Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Tragedi Mesuji

Ada dua Mesuji. Dua-duanya menyenandungkan kisah pilu. Cerita tentang bau anyir; insiden berdarah.

Mesuji pertama berada di bawah naungan provinsi Sumatera Selatan. Nama sebuah kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir itu pernah beberapa kali menjadi sorotan media. Hingga kamis, 21 April 2011, tujuh orang dilaporkan tewas sebagai akibat dari konflik berkepanjangan antara perusahaan perkebunan , PT. Sumber Wangi Alam (SWA), vis a vis warga desa Sungai Sodong. Dua orang korban adalah penduduk setempat, lima yang lain ditengarai sebagai karyawan perusahaan. Pada saat-saat itulah, kita membaca beberapa kabar yang menggiriskan bulu roma. Laporan bertajuk “Potongan Kepala Dijemur di Truk” (Sripoku.com, Sabtu, 23 April 2011) adalah satu misal.

Beberapa saat yang lalu, publik lagi-lagi digegerkan oleh Mesuji. Kali ini, lima orang yang mengaku berasal dari tempat bernama seperti itu menyambangi Komisi III DPR RI. Didampingi oleh kuasa hukum, mereka meminta bantuan agar para wakil rakyat itu turun gunung menuntaskan teror yang terjadi di sana. Yang ini adalah penghuni provinsi Lampung, tepatnya warga area Register 45 Sungai Buaya, Kabupaten Mesuji. Di tempat ini pernah terjadi bentrok antar warga yang sempat merenggut empat nyawa. Di sekitar sini jugalah dua orang mati tertulah semburan peluru aparat. Juga di sini salah seorang anggota petani moro-moro –disebut begitu karena mereka berasal dari beberapa kampung yang berawalan “Moro”, seperti Morodadi, Moroseneng, Morodewe, dan lain-lain– tewas pada permulaan tahun 2011.

Kedua Mesuji memang berada pada wilayah administratif yang tidak sama, meski saling berlekatan. Satu masuk dalam penguasaan Sumatera Selatan, dan yang lain terkategori sebagai Lampung. Keduanya secara fisik dipisahkan oleh sungai (Way Mesuji dan atau peranakannya; Sungai Buaya). Tetapi, tentu saja, warga Mesuji adalah kelompok masyarakat yang tidak jauh berbeda –untuk tidak menyebutnya sama sekali serupa. Terutama para petani di daerah tersebut, warga telah sejak lama didera sengketa tanah (lahan). Di Mesuji Lampung umpamanya, masyarakat berlanggaran dengan PT. Silva Inhutani (SI) dan PT. Barat Selatan Makmur Invesindo (BSMI).

Ya, kedua Mesuji sama-sama pernah berleleran darah, dan ditakutkan masih akan berlanjut. Beberapa kalangan menuding, korporat-korporat perkebunan itulah –SWA di Sumsel serta SI dan BSMI di Lampung, yang menjadi mula dari tengkar demi tengkar yang terjadi antar warga, aparat, dan perusahaan.

Heboh Video

Kelima orang warga yang bertemu dengan Komisi III DPR, Rabu (14/12/11), itu tidak datang dengan keluhan semata. Mereka juga membawa lampiran bukti berupa beberapa potong video. Diceritakan, dalam rekaman tersebut tampak adegan-adegan yang tak patut; mayat bergelimpangan, eksekusi pembunuhan, rumah-rumah yang dirobohkan, dan sebagainya.

Ketika kabar pengaduan itu tersiar, dan cuplikan-cuplikan video mulai muncul di media, publik gusar. Potongan gambar itu seperti merekonstruksi fakta, dan lantas lahir opini, bahwa korporat perkebunan di Mesuji memperluas areal lahan dengan cara membunuhi warga dan merobohkan rumah-rumah. Lebih ironis, kelakuan tak manusiawi tersebut ternyata didukung oleh aparat setempat. Bukti diajukan; pada prosesi pembunuhan (pemenggalan kepala?), terlihat beberapa oknum berseragam dan beberapa diantaranya mengokang bedil. Kepolisian pun lalu jadi “tersangka”.

Keruan saja, pihak kepolisian membantah. Kabareskrim Polri misalnya, Komisaris Jenderal Sutarman, menyatakan bahwa pihaknya pernah memperoleh laporan serupa, juga dengan wujud video. Tapi di sana tidak ada fragmen pembunuhan keji seperti yang disebutkan. “Sebatas bentrokan di Lampung,” katanya.

Barangkali memang betul, tidak ada pembunuhan keji di Mesuji Lampung. Bukti video yang dibawa ke Komisi Hukum DPR RI itu sebagian memang tidak berlatar provinsi paling selatan pulau Sumatera. Pembunuhan dengan suasana gambar “pria bersenjata sedang memegang kepala yang terpenggal” tersebut sebetulnya berlatarkan konflik yang terjadi di Mesuji Sumsel beberapa bulan silam. Selain telah diakui sendiri oleh warga OKI, Komnas HAM juga membenarkan bahwa tragedi Mesuji Sumsel tidak membawa-bawa pihak kepolisian. (Kompas.com)

Tetapi, betapapun simpang siur opini yang beredar di tengah khalayak akibat bukti video yang tidak taat konteks, pesan yang dibawa oleh warga Mesuji ke gedung DPR RI seharusnya dapat dibaca dengan mudah. Bahwa, ada kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) serius di tengah perkampungan Mesuji. Bahwa, di salah satu dan mungkin banyak lagi daerah negeri yang mengaku demokratis ini, hidup sejumlah warga kita masih dibayangi oleh rasa takut. Bob Hasan, pengacara yang mendampingi warga, mensinyalir 30 korban tewas dan ratusan orang terluka sejak 2009 sampai 2011. Ia mungkin sedang bermain generalisasi (di Sumsel, korban tewas memang tidak sebanyak itu). Tapi, siapa tak waswas menunggu giliran kapan akan dibunuh?

Rimba Indonesia ?

Mathias Nugroho, warga Desa Simpang Pematang, Mesuji Lampung, meminta Komisi III DPR untuk mendesak Kepolisian memberikan perlindungan kepada warganya. Ia, tentu dengan derajat yang berbeda-beda, sesungguhnya tak sendirian. Banyak pihak merasakan ketakutan yang kurang lebih serupa.

Kita ingat, beberapa waktu lalu ramai diberitakan seorang pemuda tewas dibunuh di sebuah klub malam di Jakarta. Tidak lama kemudian, seorang siswa belasan tahun terkapar mati di jalanan setelah Blackberry-nya dirampas. Sebelumnya, seorang gadis diperkosa dan dibunuh di angkutan umum. Karena itulah kemudian seorang wanita nekat meloncat keluar karena ia menjadi satu-satunya perempuan di dalam bus. Bayangkan, perkara sepele saja bisa berujung nyawa.

Maka tidak mengherankan apabila terdengar warta tentang penjualan pistol kejut listrik (stun gun) dan penyemprot merica (pepper spray) di pusat pertokoan Glodok, Jakarta, meningkat tajam (Majalah Tempo). Kita ingat, di Mesuji sendiri, suatu saat senjata api rakitan beredar dengan mudah.

Dus, akibat ketakutan yang bertubi, warga mulai mempersenjatai diri. Pusat perbelanjaan, tempat ibadah, angkutan umum, atau bahkan rumah sendiri, tak lagi menjadi tempat yang cukup aman. Di manakah Negara? Kemanakah polisi? Apakah ada yang salah dengan sistem keamanan di negeri ini?

Akhirnya, sudah sepatutnya kita semua memikirkan jalan keluar dari labirin tak bertepi semacam ini. Jangan sampai, negara hukum yang susah payah dibangun di atas cecer darah para pahlawan ini ambruk menjadi sekelas rimba belaka.

* Ditulis saat marak wacana pembantaian di Mesuji. Sampai hari ini, kasus ini tak jua selesai. Jika mau disalahkan, kita bakal menyalahkan pemerintah. Belakangan, masyarakat yang marah membakar kompleks perkantoran BSMI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/02/2012 by in Essey and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 34,816 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: