Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Jawa

Jawa adalah mind-set. Jawa adalah identitas. Jawa adalah pembeda. Jawa adalah suku. Jawa adalah ras. Jawa, katanya, juga adalah paradigma dan sistem etika. Tapi, kini, jawa bukan lagi segalanya. Keagungan majapahit telah tumpas. Legenda jawa telah dibakar terik masa. Orang-orang jawa telah raib sedemikian rupa, hingga jawa pun tak lebih dari sekedar titik geografis di seputaran selatan Indonesia.
Inilah yang akhir-akhir ini menjadi pusat keresahan Warimin, sang kecoa. Setelah diusir dari tanah kelahirannya, Republik Kecoa, selanjutnya dia pun harus meninggalkan tanah tempat dia tumbuh dalam kulit manusianya, sebagai “seorang”, dan bukan “seekor”. Ya, demi sesuatu hal yang entah apa, yang kadang dia tafsirkan secara magis bahwa peristiwa apapun adalah rahasia sang Penguasa, Warimin kini hengkang ke sumatera. Di sini, di sebuah lingkungan yang tak mutlak homogen, status ke-jawa-an Warimin menjadi sebongkah pertanyaan yang tak jarang membikin dirinya resah. Betapa tidak, tipikal wajah yang dipilih Warimin dulu terlanjur berstruktur jawa. Kadang-kadang dia menyesal, kenapa dulu dia harus memilih tipe jawa, kenapa bukan yang lebih general saja? Misalnya, wajah Indonesia? Tapi adakah wajah Indonesia, bukankah Indonesia juga mencakup banyak hal yang membikinnya tak mudah dipahami, semudah mengulek rujak?
Ah, kenapa juga dia harus bersedih. Toh dia telah diberi kekuasaan untuk memilih, sementara manusia yang lain terpaksa harus menerima keputusan-Nya. Kalau kemudian Warimin harus menyesal, maka yang harus dia sesali adalah kebodohannya sendiri. Kenapa, misalnya, waktu itu dia tidak benar-benar mendaya-gunakan akal sehatnya dan malah menuruti relung emosianalnya belaka? Kemarahan sebab terusir dari tanah-airnya tercinta? Kayak manusia aja si Warimin ini. Padahal kan dia kecoa!
Tapi benar, persoalan perbedaan tanah kelahiran ini menjadi serius bukan hanya bagi Warimin, lebih dari itu buat orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Di sini, keturunan asing, semisal jawa, harus dipandang dengan sentimentalia yang khas rasisme. Sebagai contoh kecil saja, orang-orang jawa seperti “dilarang” oleh kesepakatan, yang kebanyakan tak terucap secara eksplisit, untuk menduduki posisi-posisi tertentu yang bagi penduduk asli adalah milik mereka. Posisi tersebut sebagian berbentuk kekuasaan adat dan agama. Bagi mereka, orang jawa adalah ancaman yang setiap saat akan menyerobot dan bahkan membuat punah penduduk asli. Dalam hal ini, orang jawa dipahami sebagai sosok-sosok imperialis yang menghasratkan koloni. Maka tidak mengherankan kalau kemudian muncul konflik seperti yang pernah terjadi di Sambas, Kalimantan. Di situ, keberadaan orang rantau bergesekan dengan sense of minority dari penghuni asli.
Sungguhkah perbandingan-perbandingan kesukuan ini berlaku? Kenyataannya, Warimin masih senantiasa dihantui oleh rasisme kecil-kecilan ini. Mungkin karena memori Warimin terlanjur merekam kisah-kisah menyeramkan perihal benturan-benturan di sekitar perbedaan bahasa, suku, agama dan lain-lain.
Namun begitu, Warimin juga yakin bahwa wong jowo memang kari separo. Orang jawa tinggal separuh. Ini hanya perlambang, memang. Namun apabila ditelisik lebih jauh, anda barangkali akan membenarkannya juga. Bahwa orang jawa, kini, seperti telah disinggung di atas, memang telah tinggal nama. Dari segi antropologis dan kebudayaan, hampir boleh dikatakan orang jawa telah habis dilahap jaman. Mereka telah berbaur dengan sedikitnya kebudayaan nasional, dan apalagi peradaban global. Jika memang masih ada bahasa, masakan, kesenian atau bahkan warna khas orang jawa, maka hal itu bisa dipahami sebagai sekedar artefak-artefak kebudayaan belaka, dan bukan kebudayaan itu sendiri.
Ada yang menyebutkan, ini akibat pembangunan yang berat sebelah, sehingga manusia Indonesia harus menghilangkan ciri khas dan kepribadiannya. Kebudayaan, oleh ideologi developmentalisme, hanya dipahami sebagai semacam kesenian dan karena itu harus dieksploitisir sebagai obyek pariwisata. Dus, kebudayaan manusia Indonesia yang beraneka ragam tersebut berhenti pada panggung dan taman-taman. Di sisinya yang lain, yang sepertinya kelam itu, manusia Indonesia diasingkan dari dirinya sendiri. Perilaku dan/atau sudut behavorial mereka kini mengacu pada standard nasional atau global yang, celakanya, seragam.
Sebenarnya, Warimin tak mau ambil pusing dengan teori-teori, tapi mau apalagi. Dia, dan generasi yang setara dengannya, dihadapkan pada problematika yang lumayan serius. Dia, dan generasi yang setara dengannya, merindukan kearifan-kearifan tradisional yang barangkali tak pernah mereka kecap, namun mereka tahu hal itu ada. Kalau, pada konteks 45 dulu, orang-orang sama meneriakkan Indonesia, sama menghendaki persatuan di tengah-tengah perbedaan, sehingga sampai-sampai banyak di antara mereka yang melepaskan jati diri kedaerahan, maka Warimin dan kawan-kawan menghasratkan ketenangan yang mereka tahu hanya ada pada alam tradisional, alam daerah. Mereka suntuk dengan hipokritisme berjama’ah yang seakan-akan mengagungkan nasionalisme dan persatuan nasional namun tetap saja yang digunakan adalah ukuran-ukuran kedaerahan, jiwa dan mental yang rasis.
Bukan feodalisme, memang, yang dirindukan warimin, tapi ketundukan yang tulus. Bukan kepengecutan, tapi komunalisme yang guyub.
Warimin memang tak mau disebut jawa, tapi berharap memiliki kearifan orang-orang jawa. Warimin tak hendak mengunggulkan jawa, tetapi ingin menyebarkan ketundukan tulus khas orang jawa.
Ah, Warimin sampai lupa, bukankah dia non-manusia? Kenapa dia harus menuntut ini dan itu kepada manusia? Ah warimin, bersabarlah menjadi seekor kecoa!!!

Villa Keluarga Al Qur’an
Palembang, 20 Januari 2009

 

One comment on “Jawa

  1. phie2
    03/02/2009

    >lam kum boz…!!!sebenarnya pengen kirim imel tapi gara-gara alamat imel pean raib bareng ha-pe ku(hehehe…), so lewat ni aja,,,boleh ga’ minta tolong bukain kitab2 tafsir???tugasku belum kukerjain sama sekali niy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21/01/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: