Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Khilaf-Ah

Ada beberapa orang yang mampu membikin Warimin gerah, kalau tidak boleh dikatakan marah. Akan tetapi, dia dilarang oleh hatinya sendiri untuk memerinci satu per satu dari mereka, apalagi menunjuk nama. Ini juga berkaitan dengan kenyataan bahwa orang-orang tersebut berafiliasi dengan organisasi yang memiliki networking berskala internasional. Tentu saja, melihat ini, Warimin agak keder, karena siapa berada dibalik Warimin? Tidak ada, tak ada satupun manusia atau bahkan jin yang mem-back up kegiatannya.
(Ini kalau kita menghitung secara pragmatis. Dan apabila anda-anda semua menghendaki model matematika yang lain, yang berkaitan dengan Energi Lain di Sana, maka anda berhak menggunakannya tanpa mempedulikan Warimin yang tak merasa perlu mencampuri urusan Tuhan. –Maafkan hamba-Mu ini, Ya Tuhan!!!-)
Kenapa orang-orang tersebut membuatnya resah? Betapa tidak, merekalah orang-orang yang, menurut Warimin, mengutip pepatah, “memanfaatkan kesempatan di tengah-tengah kesempitan”. Segala kejadian seakan-akan dapat dijelaskan melalui kaca mata mereka. Dan pada setiap kesempatan, mereka mencuri-curi celah untuk dapat mengkampanyekan apa yang mereka yakini sebagai ideologi. Tidak jauh-jauh, peristiwa agresi militer Israel ke Palestina baru-baru ini mereka terjemahkan sebagai bukti bahwa ideologi mereka pasti benar dan mutlak sedang dibutuhkan oleh dunia ini. Sebagai arus alternatif, mereka meramalkan keruntuhan barat dan kejayaan ideologi mereka di masa depan.
Warimin bukan tidak sepakat dengan aspek negatif yang dibawa oleh peradaban dan kebudayaan barat. Warimin juga bukan mereka yang tidak suka ketika mungkin nanti peradaban Barat susut secara alamiah. Tapi mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berhak mewarisi kepemimpinan dunia setelah barat jatuh? Oh, tunggu dulu…
Ya, anda barangkali telah mencium arah pembicaraan Warimin!
Pikiran Warimin tengah direpotkan oleh maraknya tuntutan dikembalikannya khilafah islamiyah ke muka bumi ini. Seruan-seruan tersebut seperti terlalu ambisius sehingga tidak jarang Warimin curiga. Memang, secara teoritis dan harfiyah, khilafah termasuk konsep penting dalam tata-politik menurut agama islam. Warimin tidak bisa memungkiri hal itu, karena kenyataannya hampir keseluruhan kitab-kitab fiqh senantiasa mengutip terma tersebut untuk merujuk pada konteks perpolitikan Islam. Kalau sudah begini, Warimin sudah tak berani lagi membantah. Namun, Warimin masih saja merasa ada yang janggal. Kenapa? Warimin sendiri tidak tahu.
Tapi, selidik punya selidik, setelah seekor kutu berhasil menyusup layaknya agen CIA ke dalam otak Warimin, diketahui beberapa informasi tentang pikirannya.
1. Missing Link
Warimin seperti merasa ada yang terputus, yang para pendukung khilafah tidak mengetahuinya (atau mereka sebenarnya tahu, melainkan mereka cukup bersikap acuh tak acuh?). Kenapa, misalnya, ide pendirian khilafah islamiyah baru muncul pada masa kini. Kenapa, contohnya dalam konteks Indonesia, Ulama-Ulama masa kemerdekaan menyepakati berdirinya Negara Nasional Indonesia, dan bukan Negara Internasional Islam saja? Apakah mereka tidak membaca fiqh, yang juga dibaca oleh dai-dai penyokong ide khilafah? Kalau sama-sama pernah membaca dan mengkaji dalam intensitas yang barangkali sejajar, kenapa hipotesis dan resep yang ditawarkan berbeda? Ataukah ulama-ulama jaman dulu memang berada dalam posisi yang terntimidasi, sehingga akhirnya ide khilafah harus mereka lepas? Nah, kenapa harus mereka lepas begitu saja, kalau khilafah memang benar-benar doktrin mendasar dalam agama Islam, lha wong mbah hasyim asy’ari saja samapai rela masuk penjara gara-gara menolak membungkuk ke arah Tenno Haika?
Sekali lagi, kalau memang khilafah adalah sebuah kebutuhan yang begitu mendesak, sebagaimana kebutuhan kita terhadap suplemen akidah, kenapa para ulama masih mengakui NKRI dan bahkan harus repot-repot membebaskannya dari belenggu penjajah?
Dari sini Warimin tahu bahwa memang ada upaya untuk mengaburkan sejarah, memotong garis historis. Apakah ada kepentingan-kepentingan tertentu di sana? Wallohu a’lam, Warimin hanya merasa bahwa yang menuntut khilafah itu juga manusia, yang tentu saja memungkinkan bersalah dan lupa.
Yang jelas, ada sejarah yang diputus (missing link). Ada tradisi yang dilupakan. Ada “ulama penyambung” yang diacuhkan. Dan, pada akhirnya, ada ketidakseimbangan dalam tuntutan atas khilafah islamiyah itu.
2. A-Historis
Warimin pikir, ide pembentukan khilafah islamiyah itu a-historis, dalam arti kurang memperhatikan sejarah. Bukankah khilafah pernah diuji-cobakan dan bahkan dipraktekkan selama bertahun-tahun pada pemerintahan islam klasik? Bukankah pada saat itu juga, pada fragmen-fragmen sejarah tertentu, khilafah tidak melindungi manusia dan malah memaksakan kehendak penguasa kepada mereka? Ingatkah kita pada peristiwa mihnah, dimana banyak nyawa beterbangan hanya sebab bersebrangan dengan ideologi resmi sang kholifah?
Alih-alih, konsisten dengan khilafah dan kesejahteraan rakyat yang bakal diperintahnya, ketika seumpama diangkat menjadi kholifah, Warimin akan seenaknya mengambil kebijakan dan malah bertingkah “khilaf-aaaaahhhh”. (khilaf biasa diartikan sebagai kesalahan).

Sampai di sini, penyusupan si kutu di-endus oleh Warimin. Dia kemudian mengambil pengorek telinga dengan harapan kutu CIA tersebut konsentrasi penyelidikannya terganggu. Benar saja, kutu CIA terasa geli dan kemudian nggak betah terus-terusan di dalam kepala Warimin. Kutu itu akhirnya keluar lewat lubang hidung. Dia terlempar keras dari sana, sebab pas dia keluar pas Warimin bersin. Kasihan kutu itu!!!
Tapi apa boleh buat. Bukankah Warimin hanya seekor kecoak, yang boleh berbuat seenaknya? Tentu saja dia berbeda dengan ras manusia yang selalu dibebani sistem etika. Tapi bukankah manusia juga boleh berbuat seenaknya, apalagi ketika memegang kekuasaan yang tak terbatas, sebagaimana saat menjadi khalifah?
Kalau tidak, silahkan dibuktikan!!!

Villa Keluarga Al-Qur’an
Palembang, 23 Januari 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/02/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: