Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Mendadak Trenyuh Mendadak Super Hero

Semua memang serba mendadak dan mengejutkan. Banyak hal yang kemudian tak bisa dijelaskan, karena ternyata tidak sesuai dengan kehendak dan rencana manusia. Tuhan seperti selalu hanya bisa berbuat sewenang-wenang kepada hamba-hambaNya. Dalam hal mencipta, menetapkan takdir dan/atau menorehkan kehendak, Dia hampir selalu tak pernah mau berembug dan bermusyawarah. Dia terus melaju sendirian, disetujui ataupun tidak disetujui oleh Dewan Kemanusiaan.
. Sementara itu, di bawahNya, manusia sibuk mencerna, memahami, mentafsiri apa-apa yang mungkin menjadi kehendak-Nya, tanpa peduli pada apakah interpretasi tersebut memang benar-benar sesuai dengan pikiran-Nya atau tidak. Yang jelas, manusia telah berusaha mengeksplore kemampuan kemanusiaannya yang paling hakiki; kemampuan berpikir dan mencari jawaban (juga alasan?).
Inilah yang lantas terjadi pada sebagian besar manusia di hampir keseluruhan belahan bumi pada akhir-akhir ini. Mendadak dan tanpa dinyana-nyana, Israel meng-agresi palestina. Israel sendiri beralasan bahwa serangan tersebut dipersembahkan demi kedamaian dunia. Luncuran bom dan berondongan peluru mereka adalah untuk membasmi teroris yang selama ini selalu memakan korban dari warga mereka. Teroris itu nernama HAMAS, kata mereka lebih lanjut.
Di sisi lain, HAMAS juga tidak bersedia bernegoisasi, karena katanya mereka tahu bagaimana watak sebenarnya dari Israel. Tujuan Israel, bagi mereka, bulan lain adalah ingin menguasai sisa-sisa tanah Palestina yang memang tinggal sedikit lagi habis dilahap. Israel adalah monster yang rakus dan kelaparan, maka mungkinkah HAMAS menyerahkan diri dan tanahnya untuk sekali lagi dikunyah mereka? Dan HAMAS tetap bertahan. Tetap ngotot defensif.
Di atas segalanya, tanpa peduli pada argumen dari kedua kubu, ratusan nyawa terbang. Ribuan darah mengalir deras. Dan mendadak banyak orang trenyuh. Banyak orang prihatin. Banyak orang marah. Termasuk diantaranya, barangkali, adalah Warimin.
Trenyuh, sedih, prihatin dan marah itu menggumpal dan memuncak menjadi guliran semangat. Sebagian orang hendak nekad ikut berperang dengan hanya bermodalkan parang, pencak silat, dan kemampuan militer yang serba minimal. Semangat tersebut telah menghapus ingatan bahwa yang akan mereka hadapi adalah pesawat tempur dan senapan-senapan kelas wahid. Sebagian yang lain mau mengirimkan dana kemanusiaan yang dirupakan sebagai obat-obatan, donor darah dan lain-lain. Asumsinya, rumah sakit di palestina telah penuh, dan tentu saja telah kehabisan stok. Yang ini lebih rasional meski akhirnya terganjal juga oleh birokrasi pengiriman. Apakah akan sampai benar ke tangan mereka yang terluka? Entahlah, barangkali saja dana yang tidak kecil tersebut pada akhirnya di-embat juga oleh mental manusia kita yang terlanjur korup. Wallohu a’lam.
Warimin juga trenyuh, juga sedih, juga marah, juga prihatin, namun warimin tidak sanggup berbuat apa-apa kecuali hanya berkomentar. Ngomong sana-sini, menyalahkan pihak itu dan ini. Apa boleh buat, baginya ini yang paling realistis yang bisa ia donorkan. Ya, sumbangan pikiran. Soal apakah opininya ini akan dipakai atau tidak adalah urusan belakangan. Sikap ini ia ambil karena ternyata banyak pihak yang menyalahkan sikap ke-kanak-kanakan dari kita sendiri yang seperti memiliki kemampuan hebat sehingga sampai berani-beraninya nekat pergi ke palestina. Padahal… mau bunuh diri? Bukankah ini semakin merepotkan negara saja? Tidak kurang akhirnya MUI, tempat nongkrong para ulama’ itu pun ikut turun tangan melarang umatnya bersikap tidak realistis.
Hanya saja warimin heran terhadap dirinya sendiri dan apalagi orang-orang di sekitarnya. Semua seperti bersicepat memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan ini. Semua seperti ingin menjadi Super Hero yang datang di kala keadaan telah genting dan darurat. Tidak mereka yang ingin pergi ke palestina saja, melainkan mereka yang juga menyumbangkan keringat kemanusiaannya untuk dikirim ke palestina. Seperti juga hasrat menjadi hero dari warimin sendiri atau orang lain yang hanya bisa berkicau. Lingkar keprihatinan tersebut berkamuflase menjadi semacam kebanggaan di dalam hati mereka, apalagi untuk warimin. Bahkan, siapa yang tidak ikut-ikutan prihatin dan sedih boleh jadi akan dituduh sebagai tidak berperi-kemanusiaan. Dus, sedih dan prihatin berakhir menjadi sekedar trend, dan menjadi komoditas jualan media massa.
Warimin juga terkaget-kaget melihat riak kesedihan tersebut. Ia terhenyak, kenapa baru sekarang empati itu datang? Dan kenapa hanya pada palestina? Kenapa, misalnya, dulu saat saudara kita sendiri di negeri indonesia ini, diinjak-injak haknya, kita diam saja? Kenapa pada saat keluarga kita sendiri yang bekerja mencari sesuap nasi dan kemudian digusur atau digebuki oleh aparat, terus kemudian kita hanya bergeming? Kenapa ketika beberapa dari kita dipukuli akibat memeluk agama tertentu yang mereka yakini kebenarannya, terus kemudian dihujat, dilempari batu, dipukuli, kita malah meringis saja?
Butakah kita? Tulikah kita?
“Ah, setidaknya manusia Indonesia masih menyisakan empati, meski Cuma sejumput!!!”, pikir Warimin menenangkan kegundahannya. Kenapa Warimin harus bingung, bukankah dirinya hanya seonggok kotoran di sela-sela sampah, yang keberadaannya saja tidak pantas untuk diakui? Bukankah dia kecoa? Atau manusia Indonesia memang sedang berhasrat untuk menjadi sejenis dengan Warimin, menjadi masyarakat kecoa?

Vila Keluarga Al Quran
Palembang, 12 Januari 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21/01/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: