Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Naik Haji

Tak seperti biasanya, beberapa hari ini si kecoa hijau tidak terlihat nongol di tempat dia mangkal bersama kawan-kawan manusianya; Warung TWS (Tidak banyak yang tahu apa yang sebenarnya dimaksud dengan TWS ini. Beberapa dari mereka bilang, TWS adalah kependekan dari Tempat Wisata Seruputan, yang mana setiap orang dapat menikmati indah dan maknyus-nya racikan kopi dari warung ini. Yang lain lagi ngomong kalau TWS berarti Tewas, karena sebelum warung ini dibangun, tempat ini dulu adalah lokasi penembakan massal atas orang-orang yang dituding sebagai anggota PKI. Ada lagi yang beda yang ngotot bahwa arti TWS adalah Total Wisdom, dimana di sinilah, katanya, banyak kebijaksanaan muncul. Namun, si kecoa hijau mempunyai pemaknaan yang lain dan tentu saja aneh. Baginya, TWS merupakan kependekan dari TaW gak Sih loo kalo ini tempat nongkrong!!!).
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, mungkin berkat ilmu alih rupo yang dimilikinya, teman dan kenalan kecoa yang satu ini bertebaran di mana-mana. Mulai dari dunia yang paling kiri sampai dunia yang paling kanan, mulai dari alam jin sampai alam malaikat, mulai dari gepeng sampai pejabat eselon satu, mulai dari masyarakat semut sampai komunitas gajah. Hehehehe. Namun, tidak banyak dari mereka yang bisa dan mau saja diajaknya semprul berjama’ah. Ada sih beberapa, tapi tidak se-lekat dan se-rekat teman-teman yang biasa ngumpul di warung TWS.
Usut punya usut, desus punya desus, si kecoa hijau yang di tengah-tengah komunitas manusia dikenal dengan sebutan akrab Warimin ini, katanya sedang mengikuti program naik haji gratis dari Departemen Agama.
“kemana si Warimin?”, tanya Thomas.
“gak tahu…”, celetuk Martin.
“lho, bukane dia ikut naik haji gratis dari depag?”,sambut Michelle setengah bertanya.
“naik haji siapa? Haji bakrin, wong depag itu? Mosok rek haji bakrin dinaiki?”, Jonathan yang setengah telmi ikut-ikut ngomong. Sementara itu, yang lain langsung serentak diam, tidak mau menanggapi komentar dari si Jonathan.
Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Mekkah, di Masjidil Haram, di depan Ka’bah, di dekat Maqom Ibrahim, Warimin dibikin takjub oleh kemegahan Kubus Raksasa itu. Dia pernah memegang tembok Taj Mahal, menaiki Menara Eiffel, Menjelajah jengkal demi jengkal Tembok Cina, Mencium api patung Liberty, namun tak pernah merasakan keagungan yang sedimikian rupa. Sebuah keagungan yang tunduk. Kemegahan yang pasrah. Mendadak, tanpa sadar dia menitikkan air mata. Kenapa?
Di satu sisi, ingatannya pun melayang pada sebuah kisah yang pernah dia “curi” dari suatu pengajian. Tentang Ibrahim dan anaknya Ismail yang pernah menyulap tempat ini menjadi sedemikian gagah. Kegagahan yang bernuansa sayang kepada Tuhan. Masya Alloh…
Di sisi yang lain, ia trenyuh mengingat apa yang telah terjadi di kampung halamannya –tentu saja yang dimaksud di sini adalah si kecoa hijau dalam kapasitasnya sebagai manusia, sebagai Warimin yang juga mempunyai kampung halaman atau setidaknya tempat menetap. Apa lacur?
Di lokasi tanah kosong, di tempat yang tidak jauh dari warung TWS, akan dibangun sebuah Gedung yang ia sendiri tidak tahu akan dimaksudkan sebagai apa. Sumber yang valid mengatakan bahwa di situ akan dibangun Tempat untuk berolah-raga. Tetapi si Kecoa Hijau atau Warimin menyebutnya dengan istilah Lapangan Serbaguna. Ya, serba bisa untuk berbagai macam perhelatan yang mungkin akan diselengarakan secara akbar dan terbuka. Sebagai tempat mengumpulkan massa, misalnya. Atau entahlah! Yang jelas Warimin alias Kecoa Hijau mencium bau perbedaan yang sangat besar antara gedung yang akan dibangun di dekat TWS itu dengan Ka’bah yang pernah mendapatkan sentuhan Nabi Ibrahim.
Kalau di sini, di ka’bah ini, hidungnya membaui wangi Misik, maka di kampung halamannya itu ia mencium bau yang teramat amis. Kalau ka’bah dilapis dengan keringat harum dari Sang Nabi, maka gedung di tempatnya itu dilepa dengan “darah” banyak orang, yang diwajibkan memberi iuran. Tentu saja amal iuran tersebut akan dicatat sebagai amal jariyah, akan tetapi –doa warimin alias kecoa hijau di depan ka’bah- semoga maksud baik dari pemberi iuran tidak disalahgunakan. Semoga gedung yang didirikan tidak disalah-fungsikan.
Amin…
Tiba-tiba saja, manusia warimin berubah menjadi kecoa hijau lagi di depan ka’bah.

Rumah Damai Lathifiyah Palembang, Senin 01 Desember 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: