Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Bid’ah ???

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin 2 Palembang, Al-Akhbar. Kenapa tema ini yang diambil? karena ternyata persoalan kepentingan ideologis terutama dalam jubah organisasi keagamaan begitu lekat di sini, di Palembang. Dan Bid’ah adalah kata kunci dari segala bentuk pertengkeran ideologis tersebut. Di sini, toleransi hampir telah dilupakan. Wallohu A’lam!!!

بسم الله الرحمن الرحيم


Di sini
Berbaur seribu satu aliran
Di sini
Sunnah, Syi’ah dan Mu’tazilah
Masing-masing bisa menjadi bid’ah
Di sini
Berhala memutlakkan pendapat
Terkapar oleh kekuasaan fitrah

)KH. Musthofa Bisri, Puisi Di Basrah(

Bid’ah adalah bom TNT, yang setiap saat bisa meledak di mana dan di tangan siapa saja. Barangsiapa berhasil menggenggamnya, dia memegang kemungkinan untuk membikin target hancur berkeping-keping. Sebaliknya, dia yang kurang familiar dengan mode operasi “ide panas” tersebut, bukan tidak mungkin akan dibuat luluh lantak juga olehnya.

Bid’ah adalah potensi yang ketika berhasil direbut oleh mereka yang bukan ahlinya, malah akan memunculkan madlorot yang lebih besar. Tengok saja kisah-kisah seperti kegelisahan dan kebingungan masyarakat awam, kecenderungan untuk saling membenci dan menyalahkan, kebiasaan su’ud dzon kepada yang lain dan bahkan hasrat untuk melenyapkan dengan menggunakan jalur kekerasan pada kelompok-kelompok lain yang tidak sepandangan. Pendek kata, bukan siapa atau organisasi apa yang dituding sebagai penyebar bid’ah itu yang berbahaya, melainkan justru istilah bid’ah itu sendiri yang pada dasarnya potensial menimbulkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Dalam dirinya sendiri ia belum begitu sempurna dipahami. Karena itu, maka berhati-hatilah dengan istilah bid’ah. Jangan bermain-main dengannya!!!

Pada mulanya adalah klaim. Oleh sebab itu, betapa berbahayanya apabila istilah bid’ah dimonopoli oleh segelintir orang yang merasa bahwa dirinya paling Ahlus Sunnah, yang mendudukkan perkara tidak dengan cara-cara fair dan obyektif. MasyaAlloh, politisasi istilah yang “berselingkuh” dengan berhala pemutlakan pendapat, apa jadinya? Orang-orang inilah yang seringkali tembak sana-sini sembari mematikan psikologi lawan yang dianggap bertentangan secara ideologis. Belum jelas juga, apakah kecenderungan untuk bersengketa ini berawal dari keyakinan ideologis yang murni atau justru bermula dari kepentingan-kepentingan entah politis atau ekonomis yang terselubung. Demi meminimalisir kecenderungan yang demikian, dibutuhkan suatu telaah terhadap esensi dari istilah bid’ah. Sehingga InsyaAlloh kita semua dijauhkan dari klaim-klaim subyektif yang sempit, yang tidak ramah pada pandangan dan/atau pendapat kelompok lain. Karena bukankah, Man kaffaro akhohu musliman fa huwa kafirun, sesiapa yang yang menuduh kafir saudaranya sesama Muslim, maka dia –si penuduh- itulah yang kafir???

***

Lafadh bid’ah menjadi penting dalam terminologi agama islam sejak diketahui bahwa sang Nabi Agung Muhammad SAW. pernah bersabda:

مَنْ أََحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا فَهُوَ رَدٌ
“barangsiapa menciptakan perkara baru dalam urusanku ini (yakni masalah agama), padahal bukan merupakan bagian daripadanya, maka hal itu ditolak”.

Juga Rasul SAW. telah bersabda:

وَ كُلٌ مُحْدِثَةٍ بِدْعَة
“dan segala bentuk perkara yang baru adalah bid’ah”

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah sesungguhnya bid’ah itu? Apakah setiap pembaharuan dan sesuatu yang baru adalah bid’ah sehingga dengan sendirinya ia tertolak?

Sebagaimana terindikasikan dalam hadits di atas, bid’ah adalah antonim dari sunnah. Secara etimologis (kebahasaan) sunnah berarti at-thariqah atau jalan, tidak peduli diridloi atau tidak. Sementara menurut terminologi syara’ makna Sunnah sedikit diperkecil jangkaunnya. Bahwa sunnah adalah jalan atau cara atau pola hidup yang ditempuh oleh Rasululloh SAW. Atau pengganti-pengganti Beliau yang memiliki otoritas sebagai panutan di dalam masalah agama seperti para Shahabat Radliyallohu ‘Anhum. Pemaknaan ini didasarkan pada hadits Nabi:

عَلَيْكُمْ بِسُنٌتِيْ وَ سُنٌةِ الْخُلَفَاءِ الرٌاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ
“tetaplah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnahnya al-khulafa’ur rasyidun, setelahku”

Berkebalikan dari Sunnah, bid’ah adalah perkara yang baru. Namun begitu, tidak semua perkara yang baru masuk dalam kategori bid’ah seperti dimaksud dalam hadits di atas. Para ulama’ menjelaskan, sebagaimana dikutip oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, perkara baru yang potensial menjadi bid’ah adalah segala sesuatu yang dijadikan rujukan bagi perubahan suatu hukum dengan mengukuhkan sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ibadah, namun terlanjur diyakini sebagai konsepsi peribadatan. Jadi bukanlah seluruh bentuk pembaharuan itu bid’ah, karena bisa jadi suatu perkara yang baru justru muncul dengan landasan kaidah-kaidah syari’ah (al-ushul as-syar’iyah) yang kukuh yang bermuara dan bahkan menjadi bagian dari syari’ah itu sendiri. Atau mungkin juga hal baru tersebut didasarkan kepada cabang-cabang syari’ah (al-furu’ as-syar’iyah), sehingga secara analogis bersambung dengan syari’ah.
Untuk itulah Al-Syaikh Zaruq telah menentukan tiga ukuran/standard (mizan) sebagai semacam kacamata untuk memandang persoalan-persoalan baru. Ukuran pertama, perkara baru yang dapat dimasukkan dalam kategori syari’at karena didukung oleh dalil atau dasar yang mengukuhkan, maka bukan dinamakan bid’ah. Dan apabila dalam suatu persoalan terdapat dua dalil yang saling kontradiktif sehingga menimbulkan beberapa interpretasi yang berlainan, maka pandangan-pandangan tersebut harus ditelaah ulang sampai kemudian ditemukan mana dalil yang lebih unggul untuk dijadikan rujukan dasar.
Standard kedua adalah kaidah perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh imam Mujtahid beserta pengamalan para Salafuna as-Sholih yang juga disebut thoriqoh al-sunnah (tuntunan sunnah). Dari sini kita tahu bahwa segala perkara baru yang diamalkan oleh Salafuna as-Sholih yang sekaligus ditetapkan berdasarkan kaidah perundang-undangan para Mujtahid, tidaklah sah bila disebut bid’ah madzmumah (tercela). Sebaliknya, apa yang ditinggalkan oleh Salafuna as-Sholih tidak kemudian kita cela sebagai bukan sunnah, karena ternyata masih terdapat kemungkinan untuk menisbatkannya pada kaidah-kaidah dasar para Imam Mujtahidin.
Dalam hal mizan kedua ini memang terjadi beberapa perselisihan pendapat. Imam Malik, misalnya, berpandangan bahwa sesuatu yang baru yang telah ditetapkan oleh Salafuna as-Sholih namun kenyataannya tidak mereka kerjakan adalah bid’ah’ hal ini karena bagi Imam Malik, mereka tidak akan meninggalkan suatu perbuatan pun kecuali di sana terdapat perintah untuk menjauhinya. Berbeda dengan Imam Syafi’I yang bagi beliau hal itu tidak dinilai sebagai bid’ah karena mungkin saja para Salafuna as-Sholih tidak mengerjakannya disebabkan ‘udzur. Sebaliknya, perkara-perkara baru yang tidak memiliki dalil larangan tidak dimasukkan dalam kategori bid’ah oleh Imam Syafi’I, sementara Imam Malik ngotot menganggapnya bid’ah. Dalam kaidah ushuliyyah syafi’iyyah disebutkan bahwa al-ashlu fil asy’yai ibahatun illa idza dalla al-daliilu ‘ala khilafihi (pada dasarnya segala sesuatu adalah boleh kecuali terdapat dalil yang menentang atau melarangnya). Imam Syafi’I melandaskan pemikirannya ini pada hadits Nabi SAW.:
مَا تَرَكْتُهُ لَكُمْ فَهُوَ عَفْو
“segala sesuatu yang aku tinggalkan (karena belas kasihan) terhadap kalian semua adalah diampuni”
Perbedaan-perbedaan dalam filosofi hukum yang sedemikian rupa inilah yang kemudian menimbulkan perbedaan pendapat berkaitan dengan hukum beberapa persoalan furu’ syar’iyyah semisal membaca dzikir dengan keras, menggunakan tashbih, ziarah dan/atau melangsungkan doa bersama. Pada persoaalan ini, ulama’ pengikut pola pikir syafi’ian menghukumi boleh, sekalipun Salafuna as-Sholih tidak pernah melakukannya. Bagi mereka, sudah cukup banyak hadits-hadits yang mensuplai semacam support atau targhib agar kita mengerjakannya.
Karena berdasarkan nalar dan ushul syafi’iyyah hal ini bisa diterima, maka sungguh tidak etis orang yang memiliki pendapat lain mengklaimnya sebagai bid’ah. Perbedaan dalam tata cara dan prosedur pengambilan hukum bukanlah sebuah justifikasi (pembenaran) untuk membatalkan pendapat lain. Selagi suatu pendapat keagamaan ditetapkan melelui prosedur atau standard yang sesuai dengan tata kaidah Imam Mujtahid, maka pendapat tersebut harus diakui. “apabila pembatalan terhadap pendapat orang atau madzhab lain telah dilegalkan, maka yang terjadi adalah klaim pembid’ahan terhadap seluruh perilaku umat”, kata Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy’ari).
Pertimbangan ketiga adalah klasifikasi bid’ah berdasarkan kriteria hukum yang ada yang terdiri dari enam bentuk hukum syari’at, yakni; Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, Khilaful Aula dan Mubah. Dalam hal ini, persoalan-persoalan yang baru musti diilhaqkan kepada dalil-dalil dari keenam kategori di atas, sehingga persoalan yang baru tersebut pada akhirnya memiliki status hukum tetap yang sesuai dengan induk syar’i-nya. Inilah kenapa kemudian berkembang tradisi bahtsul masail di lingkungan Jam’iyyah Nahdlotul Ulama’, di mana persoalan-persoalan keagamaan kontemporer dicarikan padanan-nya padakitab-kitab salaf yang berlisensi (al-Kutub al-Mu’tabaroh) yang kerap sekali disebut dengan kitab kuning.
Dari sinilah lantas lahir istilah-istilah seperti bid’ah wajibah, mandubah, tahrimah, karohah, khilafal aula dan bid’ah ibahah yang berstatus mengikuti induk hukumnya. Sebagaimana perkara wajib, bid’ah wajibah harus dilaksanakan. Begitupun bid’ah mandlubah, yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala, dst. Menindak-lanjuti hal ini, Imam Ibnu Abdissalam, pengarang kitab Qowa’idul ahkam fii masholihil anam, berkata: “bid’ah adalah sesuatu yang tidak pernah disaksikan di masa Rasululloh SAW. yang memiliki status hukum Wajib seperti mengajar ilmu nahwu, mempelajari lafadh-lafadh yang ghorib baik dalam Qur’an maupun Hadits karena pemahaman terhadapnya berkait lekat dengan pemahaman terhadap syari’ah, atau mandubah seperti memperbaiki sistem pendidikan islam, ataupun haram seperti pandangan qodariyah, jabariyah, majusiyah dll dan bid’ah makruhah seperti menghiasi masjid dan memperindah mushhaf. Disamping itu terdapat bid’ah mubahah seperti bersalam-salaman setelah sholat subuh dan ashar, berlebihan dalam menyajikan makanan atau parlente dalam berpakaian dll”.
***
Demikianlah sekelumit pembahasan seputar bid’ah yang, tentu saja, di sana-sini masih belepotan dengan kekurangan. Namun demikian, setidaknya kita dapat memetik sedikit pelajaran dari apa yang telah diupayakan penulis, InsyaAlloh.
Perselisihan dalam hal furu’ syar’iyyah sebenarnya sudah selesai kalau saja kita mau berkaca kepada sejarah. Sudah tidak pada tempatnya lagi kita memperdebatkan eksistensi bid’ah sembari saling tuding satu sama lain. Semua telah memiliki dalil dan dasar masing-masing yang kelihatannya telah mengakar urat dan tidak bisa diganggu gugat. Jalan yang paling tepat adalah mengakui dan menghormati pendapat dan keyakinan orang lain tanpa kita harus perlu mencopot keyakinan kita sendiri. Telah disebutkan di atas bahwa KH. Hasyim Asy’ari, orang yang telah kenyang berpolemik dengan mereka yang seringkali memonopoli istilah bid’ah, berpesan bahwa pembatalan atas pendapat kelompok lain dengan mengatasnamakan bid’ah tanpa disertai kajian terlebih dahulu atas konsepsi tersebut akan berakibat pada pembid’ahan seluruh umat. Bisa dibayangkan, kekacauan semacam apa yang akan kita hadapi. Toh, ternyata, tidak seluruh bid’ah adalah dlolalah.
Ala kulli hal, pemutlakan pendapat yang disertai pemaksaan pandangan terhadap orang lain bukan lagi perkara yang tidak pantas, melainkan semakin tidak relevan di tengah-tengah lingkungan yang kian beragam. Wallohu A’lam.
الحمد لله رب العالمين .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/12/2008 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: