Elha Husnan

Man Syakka Wajada

The Cangkrukers

Kepada Kang Jalal dan Antonio Gramsci
Tidak ada yang aneh pada judul di atas bukan? Jangan, anda tidak perlu repot-repot mengasosiakan judul tersebut dengan nama dari sebuah band yang akhir-akhir ini sering muncul di layar televisi. Warimin dan kawan-kawan tidak sedang latah. Mereka telah sama-sama berjanji untuk tidak seperti pemuda Indonesia pada umumnya, dimana otak mereka, mengutip WS. Rendra, telah terlanjur dipabrikkan. Iklan telah membombardir gaya hidup dan pola pikir mereka. Bagi the Warimyn sindycate, remaja Indonesia adalah korban iklan. Di mana rejim kapital telah menjadi semakin berkuasa dan memperbudak.
The Cangkruker’s adalah sebutan Ibu penjaga sekaligus pemilik warung TWS untuk rombongan Warimin. Sang Ibu memang bukan remaja lagi, sehingga dia musti gaul dan harus menghapal nama-nama Band terbaru. Tetapi putera-puteri beliau, yang rata-rata berumur sekolah menengah, tentu memiliki sense of music juga sebagaimana remaja se-usia pada lazimnya. Maka, tidak heran, sang Ibu pun ketularan hapal lirik-lirik lagu yang sedang in. Bukan karena sang ibu memang kepincut pada musik-musik yang baginya seperti desahan para bencong itu. Sang Ibu hapal karena terpaksa hapal, sebab si Wati dan si Gino, anak pertama dan kedua beliau, tak pernah berhenti merapal mantra-mantra cengeng itu, apalagi di dalam jeding. Mereka kerap berlama-lama di tempat ini.
Demikianlah, Warimin dan kawan-kawan diberi label baru oleh sang ibu; The Cangkrukers. Nama yang beliau adaptasikan dari sebutan sebuah band yang lagu-lagunya sering diteriakkan oleh si Gino. Jadi nama itu tidak dikehendaki oleh Warimin dan kawan-kawan. Bahkan nama itu juga didapat secara spontan, berdasarkan nalar kreatif ibu TWS, sementara nama Changcuter’s (band yang dijadikan rujukan), dia dapatkan juga karena keterpaksaan. Wal-hasil, nama Cangkruker’s untuk Warimin dan kawan-kawan adalah nama yang dipaksakan (oleh Ibu TWS), dan Ibu TWS memperoleh inspirasinya dari sesuatu yang juga dipaksakan.
“beginilah manusia…”, celetuk Warimin tiba-tiba. Namun begitu, teman-temannya yang lain tidak ada yang berkomentar. Semua seakan telah tahu apa yang hendak dicelotehkan Warimin. Semua mereka seperti telah disihir untuk masuk menuju alam pikiran Warimin. Semua tersedot.
Ya, beginilah manusia. Warimin bukan saja tidak setuju pada pola pemikiran kaum Mu’tazilah, yang pernah menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas, yang dilengkapi dengan potensi Free Will, kehendak bebas. Tidak, Warimin sama sekali tidak percaya dengan produk pemikiran ini. Kalau kemudian ada sebagian orang yang berusaha menghidup-hidupkan (Re-Vitalisasi?) pemikiran mu’tazilah hanya karena ingin menyesuaikan diri dengan alur pemikiran modern, maka Warimin bakal menentangnya mati-matian. Habis-habisan!
Warimin bukan musuh dari Mu’tazilah. Dia, Insya Alloh, tidak memiliki dendam pada siapapun. Dus, penentangan Warimin bukan karena dia memihak atau mempunyai afiliasi pada kelompok ideologis tertentu. Lebih dari itu, Warimin menolak karena sentimentalia yang melekat di dalam dirinya berkaitan dengan tema-tema keterasingan, keterpinggiran dan, tentu saja, penindasan atau eksploitasi.
Warimin termasuk beberapa orang yang teramat peka terhadap kepincangan dan ketimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Dia lebih gandrung berada di pinggir ketimbang ongkang-ongkang di pusat kekuasan, meski tidak sedikit Pengurus partai yang meminangnya untuk menjadi Calon Legislatif. Dia lebih bahagia cangkruk di atas kursi kayu daripada tidur di kursi Pearlemen. Warimin adalah kiri di tengah mayoritas yang kanan, atau sebaliknya, dia beralih menjadi kanan di tengah semua yang kiri. Yang pemting baginya adalah nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan, tidak peduli hal itu muncul dari mulut anjing sekalipun. (Ingatkah anda bahwa warimin sendiri adalah seekor kecoa yang pura-pura menjadi manusia?).
Apa hubungannya dengan Mutazilah dan, yang terbaru, neo-mu’tazilah? Bagi warimin, mu’tazilah tidak cuma mengajarkan berpikir dan berkehendak bebas. Namun lebih menakutkan dari sekedar yang dipikirkan tentangnya, pola pikir liberal ala mu’tazilah dan neo-mu’tazilah, ternyata hanya menebarkan semacam narkotika yang membius kemanusiaan. Pada prinsipnya, mu’tazilah dan neo-mu’tazilah tidak benar-benar menawarkan kebebasan berpikir dan berkehendak, sebaliknya ideologi ini hanya meniupkan mimpi-mimpi kebebasan. Yang akhirnya diambil oleh khalayak awam adalah justru ketidak-konskuenan dalam berpikir dan bertindak, sementara dibalik itu semua mereka dihisap tanpa perlu merasakan sakitnya secara langsung.
Kita tengok saja, alam modern yang katanya ber-platform kebebasan ini. Kebebasan malah menghantarkan masyarakat pada hukum-hukum pasar dimana yang paling kuat adalah yang berkuasa. Kebenaran diukur dari siapa pemenang dalam kompetisi dan persaingan. Sementara itu, persaingan sehat dalam suasana yang bebas hanya rekayasa dari sekelompok kecil orang yang memegang otoritas monopoli. Bulshit. Tidak ada persaingan bebas, mereka yang lebih superior di tengah konstelasi pasar telah menata pasar sedemikian rupa sehingga mereka tidak mungkin lagi dirugikan. Logika kebenaran pasar (dimana dihembuskan kebebasan di sini) adalah untung dan rugi. Mereka yang lemah digencet oleh perusahaan-perusahan besar yang berkualitas jaringan multi-nasional. Puncaknya, “alam bebas” tak lebih sebagai jargon kampanye eksploitasi terselubung.
Maka, mu’tazilah dan neo-mu’tazilah tidak lebih dari abstraksi yang tak pernah jadi. Kebebasan kehendak, yang pada ujung ekornya muncul istilah kebebasan pasar hanyalah intellectual gimmick belaka. Sebagai produk pemikiran, ia memang menggiurkan, namun dibalik itu ia sebenarnya menghantam pemikiran wajar. Penuh kontradiksi internal.
Akan tetapi, wallohu a’lam, sebab ternyata memang beginilah manusia. Dia terlanjur bernasib pasrah. Kalau kemudian didengar jargon-jargon yang kelihatannya emansipatoris, maka dengan segera anda wajib mencurigainya. Seperti kecurigaan kita kepada kampanye-kempanye partai politik yang over-sloganistis itu.
Ah, beginilah manusia. Dan kawan-kawan Warimin pun memecah keheningan dengan serentak mengucapkan Na’udzu billahi min dzalik. Kopi mereka telah dingin. The Cangkruker’s baru sadar kalau jama’ah tersebut telah ngendon demikian lama dalam dunia pikir yang seragam. Mereka telah berpikir tentang hegemoni, namun mereka sendiri hanya mampu bersembunyi di balik Idealitas sang Warimin.
Hati kecil warimin berbisik sendiri, “enakan jadi kecoa, hehehe”.

Selasa 23 Desember 2008
Graha Al-qur’an, Palembang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: