Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Manusia Berkalung Rantai Baja

Ada-ada saja manusia. Sementara banyak orang di sana berebut jatah darah akibat serangan yang bertubi dan membabi buta, di sini, di Zamrud Khatulistiwa, orang-orang iseng memperdebatkan sorban. Sebuah film, yang menggunakan simbol-simbol keagamaan, terlibat dalam pro dan kontra yang cukup serius. Sebenarnya sih kasihan juga. Betapa tidak, belum lagi biaya produksi film tersebut lunas, sekarang ia mesti dihadapkan pada sebuah polemik yang ternyata itu-itu juga. Sebuah perdebatan tentang perebutan kuasa kebenaran atas pemaknaan agama

Warimin seperti agak risih mendengarnya. Alih-alih tergoda untuk menonton film kontroversi itu, ia malah asyik tenggelam dalam lamunan dan kenangan lama. Pada suatu saat yang antaberantah, yang tidak lagi dia ingat kapan terjadinya, memori Warimin membuka frase-frase tertentu dalam sejarah. Dia teringat Socrates, seorang filsuf yunani yang pernah dihukum bunuh dengan dipaksa meneguk racun oleh sebab tuduhan menyesatkan generasi muda. Suhrawardi juga mengalami hal yang sama karena suatu motif yang juga mirip. Di bumi jawa, sidang para Wali mengetuk palu mati bagi sang Djenar yang menyimpang. Dan pada Indonesia modern, Ki Pandjikusmin beserta beberapa pembela diantaranya HB. Yassin, diborgol untuk beberapa lama karena tulisan. Itulah juga yang terjadi pada Arswendo Atmowiloto. Akankah Hanung Bramantyo akan sama juga nasibnya, sementara sebelum itu dia dipuja-puji karena telah menghadirkan tontonan agamis yang bernuansa toleran, dalam label ayat-ayat cinta. Adakah yang salah?
Warimin setuju jika sebuah film dimaknai sebagai medium berekspresi para seniman. Dan dia juga sangat mendukung kebebasan berekspresi para seniman, sampai pada tingkat karya-karya para seniman tersebut tidak lagi mampu dikonsumsi publik. Ambil contoh, karya-karya lukis abstrak atau prosa-prosa surealis. Di sini kebebasan berekspresi para seniman amat kentara. Saking bebasnya seorang seniman bergulat dengan imajinasi dan pikirannya, sampai-sampai karya mereka mejadi tidak penting lagi. Bagi mereka, yang ada hanyalah kepuasan untuk mengeluarkan unek-unek.
Ini sangat Warimin pahami.
Sebaliknya, Warimin juga sepakat apabila sebuah film (dalam hal ini, film juga termasuk karya seni), yang jelas-jelas memainkan peranan penting dalam aras kultural sebab fungsinya sebagai tontonan, tidak membikin kacau nalar penikmatnya. Tidak sepatutnya seniman mentang-mentang dan mengatasnamakan kebebasan berekspresi.
Memang, dalam dunia seni ada istilah Art to Art, seni untuk seni, dimana seni adalah kategori yang berdiri untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, seni tidak harus terlibat dan/atau bertanggung jawab atas segala sesuatu di luar cakupan materialnya, seperti bertanggung jawab atas sosial, politik, ekonomi, agama dll. Seni adalah entitas yang independent, sejajar dengan kategori-kategori kultural yang lain.
Di sisi lain, terdapat idiom Art to Politic. Ini hanya satu contoh yang paling mewakili, disamping mungkin nanti akan berkembang idiom-idiom lain semisal Art to Religion, Art to Social Civilazation dll. Bahwa, dalam hal ini, seni harus diabdikan pada kategori lain di luar dirinya. Kesenian, bisa jadi, akan membantu dakwah keberagamaan, misalnya, sebagaimana mungkin saja kesenian dimanfaatkan sebagai propaganda politik suatu rezim kekuasaan tertentu.
Polemik diantara kedua konsep artistik di atas pernah berkali-kali terjadi pada dunia kesenian kita.
Nah, tinggal kita pilih dan memihak pada konsep yang mana, Art to Art ataukah Art to politic. Semua diserahkan kepada latar-belakang dan tendensi anda masing-masing. Anda, misalnya, boleh ngotot berpegang pada konsep Art to Art, untuk melestarikan kebiasaan anda mencumbu perempuan-perempuan yang anda lukis. Dengan demikian konsep Art to Art telah anda pelintir sebagai alat untuk membela diri.
Berpegang kepada pengamatannya terhadap realitas, Warimin lebih memilih konsep kedua. Prinsipnya sangat sederhana, Warimin sadar bahwa ternyata tidak sedikit karya-karya seni yang memberikan pengaruh tertentu pada penikmatnya. Tidak musik, sastra, film, atau yang lain. Ini berarti seni tidak berdiri sendiri. ia mempunyai tanggung jawab atas keberlangsungan unsur-unsur lain dalam kehidupan.
Nah, demikianlah, sangat wajar apabila kemudian terjadi kontroversi pada film Perempuan berkalung Sorban. Ini semakin membuktikan bahwa kesenian tidaklah berdiri sendiri. Karena lebih dari itu, ia bergumul, bergaul dengan dan kadang-kadang bahkan turut membentuk penilaian masyarakat. Indikatornya sangat jelas, yakni kontroversi itu sendiri. kontroversi ini dipicu oleh pandangan sebagian kalangan yang meyakini bahwa film ini akan memberikan efek yang tidak baik bagi masyarakat. Tentu saja, sutradara dan kru-kru film tidak terima dituduh seperti itu. Duar, bertemu dan bertarunglah dua titik ekstrem.
Apakah Film Perempuan berkalung Sorban akan melahirkan pengaruh baik atau buruk, sesungguhnya adalah lain soal. Jawabannya barangkali hanya kita temukan nanti. Sejarahlah yang akan membuktikan apakah ia benar atau salah. Kalau kemudian perdebatan tersebut terpaksa harus dilakukan sekarang, maka yang berlaku tidak lain adalah egoisme masing-masing peserta debat, meski belum tentu keduanya akan terbukti benar pada saatnya nanti.
Segala hal memang bergantung pada persepsi manusianya. Apalagi film, ia jelas interpretable. Kalau sudah seperti ini, maka yang tinggal adalah sejauh apa sebuah pendapat dapat bertahan. Sudah barang tentu, ini bukan lagi soal kuat atau tidaknya sebuah pendapat, melainkan telah masuk pada aras kekuasaan. Sesiapa yang mempunyai banyak massa dan lebih dekat dengan kekuasaan, entah itu kekuasaan politik, agama, atau yang lain, dialah yang menang. Karena itulah ada unen-unen bahwa, sejarah selalu berpihak pada pemenang dan ditulis dengan tinta kekuasaan.
Persoalannya telah beralih dari sekedar apresiasi terhadap film kepada perdebatan ideologis yang tanpa ujung. Makanya, tema-tema perdebatan akan melulu itu-itu juga. Ini karena otak kita tidak lagi bicara dengan jujur. Kesadaran kita telah dibebani oleh pemikiran, paham, madzhab dan ideologi-ideologi yang kita yakini. Ketidakjujuran ini pula yang membuat kita mengutuk film Fitnah dan memuja film kingdom to heaven, hanya karena film pertama memperolok Islam dan film yang kedua menunjukkan kehebatan Islam serta penguasaannya atas orang kafir. Akibatnya, sebuah karya anak manusia harus diberangus dan tidak diberi hak hidup sebagaimana mestinya.
Warimin menyebut ketidak-jujuran ini dengan fenomena manusia berkalung baja. Dimana manusia telah tidak mampu mengalah kepada selain otak dan pandangannya sendiri. warimin tidak ingin ikut, dan tetap bangga dengan kapasitasnya sebagai kecoa.

12 Februari 2009
Griya Al-Lathifiyah Palembang

 

Iklan

2 comments on “Manusia Berkalung Rantai Baja

  1. M. Prabu Revolusi
    19/02/2009

    >Satu Kata: Bubarkan Agama!!!

  2. Hanya Manusia
    22/02/2009

    >jangan gitu ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15/02/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: