Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Berhasrat Menjadi Manusia

Hidup di dua alam memang menyakitkan; melelahkan. Setidaknya demikianlah yang dirasakan oleh Warimin. Seekor kecoa yang mampu merubah dirinya menjadi manusia -atau manusia yang mampu menyembunyikan identitasnya dalam wujud kecoa? (Entahlah, wujudnya semakin tak jelas. Kecoa dan manusia, kedua jenis ini boleh diterapkan kepada Warimin secara bergantian). Terkadang ia mencandra rasa lelah menjadi manusia, dan karena itu ia kemudian merubah dirinya menjadi kecoa. Namun begitu, setelah menjadi kecoa ia merasa terasing. Ia sadar, ia telah disingkirkan dari lingkungannya yang mula-mula; Dunia Kecoa, hanya karena dia memiliki warna kulit yang berbeda.
Kelelahan Warimin menjadi sosok manusia juga bukan tak beralasan. Motif yang mendorongnya masih itu-itu juga; bahwa Warimin berbeda. Orang lain hanya menilai keanehan tingkah lakunya yang agak mirip kecoa. Dan, memang, sedikit banyak kekecoaannya memberi pengaruhi terhadap eksistensinya sebagai manusia. Tak jarang, Warimin lebih memilih duduk di dekat tempat sampah daripada di kursi mewah. Bukan, hal ini bukan karena Warimin mempunyai afiliasi dengan Kaum Kiri, yang cenderung melihat manusia secara struktural belaka, sebagai kalangan atas dan kalangan bawah, yang tertindas dan yang menindas. Sekali-kali bukan. Warimin hanya terbawa kebiasaannya ketika menjadi kecoa (Anda tahu kan, kecoa senantiasa mencintai kekumuhan?)
Di atas segalanya, menjadi dua makhluk yang berbeda pada saat yang bersamaan bukan merupakan hal yang gampang. Menjadi hipokrit itu sulit. Sebab itulah, Warimin tak pernah bisa menyembunyikan kekagumannya pada kaum Munafik Makkah; Musuh-musuh Nabi yang menopengi diri mereka dengan berpura-pura menjadi sahabat Beliau. Apakah mereka tak pernah merasakan barang sedetik saja rasa sakit yang muncul dari hati yang terbohongi? Ataukah mereka sudah kehilangan hati? Atawa telah hati mereka telah berubah pula; menjadi batu? Betapa hebat mereka! Betapa kuat!
Warimin juga terheran-heran dengan daya tahan manusia Indonesia, yang kata Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia, dicirikan dengan sifat hipokrit. Memang, tidak semua manusia Indonesia begitu –dan sangat relevan apabila buku Manusia Indonesia-nya Mochtar mengundang polemik dan kritik. Tetapi, sepertinya, pada umumnya manusia Indonesia begitu, terutama orang-orang jawa yang seringkali melumuri diri dengan ke-tiga bentuk hirarki bahasa mereka. Daya tahan inilah, yang dirasakan Warimin –sebagai manusia yang lama hidup di Jawa, hampir pecah. Daya tahan yang khas hipokritisme.
Satu lagi alasan, kenapa Warimin kini merasa letih hidup di dua alam. Anda barangkali tidak tahu bagaimana sakitnya ber-metamorfosa. Jika anda menjadi ulat, misalnya, Warimin yakin anda akan ragu-ragu merubah diri menjadi kepompong. Jika anda berkesempatan menjadi kepompong, umpamanya, anda akan enggan menjadi kupu-kupu. Namun karena ulat, kepompong, dan kupu-kupu diikat oleh suatu hukum bernama hukum alam, maka anda pun terpaksa, dengan kesakitan yang tak terperi, harus menjalani ritual metamorfosa itu. Anda tak pernah memahaminya, sebab anda tak pernah mengalaminya. Kita hanya tahu betapa menjijikkannya ulat, betapa menggemaskannya kepompong dan betapa indahnya kupu-kupu.
Hal yang sama juga berlaku pada seekor Warimin. Sebagai seorang kecoa, ia merasakan lara yang hebat pada saat ia merubah diri menjadi manusia. Sakit yang luar biasa. –Sakit banget tau!!! Namun, hampir sama dengan kupu-kupu, Warimin diikat oleh semacam hukum kebutuhan. Ia butuh merubah diri untuk mencari makan, mempertahankan diri, dan/atau kepentingan-kepentingan lainnya yang tak jarang bersifat tersier.
Berbagai alasan itu mendorong Warimin untuk segera menuntaskan dirinya. Ia merasa memang sudah waktunya melakoni tahapan eksistensi yang lebih tinggi. Karena ternyata Warimin juga manusia, maka dia juga berhak untuk memilih dan kemudian bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.
Betapa pun ia tahu bagaimana peliknya, Warimin akhirnya memutukan untuk menjadi manusia saja. Sebab hanya dengan menjadi manusia, pikir Warimin, orang bias bebas memilih untuk menjadi apa aja yang dia kehendaki. Orang boleh memilih untuk menjadi monyet, meski raganya tetap berupa manusia. Orang juga boleh memilih menjadi babi, walaupun tubuhnya masih juga manusia.
Kemungkinan-kemungkinan seperti inilah yang mustahil ia dapatkan apabila Warimin menetapi eksistensi-nya sebagai kecoa. Menjadi Manusia adalah jalan yang kini ia pilih, dan ia harus konsekwen dengan segala akibat yang mungkin ditimbulkannya. Pada detik yang sama ketika ia memilih untuk menjadi manusia, Warimin juga bertekad untuk tak pernah lagi menjadi kecoa. Ia tak mau disebut sebagai manusia kecoa, meskipun tentu saja pengaruh ke-kecoa-annya masih ada.
Warimin bertekad tak lagi menjadi kecoa.
Warimin berhasrat menjadi manusia.

Graha Al-Qur’an
Palembang, Rabu 05 Agustus 2009
Ada kata-kata
Berhasrat menjadi manusia juga

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/08/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: