Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Menolak Demokrasi

Demokrasi adalah terma yang sering diperdebatkan. Tidak disebutkan had (definisi) yang jelas tentangnya. Bahkan pada masyarakat yang telah mengadopsi demokrasi sebagai asas kenegaraan ini, demokrasi seringkali dimanfaatkan sebagai tameng pengabsah (baca; justifikasi) untuk melegalkan tindak kejahatan dan pelanggaran hukum. Di sini, kesewenang-wenangan dan intimidasi dilindungi oleh asas demokrasi.
Betapapun, Warimin dan kawan-kawan ikut nimbrung membicarakan demokrasi. Satu per satu dari mereka mengemukakan pandangannya tentang demokrasi.
“Demokrasi itu bebas bersuara!”, tukas Jhonny. “Tengok buktinya, setelah reformasi 2008, dimana katanya kran demokrasi yang sebelumnya tersumbat kini terbuka lancar, banyak bermunculan band-band baru. Kenapa? Karena demokrasi mengajak kita untuk bebas bersuara. Lihatlah lagi, cuma berkat demokrasi saja, akhirnya kita bisa menikmati diskotik bahkan di desa-desa. Suara musik ajeb-ajeb telah boleh beroperasi dimana-mana”.
“Salah!”, sahut Jonathan buru-buru. “Demokrasi adalah bebas memilih. Jadi kalau kita dulu hanya bisa makan nasi jagung dan lauk ikan asin yang dibakar, maka sekarang sudah ada KFC, Restoran Padang, Bakso Solo Mas Mun, Pizza Hut, dan lain sebagainya. Nah, di alam demokrasi ini, kita disuguhi banyak alternatif, meski pada akhirnya pilihan tetap ada di tangan kita. Tinggal pilih yang mana, tidak ada yang dipaksa dan memaksa lagi. Tapi yang jelas, di alam demokrasi ini, ente-ente terpaksa harus say good bye pada nasi jagung dan ikan asin bakar. Tidak apa-apa, yang penting kan masih banyak alternatif yang justru lebih mewah dan elegan”.
“Bener juga!”, sambut Andi yang sejak tadi cuma manggut-manggut.
“Kurang tepat”, suara Alfredo terdengar lantang. “bagi ane, demokrasi itu bebas berekspresi. Tanpa kebebasan berekspresi, pembicaraan tentang demokrasi terasa nonsense. Sampeyan-sampeyan tidak mungkin bisa makan enak di KFC, Pizza Hut atau apa-lah, kalau kebebasan sampeyan untuk mengekspresikan rasa lapar atau selera makan disumbat. Band-band juga tidak mungkin muncul jika kebebasan untuk berekspresi itu dihadang. Nah, bagi ane, semua yang sampeyan-sampeyan utarakan tadi benar. Hanya saja masih kurang. Sebaliknya, kebebasan berekspresi adalah unsur yang paling penting dalam demokrasi. Bagaimana tidak? Di alam demokrasi-lah ekspresi kelaparan menemukan bentuknya yang paling natural. Disinilah, orang bebas mengekspresikan dahaga terhadap harta melalui korupsi berjama’ah. Di sini pula, korupsi menjadi tradisi yang turun temurun. Pencurian pun dianggap sah”.
Warimin cuma senyum mendengarkan ocehan kawan-kawannya. Baginya, diam adalah implementasi yang paling murni dari demokrasi. Sebagai pengejawantahan, sikap diam merupakan ketulusan yang elegan dalam berdemokrasi. Di saat orang pada rebutan bicara tentang pokok masalah tertentu dengan bebasnya, sikap diam malah menjadi pilihan Warimin. Diam adalah restu, pikir Warimin. Dan sesiapa yang merestui kebebasan berbicara, berpendapat, berekspresi dan berserikat adalah Demokrat sejati. Mereka yang banyak bicara, banyak berpendapat, benyak berekspresi dan lain-lain itu tidak lebih dari kroco-kroco kaum demokrat (jangan dikacaukan dengan nama salah sebuah partai kontestan Pemilu lho!!!). Mereka masih belajar tentang arti demokrasi, sementara warimin dengan sikap diam yang merestui, telah benar-benar naik pada derajat pendeta suci demokrasi. Ya, seperti pada umumnya orang bijak, Warimin telah mampu mengarifi demokrasi.
Namun heran, di bagian lain pada negeri demokrasi ini, terdapat sekelompok orang yang hendak membunuh demokrasi dengan menunggangi prinsip-prinsip demorasi itu sendiri. Mereka telah menikmati kebebasan bersuara, berpendapat, berekspresi dan berserikat, akan tetapi suara, pendapat, ekspresi dan serikat itu mereka pakai untuk menolak demokrasi. Atas nama ideologi keagamaan tertentu, mereka mengatai demokrasi sebagai kontra-agama. Demokrasi, kata mereka, berasal dari Barat dan karena itu menolaknya berhukum fardlu kifayah.
Mereka tidak sadar kalau corong yang mampu membikin lantang suara mereka adalah demokrasi. Tanpanya, barangkali organisasi yang mereka anut dan yang semacamnya, tidak bakalan diperbolehkan hidup. Sejenak Warimin hendak study banding secara virtual ke Negara Mesir. Di sana, yang notabene mempunyai banyak stok ulama’, organisasi-organisasi penentang barat dilarang eksis. Ikhwanul Muslimin diburu. Pemimpin-pemimpinnya digantung. Betapa tidak demokratisnya Negiri Sungai Nil itu.
Sekarang, di sini, di negeri yang betapa demokratis ini, demokrasi ditolak. Ah, habis manis sepah dibuang. Atau memang malin kundang akan selalu tidak mengakui darah daging dan ibunya.
Untung saja, Warimin tidak ber-ibu manusia dan menyukai sepah. Warimin kan kecoa. Jangan lupa!!!

Rabu, 24 desember 2008
Rumah Damai Al-Lathifiyah Palembang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: