Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Presiden

Di depan matanya, sesobek kertas koran lusuh melambai perlahan, mengajaknya masuk ke dalam dunia sampah. Waktu itu, dunia memang terasa amat penat, panas dan berkeringat. Karena itulah dunia sampah yang disuguhkan oleh sesobek kertas koran bekas bungkus nasi tersebut terasa menggoda hati Warimin, Si Kecoa. Dipungutnya koran itu dan, Alhamdulilah, matanya belum benar-benar rabun sehingga dia masih mampu mengerahkan daya baca.
“KUNKER PRESIDEN, MASYARAKAT BANGGA”. Kebetulan sekali kertas yang dipegang warimin adalah halaman pertama meski telah sobek separuh, sehingga dia tidak sempat memandangi wajah Sang Presiden yang ikut terbelah mengikuti line sobekan. Naskahnya pun ikut hilang sebagian, sampai-sampai Warimin –yang penasaran banget dengan arti dari KUNKER- terpaksa harus menahan hasrat keingin-tahuannya. Tapi. Ah, masih ada cara lain untuk tahu. Kayak bukan warimin saja, dia kan banyak akal, seperti Mac dalam serial Macgyver, hehehe.
Bagaimana caranya?
Hal pertama yang dilakukan Warimin adalah Menerawang ke arah atas. Bukan untuk meminta wangsit, kalau itu sih dia bisa langsung bertanya via Hand Phone dengan cuma mengetik REG MANTRA dan sebagainya. Ia menerawang, tidak lain tidak bukan adalah untuk mengeheningkan cipta. Bagi Warimin ini penting. Sebab, menurutnya, otak manusia telah terlanjur rusuh, dipenuhi oleh sampah-sampah peradaban. Nah, mengheningkan cipta adalah upaya untuk menyapu, mengepel, mengelap dan mengosongkan otak dari semua sampah tersebut. Dengan cipta yang telah hening, daya pikir menjadi jernih. Dan tentu saja, dengan otak yang fresh, Warimin bisa berkhayal dengan leluasa, sepuas-puasnya. Hahahaha!!!
Namun begitu, warimin masih cukup penasaran dengan maksud dari KUNKER. Apakah ia saudara dari bunker? Kalo benar, kenapa masyarakat malah bangga sebab Presidennya di-bunker? Apakah Presiden telah benar-benar dibenci rakyat? Ah, bukankah Presiden Indonesia termasuk satu diantara Banyak Kepala Negara yang digandrungi di dalam negeri, meski dibenci orang di luar negeri?
Warimin masih belum menemukan jawab, walau cipta-nya telah benar-benar hening. Kali ini ke-bening-an itu beralih rupa menjadi kekosongan. Sambil beranjak dari tempatnya semula duduk, Warimin membuang sobekan kertas Koran itu. Acuh tak acuh, namun tetap saja pikirannya melayang-layang.
Mendadak ia merasa berada diawang-awang. Ya, ia merasa punggungnya ditumbuhi dua bilah sayap yang mengajaknya melayang berasama hembusan awan. Tiba-tiba saja, dia merasa berada di tengah-tengah kerumunan. Di tempat yang tidak begitu jauh, seorang tinggi tegap berseragam abu-abu sedang mennggoreskan spidol menuliskan entah apa. Di seputaran orang itu, ratusan orang berseragam dan bersenjata lengkap membentuk sebaris pagar beton.
Warimin masih tidak tahu, dia sedang tersesat dimana. Namun begitu, tetap dia nikmati saja apa yang sedang dihadapinya.
Karena itulah dia kemudian meninggalkan kerumunan menuju sebuah gerobak jualan. Ia kehausan dan berharap menemukan Es Cendol di sana. Tapi celaka, setelah meminta segelas minuman yang dimaksud, si penjual malah tertawa.
“Mas, idak ado es cendol di sini, ada jugo pempek!”
Dari celetukan si penjual, Warimin baru sadar kalau dirinya sekarang tidak sedang berada di jawa. Dia di palembang. Ya, kota Pempek itu!!!
Tapi kenapa Palembang?
“Presiden ke sini mau meresmikan beberapa proyek”, kata penjual tadi.
“Lho proyek apa? Bukannya Sang Presiden sedang di-bunker?”, celetuk Warimin.
“Di-bunker bagaimano? Presiden ke Palembang ini untuk KUNKER, Kunjungan kerja!!!”, jawab si penjual.
“ouuuw!!!” refleks mulut Warimin membentuk huruf O.
Ternyata KUNKER itu kunjungan kerja. Jadi bukan sekedar kunjungan, pikir warimin. Tidak seperti pemahaman orang awam seperti Warimin yang biasa menafsirkan kunjungan sebagai sebatas silaturrahim, yang hanya bersifat rekreatif belaka. Di tempatnya, kunjungan malah diartikan sebagai pencarian restu. Betapa tidak, seorang calon pejabat datang ke ndalem tetuah desa, untuk sekedar berbasa-basi (atau barangkali di sana juga ada semacam kontrak politik? Warimin tidak berani berspekulasi) dan media massa yang meliputnya pun menulis moment tersebut sebagai wasiat dari sang tetuah agar massa memilih si calon pejabat. Ironis memang, silaturrahim pun oleh dan bias dimanipulasi. Dan apakah silaturrahim dalam pengetian ini, masih berguna memanjangkan umur? Wallohu a’lam. Alloh-lah yang memanjangkan umur, bukan silaturrahim.
Setelah menghabiskan beberapa potong Pempek dan membayar dengan lembar ribuan yang tersisa di sakunya, Warimin pergi semakin menjauh dari kerumunan.
Di tempat lain yang tidak begitu jauh dari kerumunan, terdengar beberapa orang berbisik menggerutu. Ternyata mereka adalah pedagang kakilima yang sejak dua sampai tiga hari yang lalu dilarang petugas berjualan di sepanjang jalan yang sedianya akan dilalui oleh Bapak Presiden. Praktis telah dua sampai tiga hari ini orang-orang itu tidak mengantongi uang untuk sekedar menyambung makan, apalagi beli bensin kendaraan. Mereka mengaku telah menolak pergi pada saat diusir. Tetapi petugas terlalu memaksa.
“Biar Pak Presiden tahu, bagaimana keadaan sebenarnya kota ini”, teriak salah satu dari mereka wktu itu.
Tapi teriakan saja tidak cukup, karena yang mereka hadapi sekarang adalah moncong senapan. Di tempat lain yang juga tidak jauh dari kerumunan, ratusan orang merapalkan sumpah serapah. Apa lacur? Trayek angkutan yang biasa mereka tumpangi kini barus berbalik seratus delapan puluh derajat akibat kedatangan sang presiden. Tentu saja, ini semakin bikin runyam.
Wariimin kembali teringat pada sobekan kertas yang dia temukan beberapa jam lalu. Disana tertulis, kalau tidak salah “KUNKER PRESIDEN, MASYARAKAT BANGGA”. Masyarakat yang mana?
Teringat itu, Warimin semakin ingin kembali menjadi kecoa bae!!!

Graha Al Quran Palembang
Selasa, 16 Desember 2008
(setelah kedatangan sang Presiden
Pada Ahad, 14 Desember 2008)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: