Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kurban, Korban dan Qurban

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin 2 Palembang, “Al-Akhbar”. Memang bukan murni hasil pikiran kami, karena ternyata materi lunak dari tulisan ini hampir kesemuanya dikutip dari tulisan Gus Mus dengan judul yang hampir sama. Mohon maaf kepada Gus Mus, karena santrimu yang satu ini telah nekad membajak tulisanmu. Tapi apabila justru dengan pembajakan ini, makna kehadiranmu dan hikmat kebijaksanaanmu dapat diterima oleh umat, maka biarkanlah si kerdil ini berdosa.

بسم الله الرحمن الرحيم

Ru’yal Anbiyaa’ wahyun. Mimpi para Nabi adalah wahyu. Demikian dituturkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sabda tersebut beliau maksudkan sebagai penjelasan atas kisah di dalam Al-Qur’an perihal Nabi Ibrahim AS. yang suatu hari dihunjam mimpi-mimpi aneh agar beliau menyembelih putera terkasihnya, Ismail AS. (Pada suatu riwayat diutarakan bahwa yang disebut sebagai dzabihulloh adalah Ishaq AS., bukan Ismail. Namun karena riwayat tersebut dicurigai telah disusupi ide-ide asing dari tangan para ahli kitab sehingga jumhur ulama’, termasuk di dalamnya adalah Ibnu Katsir Sang Penafsir, melalui beberapa banyak hujjah, akhirnya berkesimpulan bahwa “sembelihan Allah” yang sebenarnya itu adalah Ismail AS). Dikatakan aneh karena kalau benar mimpi tersebut adalah ru’yah shodiqoh yang berasal dari Allah SWT, lantas kenapa yang termaktub di sana adalah perintah menyembelih darah daging yang baru saja dikaruniakan oleh-Nya sendiri? Belum lagi si anak termasuk kategori kesayangan karena ternyata dia terbukti tumbuh menjadi kanak-kanak yang sholih?
Masih terngiang di benak kita, Firman-Nya dalam As-Shaffat, bahwa Ibrahim suatu kali meminta:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholih”

Dan doa tersebut lalu dijawab oleh allah SWT, seperti tercermin pada ayat selanjutnya dalam surat yang sama:
فَبَشَرْنَاهُ بِغُلا مٍ حَلِيْمٍ
“maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”

Ismail adalah anugerah Allah kepada Nabi kita Ibrahim disaat usia beliau telah beranjak 63 tahun. Betapa bahagianya beliau, setelah melalui proses penantian yang panjang akhirnya doa beliau dikabulkan. Bayangkan seumpama kita berada pada posisi Nabi Ibrahim, usia 63 tahun bagi kita termasuk masa-masa yang uzur untuk menimang bayi, bukan? Namun begitu Nabi Ibrahim bahagia luar biasa. Sebab di sisi lain –sebagaimana telah disinggung sebelumnya- Sang Putera Ismail telah mamuaskan dahaga kerinduan terhadap “rekan seperjuangan”, yang siap mendampingi beliau mengibarkan Agama Allah, yang tidak sekalipun beliau temukan pada figur orang tua dan para tetuah kaumnya. Mereka itu telah terlanjur cinta kepada berhala, sementara seruan Ibrahim ke arah tauhid tidak pernah mereka pedulikan.
Kini ada Ismail yang sekaligus menjadi pelipur hati yang sedang gundah. Akan tetapi, mendadak pada hari itu -8 dzulhijjah, yang kemudian terkenal dengan sebutan hari tarwiyah-, Ibrahim memperoleh ilham perintah untuk menyembelih darah dagingnya sendiri yang amat ia sayangi. Betapa gelisah, betapa gundah. Dan pada hari selanjutnya, yaum ‘arafah, Ibrahim semakin memantapkan diri bahwa ini adalah perintah dari Allah SWT. Betapapun sulit, kehendak Allah harus didahulukan daripada kehendak nafsu! Kita ingat, betapa Sang Khalilullah pernah berikrar atas dirinya sendiri: “inna sholatii wa nusukii wa mahyaaya mamatii lillahi rabbil ‘alamin. bahwa sholat, ibadah, hidup dan matiku adalah untuk Allah semata”.
Demikianlah, maka peristiwa mimpi itupun Beliau ceritakan pada Ismail, sang putera. Apa lantas pendapat Ismail? Masya Allah, ia berucap; “yaa abati if’al maa tu’mar, satajidunii minas shobirrin. Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Subhanalloh, Ismail telah benar-benar mewarisi bakat bapaknya yang berbentuk spirit untuk tunduk dan pasrah kepada segala yang diperintahkan Yang Maha Satu, Allah SWT.
Teladan Nabi Ibrahim dan Ismail inilah yang setiap sekali dalam setahun diulang-ulang pada satu momen yang bernama ‘idul adlha. Hari raya kurban, yang pada hari itu umat muslim berbondong-bondong menyembelih binatang ternak sebagai simbol dan napak tilas kisah penyembelihan Ibrahim atas Ismail (walaupun yang terakhir ini akhirnya diganti oleh Allah dengan seekor binatang ternak untuk mereka sembelih karena dianggap telah lulus dalam ujian). Namun demikian, apakah kita bersama telah menghayati makna dari kurban, korban dan Qurban, dimana ketiganya telah didemonstrasikan dengan apik oleh kedua kekasih Allah tersebut?

***
‘Idul Kurban atau Hari Raya Adlha yang jatuh pada tanggal 10 bulan dzulhijjah, juga biasa disebut dengan Hari Raya Haji. Karena pada detik-detik itulah umat Islam yang diberi kemampuan untuk pergi ke tanah suci melaksanakan rukun-rukun Haji. Di lain sisi, pada centang waktu yang sama, umat islam merayakan kembaran idul fitri tersebut dengan menyembelih hewan ternak sebagai tanda bakti kepada Allah SWT. Ritual penyembelihan ternak inilah yang dimaksud dengan Kurban (memakai ‘u’).
Dengan ritus tersebut, diharapkan agar umat Islam yang mampu bersedia menyisihkan beberapa genggam penghasilannya untuk dibagikan kepada yang lain. Lebih dari itu, hewan kurban yang terlibat dalam ritus ini adalah juga bukti nyata ketaatan kita kepada Allah SWT. Betapa tidak, mengapa kita musti bersusah payah merogoh kocek untuk sesuatu hal yang bukan saja tidak murah, akan tetapi juga tidak begitu kentara manfaatnya, terutama bagi diri kita sendiri. Bukankah biaya yang dipakai untuk membeli ternak tersebut adalah hasil perasan keringat kita sendiri?
Nah, disinilah dibutuhkan semangat untuk berKorban (dengan ‘o’). Seperti Nabiyyuna Ibrahim yang telah memasrahkan dirinya mentaati perintah untuk menyembelih putera kesayangan. Juga sebagaimana halnya Ismail yang telah dengan gagah dan sabar merelakan nyawanya sendiri untuk disembelih demi menjalankan perintah Allah SWT. Semua ini adalah teladan sabar dan contoh semngat berkorban yang agung. Masihkah ada pada masa sekarang keikhlasan untuk berkorban yang sedimikian hebat, yang telah berhasil menyembelih pamrih ke’aku’an?
Karena semangat pengorbanan yang sedemikian tulus itulah, kholilulloh Ibrahim dan puteranya ‘alaihimas salam, memperoleh kedudukan yang begitu tinggi di hadapan-Nya, sebuah tempat terdekat di sisi-Nya, sebagai kekasih-kekasih-Nya. “keduanya telah membuktikan bahwa pernyataan mereka (inna sholati wa nusuki dst) tulus. Mereka benar-benar memurnikan kepasrahan hanya kepada Allah. Mengakui dan menyadari bahwa kepemilikan hakiki hanya pada Allah. Bahwa semuanya, tanpa kecuali, adalah milik Allah. Tak terbagi dengan siapapun, termasuk dengan diri sendiri”, kata Gus Mus (KH. Musthofa Bisri, Rembang).
Begitulah pada akhirnya, sesembelihan kurban disertai dengan semangat berkorban yang tulus mengantarkan kita pada kedekatan yang luar biasa kepada Allah. Hal ini sangat mungkin apabila tujuan kita dalam berkurban dan berkorban adalah untuk Qurban (Taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT). Inilah arti penting dari perayaan ‘Idul Kurban pada setiap tahun. Ia seakan-akan terus menerus mengingatkan kita untuk berkaca sejauh manakah spirit berkorban semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah berakar pada urat nadi kita. Seberapa besarkah makna tersebut mengelayut dalam setiap langkah kita. Ataukah ritus perayaan ini tinggal menjadi pesta pora belaka, tanpa penghayatan untuk membenahi mutu kehidupan sama sekali?
‘Ala kulli hal. Semoga pada tahun ini kita dapat merayakan ‘Idul Adlha dengan ketulusan dalam mengagungkan Allah. Dan bagi yang mampu, dapat berkurban (dengan ‘u’) dengan semangat berkorban (pakai ‘o’) dan menghayati maknanya sebagai upaya berqurban, mendekatkan diri kepada Allah. Dan mari kita menyusul Nabi kita Ibrahim dan Ismail. Taqobbalallohu minna wa minkum, taqobbal yaa kariim. Wallohu A’lam bis Showab.

الحمد لله رب العالمين

Iklan

2 comments on “Kurban, Korban dan Qurban

  1. amuk angin gusti
    27/12/2008

    >mas mens gmna klo qurban diganti uang saja, di kompas ada penelitian bahwa manusia yang mengkonsumi daging mengeluarkan zat panas yang lbih dibanding kendaraan bermotor, lha berhubung skrang global woarming gmna klo diganti sja hahaha dekonstruksi syartah bro!!!!! PANGDAM

  2. Hanya Manusia
    29/12/2008

    >Boleh juga… Tapi gimana kalau nanti istri anda yang diganti dengan kambing? hehehehehe. HELLO SARADAM, WELLCOM TO MY MADNESS!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/12/2008 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: