Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Masyarakat Kecoa

Ras manusia goncang oleh tsunami. Hanya kali ini, badai tersebut bukan bermula dari alam, melainkan dari pusat kedalaman manusia itu sendiri. Orang-orang menyebutnya krisis kemanusiaan, di mana martabat manusia dipertaruhkan di bawah kolong-kolong tempat tidur. Dikencingi oleh ompol anak-anak mereka yang masih bayi. Menjadi sarang kotoran tikus. Menjadi kasur empuk gerombolan kecoa.
Manusia, hilang dimakan masa. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa manusia memang sudah mati, tak ada lagi. Derajat manusia telah melorot pada jurang yang rendah, bahkan lebih rendah daripada martabat kecoa. Tidak ada manusia yang benar-benar manusia. Sebagian bilang, jenis manusia itu banyak; ada manusia setengah kecoa, manusia setengah kera, manusia setengah kucing atau manusia setengah ular. Manusia setengah dewa? Bulshit, itu hanya ada dalam lagu.
Warimin sangat menyadari hal itu. Tapi warimin memang bukanlah manusia setengah kecoa. Sebaliknya, Warimin adalah kecoa setengah manusia. Sebagaimana telah dikisahkan dulu, hanya secara kebetulan saja Warimin mampu merubah dirinya menjadi manusia dan kemudian mempelajari peradaban mereka. Warimin pun bergumul dengan banyak jenis manusia. Kebanyakan dari pergumulan tersebut membuat Warimin ketawa-ketiwi, sebab pada saat yang sama dia merasa seperti berada pada dunia asalnya, dunia kecoa. Akan tetapi Warimin sejak lampau telah bertekad untuk tidak keterusan menjadi manusia. Ia menyadari bahwa rangka kemanusiaannya mudah terserang virus, mudah rusak, sementara badan kecoanya terbukti tahan banting.
Betapa mengherankan, sebagian terbesar manusia, seperti dilansir dalam hasil wawancara Warimin sendiri, malah merasa enjoy dengan keadaan yang memilukan ini. Banyak orang telah merasa menjadi paling hebat, superior, jenius dll karena telah berhasil menumpahkan darah saudaranya sendiri. Melumpuhkan keluarganya sendiri. Menekuk adiknya sendiri. Membantai kakak kandungnya sendiri. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Kebejadan-kebejadan semacam itu seperti telah menjadi lauk-pauk sehari-hari. Padanannya bukan lagi tahu, tempe dan sayur asem, melainkan sushi, kentucky, pizza dan coca cola. Ibarat makanan, kebiadaban-kebiadaban tersebut layaknya makanan yang berkelas hotel bintang lima. Jadi, laku-laku kejam tersebut memang telah menjadi semacam ritual rutin. Seperti ibadah, ia bahkan lebih dari sekedar menjadi kewajiban, sebab ternyata ia berhasil memberi kenikmatan dan kepuasan spiritual.
Ya, menumpahkan darah adalah ibadah.
Inilah memang kenyataannya. Siapapun tidak bisa memungkiri. Bahkan kalau ada argumentasi-argumentasi yang lain yang menyangkal hal tersebut, tentu saja itu hanya apologi. Kenyataannya adalah bahwa masyarakat manusia telah bermetamorfosis menjadi masyarakat kecoa. Betapapun siapa akan mengelak, alasan-alasan tersebut hanya semakin memastikan keberadaan masyarakat kecoa ini.
Masyarakat manusia kini adalah masyarakat kecoa yang selalu memaksakan diri agar selalu disebut sebagai manusia. Esensinya kecoa, meski rangkanya manusia. Dan Warimin berada di tengah-tengah mereka, hampir-hampir dia termanusiakan juga. Tentu saja kemanusiaan yang dimaksud di sini adalah kemanusiaan dengan mental kecoa. Warimin menolak. Warimin mengelak, dan terus menerus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya memang benar-benar kecoa, bukan kecoa yang memanusia dan apalagi manusia yang kecoa. Just Coro !!!

Vila Keluarga Al Quran
Palembang, 12 Januari 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21/01/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: