Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Obama

Ada sedikit kesamaan antara Warimin dengan Obama. Bahwa keduanya sama-sama memiliki kulit yang berwarna. Hanya saja, warna kulit Warimin agak kehijau-hijauan sebagai imbas dari kenyataan asalinya yang adalah seekor kecoa berwarna hijau, sementara Obama berkulit hitam.
Tidak hitam-hitam amat sih, karena ternyata bapaknya obama termasuk pengikut tradisi pernikahan multi-ras, termasuk pernikahannya dengan salah seorang wanita Indonesia, yang membuahkan Maia Sutoro.
Kesamaan warna kulit ini penting, setidaknya bagi Warimin. ini karena pada akhirnya ia mendapatkan tempat berteduh juga. Sebagai sesama kulit berwarna, Warimin merasa bangga karena “saudara”nya tersebut berhasil menyabet predikat yang hampir-hampir menjadi sesuatu yang sakral, yang disembah oleh seluruh dunia. Ya, presiden Amerika, raja dirajanya dunia. Seakan-akan yang menjadi presiden itu bukan lagi Obama, melainkan Warimin sendiri, sebab terlalu bahagianya sehingga dia pun mabuk dan akhirnya mengkhayalkan posisi tersebut. Ah, tentu saja Warimin akan berkilah dengan menggumam; “Obama itu saudaraku, karena itulah aku turut bahagia atas terpilihnya dia sebagai presiden. Bila perlu kita harus mengadakan selametan demi kemenangan ini”.
Bukan hanya itu. Bagi Warimin, dan juga mungkin bagi Obama, warna kulit menjadi urgens untuk diangkat sebagai isu sentral karena pada hakikatnya warna kulit adalah cermin dari diskriminasi. Dia yang berkulit berwarna adalah mereka yang tertindas, terpinggirkan, termarginalkan, terasingkan, tersepelekan, terpojokkan, terlupakan hak-haknya. Dus, korban yang terdiskriminasi. Kulit hitam, di Amerika sana, adalah minoritas yang melulu tertindas. Mereka selalu dipandang dengan sebelah mata. Mereka tak ubahnya kelilip, yang mengganjal kelopak mata orang kulit putih. Dan Obama datang. Dielukanlah dia sebagai pembebas kaum hitam-amerika (Afro-Amerika). Diharapkanlah dia menjadi penerus dari Martin Luther King, sang pembela kulit hitam yang sekaligus berkulit hitam.
Begitupun Warimin. Dia ditolak masyarakat kecoa-nya hanya gara-gara berkulit hijau. Dia dikafirkan, dimurtadkan dan ujung-ujungnya dicopot statusnya sebagai anggota dari komunitas kecoa. Betapapun, dia tetap mencintai kodrat kemakhlukannya sebagai kecoa, sebagaimana Obama, yang katanya hanya berpikir tentang manusia tanpa membeda-bedakan warna kulit. Dia ikhlas ditelantarkan dan diasingkan.
Betapa cintanya Warimin pada kekecoaannya, sampai-sampai dia tidak begitu kerasan dengan kulit manusianya. Kulit baru itu membuatnya gatal-gatal, geli dan kadang-kadang menimbulkan bercak-bercak nanah yang diidentifikasi dokter sebagai penyakit kulit. Tidak jarang juga, kulit manusianya ditumbuhi jamur, bakteri, kuman dan lain-lain dalam wujud panu, jerawat, kudis dan seterusnya. Dia bosan, namun dia sudah terlanjur tak bisa kembali masuk komunitas kecoanya. Hanya sesekali saja dia mlungsungi, kembali menjadi seekor kecoa di setiap closed yang mampu dia temui.
Sementara Obama melenggang ke gedung putih, Warimin masih saja mendekam di kamar mandi, menghayati kekecoaannya, sembari beberapa kali mengutak-atik otaknya.
Kali ini I’tikadnya goyah. Dia sangsi terhadap masa depan kebijakan dari saudara kulit berwarnanya itu. Di tengah kemelut kemanusiaan yang melanda dunia akhir-akhir ini, pikir Warimin, Obama tentu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Krisis ekonomi di internal Amerika, belum lagi soal krisis berdarah di jalur gaza.
Suatu kali, dalam kampanyenya, Obama bertekad untuk lebih memprioritaskan kebijakan dalam negeri. Para pengamat politik telah memprediksikan hal itu, dengan menimbang preseden-preseden dalam negeri Amerika yang semakin lama semakin memburuk. Namun yang namanya Amerika, dipaksa untuk jangan ikut campur urusan orang lain (baca: rumah tangga Negara lain), tetap saja tidak bisa dan tidak mungkin. Persoalannya adalah Amerika termasuk dalam lima besar Dewan Keamanan PBB, yang memiliki hak veto atas nasib jutaan manusia di Bumi ini. Wal hasil, Amerika musti mengambil sikap, dan sikap tersebut tentu saja tidak boleh lepas dari konteks yang berlaku. Atau gampang omongnya, Amerika dilarang a-historis.
Masalahnya, pikir Warimin lebih lanjut, konteks yang berlaku dalam kasus Israel vis a vis Palestina adalah bahwa Israel merupakan anak emas dari Amerika sendiri. Betapapun manusiawinya seorang Obama, karena derajatnya yang Presiden, dia sekarang dikutuk untuk patuh kepada birokrasi yang terlanjur nepotis itu. Sikap diamnya menunjukkan bias double standard tersebut. Di satu sisi, hatinya menangis melihat jutaan liter darah yang tumpah, dan di sisi lain dia terikat oleh kesepakatan dengan Israel yang terlanjur menjadi rahasia umum. Dihadapkan pada formalisme birokrasi, sekuat apapun komitmen Obama pada kemanusiaan, dia pun tak berkutik. Sebagai presiden, ia terpaksa harus mengikuti prosedur keamanan khusus dari paspampres elite (secret service). Sebagai presiden, ia diikat oleh protokol standard yang kini memaksanya untuk keluar dari kebisaaan yang low profile, sederhana, apa adanya dan dekat dengan massa rakyat. Pada intinya, ba’da resmi menjadi presiden, Obama pun ditaklukkan oleh adat istiadat birokrasi.
Karena itulah lantas Warimin resah. Harapan-harapan yang dia sandarkan pada pundak saudaranya tersebut seperti hendak luluh begitu saja. Warimin pesimis Obama akan menebarkan kedamaian di muka Bumi. Warimin tidak yakin Obama akan menghadirkan perubahan untuk dunia. “Obama terjerat sistem”, pikirnya. Kalau tradisi Amerika adalah membunuh, maka Obama pun akan membunuh juga. Terbukti, akhir-akhir ini dia berkoar bahwa ancaman terbesar bagi Amerika adalah tetap, Al Qaeda. Dan hal ini mengingatkan kita kepada pendahulunya, Bush sang Pembantai, yang menghisap ribuan manusia atas nama pemberantasan terhadap terorisme. Juga mengingatkan kita kepada rezim Israel yang melantakkan gaza demi alasan membasmi teror HAMAS.
Apakah Obama akan seperti ini juga? Yang jelas Warimin telah terlanjur skeptis. Selagi Amerika tetap Amerika, Obama pun bukan lagi Obama sebagaimana terlansir dalam kampanye-kampanye. Skeptisisme yang sama yang juga dialamatkan Warimin kepada setiap calon legislatif dan/atau eksekutif di Indonesia.
Lalu Warimin juga trenyuh, kenapa sambutan masyarakat Indonesia begitu antusias, bahkan terkesan berlebihan? Puja-puji terus-menerus meluncur. Padahal, Warimin khawatir, suatu kali nanti, ketika Obama ternyata benar-benar menyalahi janji, masyarakat Indonesia bakal menelan ludahnya sendiri. Bisa dipastikan, pada saat itu, mereka akan terus berapologi, sebagaimana hal itu sering terjadi kini.
Siapa Warimin yang berani ngomong seperti ini? Pengamatkah dia? Bukankah dia hanya seekor kecoa?

Vila Keluarga Al Qur’an
Palembang, 19 Januari 2009

 

2 comments on “Obama

  1. hehehe
    07/02/2009

    >yups!!!q juga kepikiran ky’ geto

  2. Hanya Manusia
    22/02/2009

    >masa’ sih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21/01/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: