Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kiri

Untuk Sahabat-sahabatku yang bernaung di sebelah kiri persimpangan jalan
Sahabat…
Sejak pertama kali aku terpikat oleh keharuman himmah kalian, kali itu pula aku memutuskan untuk selalu berdiri di jalur yang kalian biasa tempuh; jalur kiri. Betapun aku juga tahu, apa yang kalian rasakan adalah sebentuk kesakitan bertubi-tubi, yang menghunjam dari segala arah ke ulu hati. Kuresapkan kepedihan Karl Marx, yang harus berpindah dari satu ke lain penjara, yang harus rela sehari hanya menggenggam secuil roti saja. Kuhunjamkan tangis Frederich Engels, ketika harus menantang ke-aristokrasiannya sendiri, dan dengan begitu dia berseberangan jalan dengan keluarganya, demi menurutkan konsekwensi praktis dari ide-ide profetik membebaskan manusia dari jerat penindasan. Kuteguhkan semangat Antonio Gramsci, yang memelas kurus kering mendekam di dalam bui. Kutetapkan keteguhan Tan Malaka, dengan ideologi dan kecerdasannya yang terusir dari negerinya sendiri. Kukepalkan tangan Budiman Soedjatmiko, ketika harus menyerahkan diri kepada kepongahan kekuasaan.

Sahabat…
Aku dirangkul romantisme dan heroisme, sehingga aku pun tegar menghadapi cercaan, tudingan dan cemoohan yang dialamatkan kepadaku, akibat pilihanku yang menyempal dari kebiasaan. Aku percaya, bahwa aku saat ini sedang menapaki jejak-jejak para pahlawan.
Sahabat…
Radikalisme ini akan terus kupertahankan meski harus tanpa wadah sebagaimana sekarang kalian ada di sana. Bagiku. Marx, Engels, Tan Malaka, Budiman dan siapapun yang berada di jalur kiri tidak harus merupakan sebuah euphoria organisasi yang massif. Kiri adalah spirit, dan tanpanya sorang aktivis paling kiri pun akan kehilangan energi dan berubah reaksioner serta oportunistis. Kiri bukan perlambang dan hiasan yang kemudian hanya menjadi penggembira dalam percaturan perjuangan. Menjadi kiri tidaklah sebatas berteriak kesana dan kemari, menuntut itu dan ini. Sekali lagi, kiri adalah sebuah radikalisme di dalam hati. Bisa jadi, kiri adalah agama itu sendiri. Kiri adalah dopping yang memacu setiap langkah kita dalam memperjuangkan hak-hak manusia, dalam wujud dan format apapun juga.
Sahabat…
Menjadi kiri seperti berjalan di atas duri. Kesetiaan dan militansi total adalah biaya yang tidak kurang mahal. Apalagi, ketika kita harus menjadi kiri dihadapan diri kita sendiri. Menjadi kiri merupakan keadilan dan kejujuran bahkan sebelum dia diterjemahkan ke dalam realitas. Menjadi kiri haruslah, sebagaimana tercermin dalam Lenin, tidak kekanak-kanakan. Dan, karena itu, kiri adalah sebuah kedewasaan berpikir dan bersikap. Kiri bukanlah ketundukan total atas sekumpulan ide tertentu. Kiri tidaklah penyembahan salah seorang figur tertentu. Kiri janganlah fanatisme terhadap kelompok dan organisasi tertentu. Tapi kiri adalah sebuah kebebasan dan kejujuran dalam memilih dan berpikir, juga dalam berpihak kepada nurani. Kiri adalah Progresifitas.
Sahabat…
Kita boleh salut kepada Marx, Engels, Gramsci, Tan malaka, Lenin, Budiman Sudjatmiko atau siapa saja. Tapi tugas kitalah bukan menuhankan mereka. Seorang kiri haruslah seorang Free-Thinker yang senantiasa tidak terjebak oleh tipuan-tipuan klasik ideologis, dan selalu mampu membaca realitas yang seringkali berdusta kepada kita.
Sahabat…
Darah kalian yang tumpah adalah kemegahan borobudur, eifell, tembok besar, taj mahal, ka’bah dan monumen-monumen agung lainnya. Keringat kalian adalah kemeriahan sungai nil, amazon atau lautan hindia.
Sahabat…
Karena diam adalah penghiatan.
Kerena mundur adalah hancur.
Sebab berhenti berarti mati.
Maka,
Sahabat…
Aku akan tetap menjadi kiri.

Palembang, 06 Februari 2008
Warimin

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/02/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: