Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Karl Marx, Sang Nabi

Suatu kali, Warimin mendengar sebuah pidato yang mutlak hanya berisi cemoohan. Bukan kritik, bukan masukan, tapi cemooh habis-habisan –kalau tidak boleh disebut sebagai pelecehan. Perbedaan kritik dengan cemooh memang amat sangat tipis. Orang boleh saja mencemooh, namun tetap menyebutnya sebagai kritik. Pada masa yang kritik adalah sebuah kelumrahan ini, orang memang akan lebih sering mencemooh daripada mengkritik yang, tentu saja, mengharuskan adanya kaidah-kaidah dan dasar-dasar ilmiah. Jangan jauh-jauh, Warimin sendiri adalah contoh yang bagus dalam hal ini. Dia suka obral omong sana-sini, sembur orang kesana-kemari, meski dia sendiri menyebut apa yang dia lakukan itu sebagai “kritik yang membangun”. Ya begitulah Warimin, apa yang dia ucapkan sekarang seringkali berbeda dengan apa mungkin diucapkannya besok. Warimin menyebut, seraya mengutip Ahmad Dhani, apa yang biasa dia lakukan ini sebagai Strategi In-Konsistensi. Ya, sebuah strategi bolak-balik, meloncat-loncat, dan tidak teratur. Orang yang tahu akan kepribadian Warimin yang aneh ini barangkali akan cepat mafhum, sembari segera berkata, “Wajar, lha wong dia kecoa kok, bukan manusia”.


Dan ini pidato, bukan sekedar ngobrol sebagaimana biasa dilakukan Warimin. Dapat diperkirakan, ada beberapa banyak orang berkumpul di sana, mendengarkan sebuah ceramah yang ternyata mengajak para audiens untuk berjama’ah mencemooh hanya satu orang. Suasana di sana mirip sebuah pengadilan, cuma saja si terdakwa tidak hadir (In Absentia), dan karena itu tidak berkesempatan untuk memberikan pembelaan. Tentu, bagi Warimin, ini sangat tidak adil, sebagaimana setiap Ghibah (rasan-rasan) selalu tidak adil. Apalagi, ternyata kemudian diketahui bahwa orang yang sedang dibicarakan itu telah meninggal dunia. Apapun dan bagaimanapun caranya, dia tidak mungkin lagi memberikan jawaban atas segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Orang yang dimaksud dalam kutukan-kutukan dalam pidato itu adalah Karl Marx.
Karl Marx adalah sebuah fenomena yang menarik. Dia diagung-agungkan di satu sisi, dan dikutuk, dicemooh, dicibir dll seperti dalam pidato di atas, di sisi yang lain. Sebagian terbanyak dari pencemooh itu adalah kaum beragama, disamping yang lain yang tidak sepakat, sebab belakangan diketahui bahwa pikiran-pikirannya mendorong pada suatu perilaku sosial yang anarkitis dan/atau pemerintahan yang despotis. Cemoohan kaum beragama ini sangat beralasan. Betapa tidak, para pendukung marx, yang lazim disebut dengan komunis itu, kerap beradu-otot (dalam arti yang sangat harfiyah, yakni bentrok dan maknawiyah, yaitu adu mulut) dengan mereka. Tidak tanggung-tanggung, Karl Marx sendiri juga pernah memperolok agama dengan mentasybihkannya kepada candu alias opium. Barangkali di sinilah mula-mula dendam itu disulut. Sayang sekali, oleh para pengikut dan sekaligus penentangnya, “olok-olok” Marx tersebut tidak diterjemahkan secara obyektif serta bukan dimaknai sebagai bahasa perlambang, melainkan melulu dipahami sebagai denotasi belaka. Tak pelak, darah pun tumpah dan cemoohan pun muncrat kemana-mana.
Memang, tidak banyak yang mampu mencerna “nasihat-nasihat” dari seorang Karl Marx. Tidak Warimin, tidak pula penentang dan pengikut-pengikutnya yang fanatis. Buktinya, ketika ajaran-ajaran Marx diselewengkan atau di-atasnama-kan oleh banyak pihak untuk merebut dan menikmati kekuasaan secara pribadi, mereka tidak mampu berbuat apa-apa dan malah mem-bebek saja.
Akan tetapi, yang menjadi masalah bagi banyak orang adalah bahwa tidak penting apakah teori atau ajaran Karl Marx itu benar atau tidak, diselewengkan atau tidak. Selagi ia mampu memberikan suntikan semangat dan bisa dipakai sebagai dopping pendongkrak tenaga untuk melepaskan diri dari belenggu kesengsaraan, maka bukan lagi masalah apakah yang diikuti ternyata melenceng dari tatanan-tatanan aslinya ataukah tidak. Maka kemudian banyak pengikut Marxisme yang terjebak pada kerangka pandang Stalinisme (nisbat kepada Joseph Stalin, pendiri kekaisaran Uni Soviet), atau setidaknya Leninisme (nisbat kepada Vladimir Ilyich Lenin, penggagas dan penggerak revolusi oktober di Rusia). Di sinilah teori-teori Marxis yang cenderung rasional, dan bahkan rumit, itu beralih wajah menjadi sekedar jargon-jargon hampa namun bombastis dan fantastis.
“Runtuhnya Kapitalisme”, “Perjuangan Kelas”, “Penghapusan Hak Milik Pribadi”, dan lain sebagainya, menjadi tema sentral dan jargon umum setiap gerakan yang mengaku memiliki afiliasi khusus dengan Karl Marx. Seakan-akan, dengan jargon dan cuap-cuap sedemikian rupa secara otomatis mereka bisa disebut Marxis. Apakah Marxis memang demikian? Karena amat kaburnya, bahkan Warimin sendiri pun tidak tahu. Yang sementara ini jelas adalah kenyataan bahwa gerakan-gerakan tersebut sangat radikal, dinamis, kritis dan mereka tanpa kompromi. Saking non-kooperatifnya sampai-sampai segala hal yang nyata-nyata adalah kritik buat mereka, ditolak mentah-mentah.
Tidak begitu mengherankan apabila kemudian mereka sangat gampang marah, mudah tersulut emosi dan provokasi. Sekali tangan kiri dikepalkan, pada saat itu pula semua harus dihantam tanpa ampun. Di sisi yang lain ketika ditanyakan kepada mereka penjelasan perihal “perjuangan kelas”, “runtuhnya kapitalisme”, “penghapusan milik pribadi” dan apalagi teori-teori ekonomi khas Karl Marx semisal “Nilai-Lebih”, “Penubuhan-Nilai” dan sebagainya, tentu saja mereka mengelak untuk menjawab. Bagi mereka yang penting pukul kapitalisme dan antek-anteknya! (Nah, ini juga tidak jelas. Apa itu kapitalisme? siapakah pula antek-anteknya? Apakah memboikot Coca-Cola dan atau Aqua-Danone adalah termasuk melawan kapitalisme itu, sementara kita tahu berapa juta pekerja akan terlantar jika saja Coca-Cola bangkrut? Bukankah perjuangan mereka diproyeksikan untuk membebaskan, dan bukan semakin menyengsarakan, para pekerja ini? Ataukah para pekerja ini telah juga disejajarkan dengan antek-antek kapitalisme yang pantas saja untuk dikorbankan?)
Berbagai kerancuan ini semakin membikin Warimin linglung. Sekarang, baginya, malah sudah tidak kentara lagi siapa dan/atau apakah sebenarnya Karl Marx ini? Kenyataannya bangkai Karl Marx, walaupun untuk sekedar teori-teori di dalam buku-bukunya, telah raib entah kemana. Marx tinggal menjadi sebuah nama, yang demikian suci dan sakral. Ia lebih daripada sekedar teoritisi, yang karenanya hanya seorang manusia biasa, namun di atas segalanya telah beranjak menjadi semacam Nabi. Ya, Nabi tanpa wahyu.
Di tempat nun jauh dari pekuburan bangkai karl Marx, seekor kecoa bernama Warimin menggeliat letih memikirkan teori-teori Marxisme.

Graha Al-Qur’an Palembang
18 Februari 2009

 

Iklan

4 comments on “Karl Marx, Sang Nabi

  1. marzuki
    09/04/2009

    >Bos Kok Nggak Ngapdute nieh…………..

  2. Anonymous
    13/04/2009

    >afwan, kawan. rutinitas hidup mencegahku untuk seperti yang dulu; rutin ke internet. hehehehe

  3. >gUS kULO AJENG MENG- COPY ARTIKEL PANJENENGAN NGGIEH

  4. Anonymous
    03/05/2009

    >nyumanggaaken

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/02/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: