-liter darah manusia. Hampir bisa disebut reflek, pada saat yang sama, air matanya meleleh.
Padahal…
Kita semua tahu. dia-lah yang berbisik pada telinga Voltaire dan Diderot, ketika keduanya menggulirkan semboyan Liberte, Egalite & Fraternite (Kebebasan/Kemerdekaan, Persamaan & Persaudaraan) di tengah-tengah medan Revolusi Perancis. Dia juga-lah yang mengarang teks-teks pidato, sesaat sebelum Bung Tomo menggelorakan semangat Pemuda Surabaya dengan semboyan yang terkenal; Merdeka atau Mati. Kita semua mengetahuinya, kita semua memahaminya.
Tetapi…
Kenapa dia menangis? Siapa dia?
Dia-lah Warimin. Manusia berwarna tanah -atau tanah berwarna manusia? tidak jelas benar. Dia hampir-hampir bersifat Immortal; tanpa mati dan abadi. Selagi tanah masih disebut tanah, Warimin tetap akan menjadi Warimin. Warimin inilah, yang setiap pagi anda lihat duduk termenung sendirian di pojokan jalan, dan tanpa anda insyafi ia menyusup pada diri anda. Dalam detik-detik yang sangat singkat itu, anda kini menjadi Warimin dan Warimin menjadi anda.
Warimin yang sama juga sering menemui Presiden SBY, memecahkan masalah yang dihadapi Presiden RI ke-VI ini, termasuk menyelesaikan kebimbangannya apakah pemerintah akan menaikkan harga BBM ataukah tidak. (Jika anda tidak percaya kalau Warimin adalah biang dari segalanya; jika anda diliputi keraguan terkait bahwa Warimin adalah Guru Kebijaksanaan dari Socrates, teman diskusi Plato membahas Ide Absolut, lawan debat Paulus menyoal Trinitas Ilahiyah, yang menyelipkan Cogito ergo sum pada otak Descartes, yang mengajarkan teori kasb pada Abu Hasan Al-Asy’ari, yang membarengi Ibnu ‘Araby merangkai paham wahdatul wujud, yang meniupkan ide penolakan taklid pada Muhammad Abduh, yang mendorong Proklamasi Soekarno-Hatta, yang membantu Gandhi merumuskan Satya Graha, yang menegaskan Penghapusan Budak pada Abraham Lincoln, yang menyeru Nelson Mandela untuk segera menentang Politik Appartheid, yang membakar Khomeini menggulingkan Rezim Syah Reza Pahlevi, dan lain sebagainya, maka… anda harus lebih banyak membaca, terlebih membaca setiap koran yang bertanggal tiga puluh dua).
Dia menangis karena menyesal. Kenapa dulu dia mengajarkan kata-kata, yang belakangan menjadi semboyan, itu kepada Voltaire? Kepada Diderot? Kepada Bung Tomo? Kepada Soekarno? Coba misalnya dulu kata-kata itu dia bisikkan di telinga Bang Miun atau Kang Bakri, pasti tidak akan seperti ini jadinya. Satu kata Liberte, atau ditambah dengan ribuan kata-kata lainnya yang bertendensi seperti halnya demokrasi, tak bakal berarti apa-apa. Dan merdeka pun tak lagi berarti kepal tangan dan riak teriakan. Wal-hasil, pada akhirnya Warimin tak perlu lagi menangis, karena otaknya yang acap kali berlumur darah manusia setiap kata-kata Liberte atau merdeka menyembul ke permukaan sadar-nya.
“Ah, daripada terus-terusan meratap, lebih baik aku segera berbuat!!!”, pikir Warimin suatu hari. Bersamaan dengan keputusannya itu, Warimin menemukan sejumput ide di tengah-tengah banjir darah di kepalanya.
Begini…
Rencananya, meskipun tindakan ini dilarang, Warimin berniat menyusup ke Kamar Waktu (di suatu tempat tersembunyi, di belahan dunia paling tengah). Di sanalah ia hendak kembali pada masa-masa sebelum abad ke-19. Warimin kangen dengan Sunan Kalijogo, dia ingin sowan pada Ronggowarsito. Selain itu, dia juga mau menemui kenalan lama, seorang santri yang tak perlu kita sebutkan namanya di sini.
Singkat cerita, Warimin hendak menawarkan kata merdeka kepada kaum Santri. Dia ingin, entah bagaimana caranya nanti, kata merdeka dipahami sebagai kata yang ramping, tidak gemuk kelebihan berat badan seperti sekarang ini. Bayangkan, kata sekecil itu –dengan ukuran tujuh huruf dan tiga suku kata, harus menelan berbagai rupa ide dan kepentingan manusia yang teramat bising; Kebanggaan, Kebebasan, Kebesaran, Semangat, sekaligus juga Permusuhan, Benturan, Perang dan Pertumpahan Darah.
Kenapa harus santri? Sebab, pikir Warimin, hanya kaum santri-lah yang bahkan sampai saat ini masih meng-ugemi (baca; memegang teguh) nilai-nilai moralitas. Juga hanya kaum santri, yang mampu menghidupkan tradisionalitas dan modernitas sekaligus, tanpa disertai konflik-konflik batin yang terlalu berlebihan. Ketika masyarakat Muslim Urban dan Perkotaan gandrung dengan segala yang serba Jubah, kaum santri tetap dengan ciri khas sarung-nya. Akan tetapi, meskipun begitu, isi batok kepala kaum santri tidak ter-kerangkeng di balik sarung belaka. Dengan kearifan yang menunduk, kaum santri berhasil mendamaikan dua kultur yang sebenarnya amat bertentangan; tradisionalitas dan modernitas. (Benar atau tidak, wallahu a’lam, toh ini hanya celotehan di dalam pikiran Warimin)
Bagi Warimin, di sinilah arti penting kemerdekaan harus diserahkan ke pangkuan kaum santri. Selama ini kemerdekaan selalu diproyeksikan ke masa yang akan datang, tak peduli pada masa kini dan masa lampau. Karena itulah, kemerdekaan hampir selalu berarti pelepasan terhadap tradisi, dan senantiasa berdarah-darah. Kemerdekaan melulu mencari korban entah itu bernama masa lalu atau bernama manusia, meski yang terakhir ini belakangan dikenal dengan sedikit dramatisasi sebagai pahlawan. “Di sinilah salahnya”, pikir Warimin, “menuju alam merdeka, hampir sebanding artinya dengan membunuh manusia. Mayat-mayat manusia sekarang, dianggap sebagai jembatan menuju masa depan. Merdeka juga berarti membuang yang lama, menuju kehidupan baru yang lebih sejahtera”.
Benar juga, masih lekat di dalam ingatan kita, bagaimana situasi yang melatar-belakangi Revolusi Perancis, dan kemudian juga Revolusi Indonesia. Para pendukung kemerdekaan dan kebebasan ini mendambakan tata hidup yang benar-benar baru, lepas dari kekangan kolonial sekaligus jeratan pola pikir tradisional. Dulu, soekarno sebagai singa penentang penjajah, lantang berpidato di depan majelis Tri Koro Darmo –Organisasi modern pertama yang bertujuan mengikis kolonialisme, dengan menggunakan hanya bahasa jawa ngoko. Tujuannya pada saat itu adalah menghapus sistem hirarki di dalam bahasa jawa, yang semula terdiri dari bahasa Jawa Ngoko, Kromo madyo, dan kromo inggil. Dua yang terakhir ini hendak ditumpasnya. Tak kurang, pidato Bung Tomo seperti mengajak mati berjama’ah, bersama-sama menumpahkan darah demi satu kata; Merdeka.
Dus, merdeka berarti membuang, menafikan dan membunuh –tentu saja. Sebab itulah Warimin kecewa dan kepingin kembali ke masa lampau; menyerahkan kata merdeka bukan pada Soekarno dan/atau Bung Tomo, melainkan kepada kaum santri. Dengan kesadaran yang tinggi terhadap moralitas, Warimin yakin kaum santri tidak akan tega memukul, menendang dan apalagi membunuh sesamanya. Dengan kemampuan untuk mengolah masa lampau, masa kini dan masa depan sebagai satu kesatuan yang utuh, Warimin percaya kaum santri mampu menggulirkan kemerdekaan tanpa harus kehilangan sesuatu apa.
Warimin, manusia tanah atau tanah manusia itu, ingin membalik sejarah. Namun apalah daya…
Ketika pertama kali kakinya menginjak lantai Kamar Waktu, sesosok malaikat menyergap dan membikinnya tak berkutik. Warimin pun diajukan ke Mahkamah Tuhan karena dianggap menggugat Sunnah.
Dan sejarah harus berjalan sebagaimana biasa. Liberte atau Merdeka, bukan lagi milik siapa-siapa, kecuali sekedar hingar-bingar dan romantisme kemenangan belaka. Menang dari apa, dari siapa? Kita tak pernah benar-benar tahu. Yang jelas, kekalahan melanda segenap umat manusia.
Adious, Liberte!!!

Jangan dikalahkan sejarah, Kawan!!!
Palembang, 04 Agustus 2009
Lukman Hakim Hs

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/08/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: