Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Alumni

Suatu kali, Kecoa hijau berkelakar dengan teman-teman se-cangkrukannya perihal satu kata unik yang terkadang juga aneh (setidaknya bagi si Warimin alias kecoa hijau). Kata tersebut berbunyi, Alumni. Namanya juga kelakar dan guyonan, maka segala hal yang keluar dari sana selalu bersifat spontan, dan tentu saja non-ilmiah. Jadi bukan pada tempatnya apabila kemudian sense of inlelectuality anda –wahai para pembaca- terusik. Beginilah, humor selalu saja memukul telak saudara kembarnya sendiri (baca; rasionalitas ilmu dan pengetahuan yang seringkali kaku dan suka menggerutu).
Alumni, secara “de jure”, berarti jebolan, lulusan, mantan, eks dll. Anda bisa saja menyebut Sumanto si Mayyivora (Pemakan Mayit atau bangkai) sebagai alumni bui. Anda juga boleh memanggil si Dono anaknya Mak Jlem yang setiap pagi merapal mantra “balonku ada lima… rupa-rupa warnanya… dst” dengan sebutan alumni Play Grup. Nah, sah-sah juga kok kalau anda kepingin menyeru Warimin dengan panggilan Alumni Kecoa. Demikianlah, kata alumni dikelonthok dari sudut makna litterlijk.
Sementara itu, kata alumni oleh Warimin dimaknai dengan bumbu-bumbu ala pesantren. “Utawi, iki, iku” diuleknya menjadi satu. Menurutnya, dengan praktik inilah hakikat Alumni akan ditemukan. Karena itu, dia menyebut pemakanaannya sendiri ini dengan definisi “de facto”. Bahwa, memang beginilah alumni itu.
Warimin ngendikan, kalau dipikirkan dan diperhatikan, alumni malah semakin memperepot dan memperumit keadaan. Lho kok bisa? Ya, Alumni adalah adaptasi dari dua frase kata bahasa arab Alum dan Ni. Alum, berati Ngalumno sopo siro! (fi’il amar). Ni, bermakna ing ingsun. Jadi, sejak awal hal yang diperintahkan kepada para alumni adalah untuk mengalumkan atau melayukan orang-orang yang ditinggal. Kapan perintah itu ditelurkan? Wallohu a’lam, barangkali sejak manusia belum lahir. Seperti dalam kisah di kitab suci, bahwa bakal manusia, sebelum ia benar-benar menjadi manusia, ditanya oleh Tuhan; “apakah Aku Tuhanmu?”. Dan mereka pun menjawab “benar, Engkau Tuhanku”. Maka mereka pun diturunkan ke dunia menjadi manusia, bukan kecoa, untuk kemudian diperintah menyembah Tuhan. Begitupun alumni, sebelum benar-benar menjadi alumni, mereka telah dititah untuk selalu mengalumkan dan merepotkan pihak-pihak yang ditinggalkan.
Warimin alias kecoa hijau ngotot kalau pemaknaan yang dia pakai sebagaimana tersebut di atas adalah pemaknaan secara de facto. Riil. Nyata. Melalui proses observasi. Tidak berdasarkan angan dan data-data fiktif belaka. Baginya, memang inilah yang terjadi di sekitar dirinya. Dia melihat, mendengar, merasa dan kemudian muntah.
Betapa tidak? di tempatnya, alumni selalu menjadi pujaan dan idola. Dalam konteks pemikiran si kecoa Warimin, puji-pujian kepada alumni tersebut adalah sebentuk proses memikirkan dan memerhatikan. Sudah barang tentu, masih dalam kerangka pikir Warimin, orang yang mau memerhatikan alumni akan dibikin alum, repot. Apalagi seumpama orang-orang ini mangharapkan “sesuatu yang entah apa” kepada para alumni, wah bisa berabe. Cobalah tengok, di daerah warimin orang-orang mau saja menghabiskan dana yang cukup besar untuk menghadirkan para alumni. Lantas dibikinlah sebuah wadah bernama IKALUM, Ikatan Alumni. Padahal, menurut warimin, alumni itu suka (se)enaknya saja, seneng nuntut yang macam-macam walau mereka sendiri tak pernah terlihat memberikan kontribusi apa–apa kepada yang mereka tinggalkan.
Tapi dasar manusia, betapapun diingatkan, omongan kecoa tetaplah omongan kecoa, yang melulu dekil dan tak bermakna. Orang-orang di tempatnya tetap saja mengagung-agungkan alumni-alumni, dengan maksud yang anta-berantah. Apakah hanya untuk menjaga muka atau memang ada motif-motif yang lain? Warimin belum melacaknya sejauh itu. Yang jelas, mereka selalu berkoar di kalangan mereka sendiri bahwa si Anu yang sekarang menjadi pejabat eselon satu adalah alumni sini. Atau bahwa si Itu yang dulunya pernah bermukin di sini, kini telah memiliki “tempat hebat”. Wow, betapa haibat alumni sini.
Tapi anehnya, sekalipun tak pernah disebutkan alumni yang sekarang menjadi pemabuk, pemadat, tak pernah sholat, pemain wanita dan sebagainya dan sebagainya. Barangkali mereka telah dianggap sebagai produk gagal dari daerah tempat Warimin. Barangkali juga, alumni-alumni yang model beginianlah yang baru boleh dianggap merepotkan dan mengalumkan. Oleh karena itu, tidak penting mereka dipikirkan dan diperhatikan, juga bila perlu tidak usah dimasukkan ke dalam list IKALUM. (bandingkan dengan pemikiran Warimin alias kecoa hijau yang menganggap semua alumni itu merepotkan!!!).
Wal hasil, guyonan di warung TWS yang berlangsung selama dua jam itu ditutup dengan desahan dari si Warimin;
“Ah… kalau sudah keluar dari sini nanti, aku mau kembali menjadi kecoa saja!!!”.
Nah lho ???

Graha Al-Qur’an Palembang, Selasa 02 Desember 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11/12/2008 by in Monolog.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: