Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Bumi Tuhan, Bumi Manusia

Ia tak tahu, kehadirannya di Bumi Manusia –mengutip titel salah satu novel Pramoedya Ananta Toer- merupakan kesalahan atau bukan. Ia juga tak mengerti, apakah Tuhan selalu menggariskan yang terbaik atau tidak. Warimin hampir selalu begidik mendengar nama Mu’tazilah disebut, apalagi mengikuti doktrin mereka yang berpikir bahwa Tuhan harus selalu Adil dan/atau berbuat yang terbaik bagi manusia. Mu’tazilah adalah sebuah nama legam, atau setidaknya dibikin pekat oleh kalangan tertentu dan kemudian kepekatan tersebut diwariskan secara turun temurun, hingga sampai ke tempat Warimin yang dulu. Sampai kini, gambaran tentang Mu’tazilah yang seperti inilah, yang terus menerus dibawa Warimin kemana-mana.
(Penulis bukan tidak mau memberi bocoran di mana sebenarnya “tempat Warimin yang dulu” itu. Penulis hanya agak sangsi, kalau-kalau pada suatu hari ia bertemu dengan Warimin dengan wajah yang marah. Pada saatnya nanti, Penulis janji akan memberi tahu di mana sesungguhnya lokasi “tempat Warimin yang dulu”, tentu saja setelah warimin merasa siap untuk ditelanjangi identitasnya)
Jika tak ada yang salah dengan jalan hidup yang ditempuhnya, maka kenapa ia selalu resah dengan segala apa yang dia temukan di tempatnya yang sekarang?
Sejenak dia merenung, dan sekejap dia menemukan jawabnya. “Tentu saja kita tak boleh menyalahkan takdir”, pikir Warimin. “Kalau tak salah, dia pernah berfirman bahwa apabila kita tidak ridla dengan takdir-Nya, maka enyahlah dari bumi-Nya dan carilah Tuhan selain-Nya!”.
Ya, Bumi ini adalah Bumi Tuhan, sehingga tidak salah kalau Warimin menjejakkan kakinya di manapun jua. Akan tetapi bagaimana dengan manusia, yang sepertinya telah mengkontrak Bumi ini sebagai tanah hunian untuk selama-lamanya? Bagaimana dengan Bumi Manusia?
Di sini, Warimin kembali murung. Kembali Bingung.
Kalau kita sepakat memaknai bumi ini sebagai Bumi Tuhan, maka segala sesuatunya akan menjadi mudah. Warimin tak perlu serepot ini lagi. Di Bumi Tuhan, manusia melulu sama dan serupa. Tak ada manusia ini atau manusia itu. Tidak ada kulit ini dan itu. Tak perlu agama ini atau itu. Ras ini dan ras itu, dll. Dus, semuanya serupa, semuanya manusia, sama-sama bernaung di bawah tenda rahmat-Nya.
Lain lagi persoalannya kalau kita memandang bumi ini sebagai Bumi Manusia. Segala hal seperti menjadi rumit dan berbelit-belit. Yang ini mau itu, yang itu mau ini, dan seterusnya mereka tak pernah mungkin bersinggungan. Bumi Manusia, tak kurang tak lebih, adalah semacam relasi berbagai kepentingan dimana satu dengan yang lain tak jarang saling bertolak belakang.
Bagi Warimin, yang menganut paham bahwa Bumi ini adalah Bumi Tuhan –terbukti ia acap kali meloncat dari satu tempat ke tempat lain, situasi yang mirip dengan adegan anti-klimaks ini sangat sulit. Ia, misalnya, tak hendak membeda-bedakan manusia berdasarkan tanah kelahirannya, tapi mendadak ia dijerat oleh sebuah sistem Tribalisme-Sukuisme. Ia, misal lagi, tak ingin mengakui manusia hanya karena afiliasi-nya kepada suatu agama, namun sekonyong ia dihajar oleh sistem Teokratis. Ia, sekali lagi misal, tak hendak melihat manusia berdasarkan struktur sosial dan atau kedudukannya di tengah-tengah masyarakat, tak jua mau memandang manusia dari segi warna kulit dan/atau jenis kelamin, akan tetapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah sistem yang amat struktural, rasis dan bias gender.
Inilah Bumi Manusia, yang tak sekaligus berarti Bumi Tuhan.
Manusia diciptakan sebagai pemberi warna, pencipta stigma. Manusia ditugaskan untuk mengkapling-kapling bumi sedemikian rupa, sehingga yang sejumput itu pun dibagi-bagikan di antara sesamanya, meski mereka seringkali berebut. Karena inilah, barangkali, karya seni teragung dari Tuhan adalah manusia, dan bukan bumi itu an sich.
Warimin baru saja memahaminya. Di Bumi Manusia, memang beginilah adanya. Demikianlah seharusnya; Silang sengkarut, Saling sikut, warna bertebaran dimana-mana (karena ituah manusia seperti tak pernah berhenti mencari kambing yang berwarna hitam). Dan Warimin berjanji untuk tak pernah berhenti mencari hakikat kemanusiaan, meski terkadang ia sendiri merindukan dunia asalnya; Bumi Kecoa.

Palembang, 05 Agustus 2009
Hei
Engkau Kambing, Hitam!!!

Iklan

One comment on “Bumi Tuhan, Bumi Manusia

  1. Marzuki Bersemangat
    14/08/2009

    >ALhamDulillah,In the end you are online again

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/08/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: