Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Warimin’s Syndicate

Inilah yang sangat sulit dipungkiri oleh Warimin dan kawan-kawan (Warimin’s Sindycate, hehehe, biar mirip sama lembaga-lembaga bonafite ibu kota, semisal Bakri Brother dll). Yaitu kenyataan bahwa kerjaan mereka selama ini adalah hanya menjadi pengamat yang cuma seneng berkomentar, mengkritik dan mencemooh tanpa mau berkecimpung langsung di pusat persoalan. Mereka lebih suka mangamati dari pinggir, sehingga lebih pantas disebut sebagai pengamat.
Ya, pada saat bicara soal politik mereka akan mengidentifikasi diri mereka masing-masing sebagai Eep Saifulloh Fattah. Apabila pembicaraan mengarah kepada persoalan sosial, otomatis mereka akan menjadi Imam Prasodjo. Pada waktu yang lain, ketika yang mereka obrolkan adalah persoalan hak dan perlindungan anak, mereka lantas merasa menjadi Kak Seto. Nah, sewaktu mereka berhadapan dengan persoalan menyangkut kebudayaan, mereka tiba-tiba bermetamorfosis menjadi Emha Ainun Najib (Cak Nun).
Memang mereka hanya mampu menjadi sekedar pengamat. Bagi mereka, menjadi pelaku langsung akan memakan biaya yang terlalu mahal. Pada konteks politik praktis, misalnya, tentu akan menguras energi dan kocek yang lebih untuk sekedar mencalonkan diri menjadi legislatif. Apalagi kalau itu berangkat dari modal bukan partai alias sebagai calon independent. Kok jadi calonnya, lha wong posisi simpatisan partai saja musti mengeluarkan biaya. Dalam hal ini, Warimin dan kawan-kawan telah sepakat untuk “tidak ikhlas” beramal, apabila yang dimaksud beramal di sini adalah “berjuang” di ranah politik praktis. Dus, mereka sama-sama telah berikrar agar melarang setiap anggota komunitas semprul ini merogoh kocek barang sedikitpun untuk kepentingan partai manapun. Bahkan mereka berjanji untuk GOLPUT pada PEMILU tahun depan. Mereka telah memberlakukan peraturan untuk kalangan mereka sendiri, bahwa sesiapa yang ketahuan ikut mencoblos pada hari H Pemilu nanti, akan dihukum membersihkan kamar mandi. Akan tetapi, Kalau menerima “saku” dari salah satu atau banyak partai sekaligus, bolehlah! (ini sih lain urusan, hahaha, untung-untung bias dibuat ngopi di TWS).
Karena itulah mereka lebih suka ngompol (ngomong politik dan ngomongin perilaku orang-orang politik) dari pada terjun langsung ke dunia politik. Yang mereka jadikan dalil dan/atau hujjah adalah apa yang pernah diketengahkan musikus kritis Harry Rusli pada satu kesempatan wawancaranya, “Ya inilah kerjaaan saya (baca; ngritik penguasa). Kalau saya disuruh menjadi Penguasa, nanti siapa yang bakalan ngritik?”.
Tapi kalau dicermati, Profesi sebagai Pengamat dan Kritikus inilah yang kini menjadi Pasar kerja paling mudah dan menjanjikan. Bayangkan, tidak diperlukan keahlian khusus untuk sekedar menjadi pengamat atau kritikus. Anda yang berbasis tukang becak, sopir angkot atau bahkan pemulung, bebas mencemooh presiden, menyerapahi menteri dan “meludahi” DPR. Syukur-syukur, kalau anda bernasib baik anda bisa saja ditemukan oleh seorang Produser televisi kenamaan dan kemudian didapuk menjadi pembicara pada suatu program miliknya. Nanti, dibawah line nama anda, tidak perlu disebutkan anda berasal dari organisasi atau kelompok mana, karena sudah jelas toh kalau anda sekarang punya profesi baru; Pengamat. Itu saja sudah cukup.
Suatu saat nanti, kalau-kalau saja ada pejabat atau oknum tertentu yang merasa tersinggung dan kemudian mengata-ngatai bahwa anda cuma bisa ngomong doang, anda cukup bilang pada mereka; “Saya dibayar untuk ngomong. Kalau nggak ngomong, anak istrui saya nggak baklan makan”. Habis perkara!!!
Nah, apakah yang dilakukan warimin dan kawan-kawan juga dibayar?
Ada sebagian pihak yang ingin mendiskreditkan Warimin, dkk menuduh bahwa mereka didanai oleh lembaga-lembaga donor. Tapi, itu langsung disangkal bukan oleh argumentasi oral belaka, namun juga oleh bukti empiris. Yakni kenyataan bahwa untuk merokok saja, Warimin harus mencari tegesan (puntung sisa orang lain).
Bagi warimin dan kawan-kawan, menjadi pengamat adalah bagian dari perjuangan. Karena sudah menolak berpraktis-praktisan, maka mereka kini mengkonsentrasikan diri pada kerja ke-pengamat-an. Tidak untuk dibayar, melainkan sebagai upaya pemuasan dahaga intelektual (dan, mungkin saja, spiritual).
Bahwa keadilan tidak pernah menjadi kenyataan dalam Negara ini, maka setidaknya harus ada bisik-bisik, rasan-rinasan, obrolan yang mengumandangkannya.
Bahwa kesejahteraan tidak pernah terwujud pada bangsa ini, maka setidaknya harus ada mimpi, khayalan dan cita-cita ke arah sana.
Dari situlah, kemudian gerombolan kecoa, yang kebetulan saja boleh kita sebut dengan Warimin dan kawan-kawan atau Warimin’s sindycate, memfatwakan bahwa ngomong meski tidak disertai upaya aktif menuju suatu perubahan, adalah Fardlu ‘ain. Warimin’s Sindycate selalu mendorong diskusi-diskusi, walaupun tanpa follow up sama sekali.

Graha Al Quran Palembang,
Selasa 16 desember 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: