Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Front Penghina Insan (FPI)

Warimin terlihat murung. Dadanya seperti sedang ditindih beban berat. Napasnya berbobot. Matanya nanar. Tanpa sadar, hatinya menangis.
Betapa tidak? Masih berputar-putar dalam ingatannya, seorang perempuan dengan ubun berdarah-darah, mengerang kesakitan akibat terkena pukulan nyasar dari segerombol orang berseragam putih. Berserban putih. Bersenjata kayu. Di sela-sela sedu tangis, perempuan itu menggumamkan nama anak-anaknya yang tadi sore ngotot meminta uang untuk biaya pembayaran Iuran Pembangunan Sekolah. Malam itu, ketika sang ibu bekerja keras memeras keringat membunuh malu, tiba-tiba saja gerombolan putih muncul dan mengobrak-abrik semuanya. Memecah kaca jendela. Menghancurkan petromak-petromak lampu di sepanjang Pub tempat sang Ibu bekerja sebagai Pelayan Minuman.
Di seberang lokasi, Warimin sendirian berdiri. Menatap dan merenungi puing-puing bangunan serta artefak-artefak kemanusiaan. Dalam kesendirian, Warimin menggerutu, “Huh… Kenapa agama semakin tidak mampu mengayomi umatnya?”.
Warimin menyebut mereka yang berjubah itu sebagai Front Penghina Insan. Sebutan itu sendiri diambilnya dari akronim yang biasa mereka pakai, dimana huruf depan menjadi kunci julukan. Apa yang mereka anggap sebagai pembelaan terhadap agama (dalam hal ini islam), bagi Warimin, tidak lebih daripada penghinaan terhadap kemanusiaan secara umum, dimana agama pun tidak sah menjadi ajang pembenaran penumpahan darah.
Kemanusiaan telah terkoyak. Dan agama telah tidak mampu menjadi payung kemanusiaan. Agama telah semakin eksklusif, sementara ia selalu mengaku menjadi basyir (kabar gembira) bagi umat manusia. Adakah yang salah? Apakah yang salah?
Sebutan Front Penghina Insan muncul dari kepala Warimin, barangkali karena ia terlanjur marah, benci dan mendendam. Dus, ketika itu ia tidak lagi mempergunakan daya pikir yang jernih. Setelah beberapa saat, ia baru menyadari bahwa hujatan tidak cukup dihadapi dengan hujatan balik. Bahwa kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan. Bahwa intimidasi mesti “diserang” dengan piranti toleransi.
Tapi baiklah, Warimin tetap akan menyebut mereka dengan julukan Front Penghina Insan, untuk sekedar memudahkan dan sekaligus menarik hipotesis lain dari gerakan massif dan ofensif tersebut.
“Front Penghina Insan tetaplah saudara kita, yang barangkali Ghirah keagamaannya memang lebih di atas kita”, pikir Warimin. Dia sendiri tidak bermaksud mengasoasiasikan gerakan ini dengan segala macam konspirasi yang memang mungkin ada. Bahwa bagi sebagian orang yang berafiliasi pada kelompok lain yang berseberangan, dibalik Front Penghina Insan terdapat oknum-oknum besar yang memback-up segala kegiatan Front, untuk tujuan-tujuan tertentu yang bersifat politis. Ambil contoh Peristiwa Monas pada Juni 2008. Bagi beberapa orang, peristiwa tersebut hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian masyarakat, yang pada saat itu memang sedang dilanda kegelisahan akibat kenaikan harga BBM. Front Penghina Insan dikerahkan dan dimanfaatkan untuk mengubah opini umum yang berpusat pada persoalan ekonomi ke arah sentimentalia yang lain yang lebih dalam, yakni tendensi keagamaan. Wal hasil, masyarakat pun akhirnya melupakan Tragedi kenaikan harga BBM dan kemudian memfokuskan perhatian pada Tragedi Monas.
Sekali lagi tidak, Warimin bukan orang-orang itu. Warimin hanyalah satu saja yang gelisah karena agama telah dibikin kotor oleh amis darah. Warimin sepakat dengan keharaman maksiat, tapi bukan berarti maksiat harus dibasmi dengan sekaligus membantai pelakunya. Maksiat adalah sebuah sifat pekerjaan, yang karena itu akan terus hidup dimana dan kapanpun, dengan atau tidak dengan adanya Undang-Undang. Dengan atau tidak dengan munculnya kaum yang berjubah putih yang bersenjatakan tongkat kayu. Sebagaimana ada hitam ada putih, maka ada pula kebenaran dan keburukan, ada juga kemaksiatan dan ketaatan.
Tugas umat beragama adalah meninggikan kualitas kemanusiaan yang benar-benar menghargai manusia dan memberikan hak-hak mereka untuk bertaubat. Untuk menuju ke arah sana, umat beragama harus memberdayakan manusianya dan bukan memberangus mereka. Yang dibutuhkan adalah pendampingan, bukan penghancuran. Pendidikan, bukan pendudukan (baca; hegemoni dan kolonialisasi). Agama menang tidak karena dia secara formal berkibar. Bisa-bisa ia semakin menindas. Agama adalah kepatuhan dan keikhlasan, dan bukan ketakutan dan kekhawatiran.
Karena itulah, Warimin mengacungkan lima jempol terhadap semangat keberagamaan saudara-saudaranya di Front Penghina Insan. Namun di sisi yang lain, dia mengacungkan jari tengah karena ternyata saudara-saudaranya tersebut telah bermetamorfosis menjadi musuh kemanusiaan.
Di atas ini semua, Warimin teramat menyadari bahwa selalu ada dua sisi dalam setiap hal. Ada sifat Jalal dan Jamal bagi Alloh. Ada malam yang membikin manusia begidik, dan ada siang yang membuat ketakutan manusia tersingkap. Begitupun, ada Penghina juga ada Pembela. Tapi siapakah yang sebenarnya menyumbangkan pembelaan dan siapakah yang malah menghadirkan penghinaan? Wallohu a’lam, toh Warimin hanya seekor kecoa.

Rabu, 24 desember 2008
Rumah Damai Al-Lathifiyah Palembang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: