Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Israel

Warimin sedang nongkrong di depan komputer, ketika surat kabar harian versi digital mengabarkan darah yang tumpah di Palestina. Israel, yang katanya Negara boneka kaum zionis itu, lagi-lagi bikin ulah; membombardir jalur gaza dengan dalih hendak membersihkannya dari unsur militan dan fundamentalis HAMAS.
Bagaimanapun alasannya, bagi Warimin, ini sudah keterlaluan. Di tengah masyarakat Islam menggelar perayaan tahun baru Muharrram, tiba-tiba saja didapati sebongkah kado bersampul merah berisi mayat-mayat manusia. Pelecehankah? Penistaankah? Penghinaankah? Yang jelas, seorang teman Warimin dari daerah nun jauh di sana, mengeluhkan fenomena ini sebagai Tragedi Karbala kedua, dimana pada As Syuro yang juga berada dalam jangkauan bulan Muharram, cucu Nabi berikut para pengikutnya dibantai di sebuah padang di seputaran Irak. Saat itu, kepala Husein Rodliyallohu ‘anhu dilepaskan dari sandaran lehernya; dipotong, dipenggal dan kemudian dijadikan permainan layaknya sepak bola.
Dan selanjutnya teman Warimin menangis, entah sedang memikirkan apa. Melihat hal itu, Warimin pengin muntah. Lho kok?
Betapa tidak, melihat temannya itu Warimin justru teringat pada absurditas sekaligus ambiguitas yang selama ini ditunjukkan oleh berbagai kalangan dari seluruh dunia. Warimin teringat pada PBB, pada Amerika, pada Negara-negara tetangga pada Palestina sendiri, pada israel juga pada Indonesia. Dia juga teringat temannya yang lain yang waktu itu ngotot hendak pergi ke Mesir. Namun, tujuan utamanya justru bukan mesir itu sendiri, sebagaimana pada umumnya mahasiswa Indonesia pergi ke sana untuk belajar. Fokus kepergiannya justru adalah palestina. Dia memang pamit pergi ke mesir, tapi setelah itu dia menyebrang ke Palestina, dimana dia kemudian menjadi Relawan Mujahidin. Masya Alloh, dan sampai sekarang Warimin belum mendapatkan kabar dari temannya yang unik ini.
Untuk PBB, Warimin mengenangnya sebagai sosok wanita tua yang ringkih yang telah tak mampu menyelesaikan persoalan global. Untuk kasus ini saja, PBB hanya menunjukkan kecaman pada Israel, tanpa melakukan upaya-upaya konkrit dan spesifik mengatasinya, semisal dengan memberi sangsi. Kinerja PBB memang lamban, sehingga organisasi ini tak mampu bersikap tepat sedetik setelah kejadian pembantaian itu terjadi. Sementara itu, beberapa hari sejak penyerangan pertama, pihak Israel diwakili sang perdana menteri Ehud Olmerd telah mengeluarkan manuver-manuver pemutar-balikan fakta dengan menguasai wacana media massa. Kenapa kemudian yang menjadi kambing hitam adalah HAMAS? Padahal faktanya adalah Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan karena telah memberondong dan membantai manusia, titik itulah yang mestinya menjadi pusat perhatian PBB dan lain-lain organisasi berlevel internasional. Apapun alasannya, kejahatan kemanusiaan harus ditidak-tegas. Ataukah, PBB dan lain-lain itu, telah sama saja dengan yang lain, sebagaimana dicuirigai, menjadi kambing congek Israel? Wallohu a’lam.
Untuk Amerika, Warimin bertanya-tanya; “Hai Polisi dunia… Apakah kamu sekarang turun derajat menjadi sekedar satpam keamanan Negara Israel?”
Untuk Indonesia, Warimin berkata; “Tidur sajalah !!!”.
Untuk negera tetangga yang berdiri di sekitar Palestina, Warimin melihat sebuah keharuan total dari mereka, namun tentu saja mereka tidak bergerak dan tidak berani. Warimin teringat Negara Mesir yang memang berbatasan langsung dengan Palestina. Suatu kali, oleh Israel, Palestina di embargo secara ekonomi. Listiknya diboikot. Bahan makanan ditahan. Dan apa yang Warga Palestina lakukan? Masya Alloh, mereka puasa. Namun, betapa keterlaluan, embargo tersebut direncanakan akan lama. Dan setelah kurang lebih satu minggu, Warga Palestina tidak tahan. Sebagian mereka lari ke perbatasan menuju mesir. Tapi apa yang terjadi? Pemerintah mesir malah menutup gerbang perbatasan tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Warimin juga teringat pada suatu momen ketika pasukan Palestina berhasil memukul mundur dan bahkan memenangkan pertempuran. Seluruh jazirah Arab bersorak sorai, seakan-akan kemenangan tersebut berasal dari jerih payah mereka sendiri. padahal, mereka hanya menonton pertarungan itu dari seberang dengan memakai pesawat televisi, sebagaimana mereka menonton pertandingan sepak bola. Mungkin saja, waktu itu mereka menonton sambil makan pop corn!
Kepada Israel, Warimin hendak bilang, “kalian hebat… kalian tanpa tandingan… kalian bangsat… kalian bajingan…”.
Kepada Palestina, “betapa akan berlimpah Haflah Syuhada yang akan kalian selenggarakan!!!”
Dan kepada dirinya sendiri, warimin berkata lantang, “Kenapa engkau Cuma mampu mengutuk? Kenapa engkau hanya bisa menyalahkan? Kenapa engkau suma bisa mengecam, atau apakah engkau Cuma menginginkan perhatian, bahwa engkau termasuk dia yang peling simpatik, paling punya kehendak baik? Kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau, kenapa engkau….”.
Warimin menggelepar di tanah, kembali menjadi kecoa.

Rumah Damai Al-Lathifiyah
Palembang, 01 Januari 2009

Iklan

4 comments on “Israel

  1. marzuki wacanaan
    05/01/2009

    >Men’s piye kabare tambah semangat ae…..al-hamdulillah Mbah Men’s saya dapat ngakses kamu lagi………Juki men’s alias Badri teman yang sok……….Men’s tambah jos ae…..

  2. asetyangcocok
    05/01/2009

    >kendati habis jaman iniakan selalu berdiam, siapa?yang patuh!tahan bukan soalhanya konstektualmasalah itu modalbegeming siapaun mampuberfikir semuanya tahusensitif harga jual ludahhanya influecemimpi di atas ikan duyungtidak ada kecuali nama.

  3. hoyongbageur
    08/01/2009

    >oh ya? jangan lupa bilang ke israel, kapan gilirannya indonesia???

  4. locke-hakim
    21/01/2009

    >thanks atas semua komentarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/01/2009 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: