Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kyai Saridin dan Ki Merogan

Anda kenal Saridin? Barangkali tidak. Tokoh yang satu ini memang tidak begitu populer dibandingkan pelaku-pelaku sejarah yang lain. Saya sendiri baru mendengar nama ini kemarin, ketika kebetulan bersua dengan orang yang menyimpan sedikit kisah tentangnya. Saya berdiam di Palembang, dan sebelumnya hidup agak lama di Jombang. Sesuatu yang nampak wajar untuk dipakai sebagai alasan ketidaktahuan perihal tokoh dari belahan tengah tanah jawa ini.

Sebagai sosok yang hidup pada masa “kejayaan” Walisongo, nama Saridin kerap kali (bahkan sama sekali) tidak muncul dalam literatur-literatur sejarah. Ya, sebagai sosok yang bahkan Anda bisa menemukan pesarean-nya di seputaran Kajen, Pati, dan yang  terkenal dengan sebutan Syeikh Jangkung itu, sejarah  ihwal Saridin terpacak dengan baik di benak dan mengalir dalam tutur masyarakat. Siapa Saridin? Lantas apa hubungannya dengan Palembang?

***

Seperti cerita-cerita tutur pada umumnya, obyektifitas legenda Saridin tidak atau belum bisa dipertanggungjawabkan. Bukan pada Saridin saja, sebetulnya, persoalan yang seperti ini dapat dirujuk. Kisah-kisah walisongo, dengan pelbagai bumbu mistik (keramat) yang ada di dalamnya, sesungguhnya diangkat dari cerita tutur. Ya, barangkali dulu, sejarah memang bukan dirawat dalam serat -meski tidak semuanya tak tertuliskan, tetapi ditularkan dari mulut ke mulut. Kendatipun demikian, tidak ada alasan tepat untuk tidak memercayai legenda. Terutama buat saya, penelitian obyektif terhadap sejarah hanyalah satu dari sekian metodologi untuk mengetahui keabsahan peristiwa di masa lampau (bukankah Al-Qur’an, bukankah Al-Hadits, mulanya juga ditularkan dari mulut ke mulut?). Menganggap legenda sebagai identik dengan tahayul, dan karena itu dianggap tak layak kutip, tidak lebih sebagai bentuk arogansi modernitas. Dan, dus, tak perlu menunggu bual-busa sejarawan, hanya untuk sekedar “menghidupkan” Saridin.

Tetapi ada satu masalah lagi. Bahwa cerita-cerita tutur, terutama yang tidak mendasarkan diri pada sistem klarifikasi riwayat secara ketat, laiknya hadits-hadits Nabi, menyimpan potensi bias yang amat besar. Alhasil, dalam sebuah legenda, acapkali terdapat pelbagai macam versi yang tertuturkan. Contoh yang paling bagus adalah legenda kontroversial perihal Syeikh Siti Jenar. Bagitupun cerita tentang Saridin. Kita bisa menjumpainya dalam banyak versi, umumnya memang terdiri dari beberapa fragmen kehidupan sang tokoh saja. Terkadang kita menemukan sepotong cerita, sementara kepingan yang lain tidak kita ketemukan jluntrungan-nya.

Berikut adalah legenda Saridin yang ditularkan secara tutur kepada saya. Saya tulis dengan agak telanjang, dalam arti tanpa melibatkan referensi-referensi yang saya baca belakangan.

***

Saridin murid Sunan Kalijaga. Ia sosok yang sakti mandraguna.

Suatu saat, tidak disebutkan musababnya, pemerintah kolonial menangkap sang Saridin. Ia dijebloskan ke dalam penjara. Barangkali para londho itu memang sudah mafhum, Saridin ini bukan orang biasa. Karenanyalah tugas-tugas Saridin di dalam sel pun dibedakan dari tahanan-tahanan yang lain. Saridin diperintahkan mengambil air dari sebuah sumur. Tetapi uniknya, bukan timba yang diberikan kepada Saridin. Sipir penjara memberinya keranjang. Sungguh aneh, menimba air dengan keranjang. Bagaimana mungkin air sumur bisa terangkat?

Barangkali sipir  penjara hendak menjajal kedigdayaan Saridin. Dan benar saja, tak dinyana sebelumnya, Saridin berhasil mengangkat air sumur dengan keranjang tersebut.

Pada saat yang lain, Saridin menyumbarkan pernyataan, “di mana ada air di situ ada ikan”. Kontan hal itu menumbuhkan semangat para sipir untuk “menaklukkan” Saridin.

“Kalau memang ucapanmu  betul, hai Saridin, tunjukkan buktinya pada kami”.

Pembuktian dilakukan. Maka semua tempat yang diduga mengandung air pun diperiksa. Kamar mandi, selokan, gentong minum, gelas, vas bunga. Semua penuh ikan.

Kini, saatnya siasat Belanda.

“Saridin!!!,” panggil sipir belanda.

“Iya tuan,” jawab Saridin.

“Kamu belum membuktikan semua. Bagaimana dengan buah kelapa itu? Terdapat air di dalamnya, bukan? Apakah ada ikan juga di sana?”.

“Benar tuan, ada ikan di sana”.

“Yang benar saja,” sergah kumpeni. “Bagaimana jika kita bertaruh? Kalau di dalam buah kelapa itu tidak ada ikan, kamu dihukum pancung?”.

“Boleh, tuan, silahkan buktikan sendiri”.

Buah kelapa dijatuhkan dari pohon. Dibelah. Dan, ikan itu melompat. Semua orang terdecak heran, tetapi sipir penjara terlanjur malu dan berang. Saridin diringkus. Ia tetap dikenai hukuman pancung.

Bukan Saridin jika ia tidak mampu melarikan diri. Konon, Saridin mampu melepaskan dirinya dari hukuman mati, dan lantas melarikan diri menuju laut. Dengan berbekal blarak (ranting pohon kelapa), Saridin mengarung laut sampai terdampar di Palembang.

Saridin berdiam untuk beberapa saat di Palembang. Di sini ia bersua dan bergumul dengan masyarakat setempat. Bahkan disebutkan, Saridin sempat menurunkan sebagian “ilmu”-nya kepada orang-orang tertentu di sana. Sebagai catatan, Saridin terdampar di sebuah tempat yang sekarang dibangun masjid Merogan (Muara Ogan) di tepian sungai musi (wilayah kecamatan Kertapati sekarang). Orang-orang yang sempat memperoleh berkah ilmu Saridin adalah salah satunya, dan terutama, Kyai Merogan (Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang) yang di Palembang terkenal dengan karamah-karamah-nya.

***

Apa yang Anda pikirkan? Saya kira tidak akan terlalu jauh dari apa yang ada di benak saya. Ya, terdapat inkonsistensi dalam cerita yang saya tuliskan di atas. Salah satu inkonsistensi yang paling mencolok adalah urutan waktu.

Walisongo hidup pada masa pra penjajah. Beberapa diantaranya bahkan hidup pada masa pra kerajaan Islam Jawa (dalam hal ini kesultanan Demak). Sunan Ampel umpamanya, adalah guru dari Raden Fatah, orang yang kelak menjadi Sultan pertama Demak. Pada masa konsolidasi kekuasaan Demak itu, Sunan Ampel saya bayangkan sudah amat sepuh. Sunan Ampel, apalagi Maulana Maghribi, saya yakin tidak mencicipi rasa dijajah oleh kulit putih.

Saridin, seperti termaktub dalam cerita, adalah murid dari Sunan Kalijaga. Yang belakangan ini adalah murid dari Sunan Bonang, alias putera dari Sunan Ampel. Saya perkirakan, Sunan Kalijaga hidup pada pertengahan kekuasaan Demak. Kita masih amat ingat cerita perihal tiang masjid agung Demak yang beliau bikin dari tatal (serpihan kayu). Saya sangsi apakah sang Sunan ini masih hidup saat muridnya yang lain, si Jaka Tingkir, atau bahkan anak angkat Jaka bernama Panembahan Senopati itu “menghabisi” Demak.

Setahu saya, pada periode ini, Belanda belum datang. Paling jauh, mengutip Arus Balik Pramudya Ananta Toer, waktu itu (pada masa hidup Sunan Kalijaga dan murid-muridnya), Nusantara baru saja didatangi oleh penjajah Portugis dan Spanyol (bukan Belanda). Kalaupun pada saat itu mereka (Belanda) dimungkinkan sudah menginjak bumi ini, saya yakin mereka belum memiliki kekuasaan yang signifikan sehingga mereka mampu sewenang-wenang memenjarakan seseorang, seperti dalam kasus Saridin. Cerita pertama tentang kronik melawan Belanda, sejauh yang saya tahu, terjadi pada masa Sultan Agung, generasi ketiga kesultanan Mataram. Bisa dibilang pendiri pertama kesultanan Mataram Islam adalah cucu dari Sunan Kalijaga. Apakah mungkin Saridin memiliki kesaktian memanjangkan umur?

Tetapi mungkin saja si pencerita, entah karena tak tahu atau sebab alasan lain, tidak menganggap penting urutan kronologis. Pada umumnya, sebuah legenda lebih memerdulikan unsur pesan/amanat daripada ketepatan waktu. Hal terpenting yang saya dapat dari cerita tutur di atas adalah informasi bahwa ternyata Saridin ini pernah terdampar di Palembang.

Tetapi jika Saridin dihubung-hubungkan dengan Ki Merogan, lagi-lagi kita terbentur pada inkonsistensi kronologis. Ki Merogan adalah seorang yang bergelar Masagus (Mgs), satu dari beberapa titel keluarga kerajaan Kesultanan Palembang Darussalam. Kita tahu, jika betul bahwa Saridin termasuk murid dari Sunan Kalijaga, maka pada saat itu Kesultanan Palembang Darussalam belum lagi diproklamirkan (Pada masa kesultanan Demak, Palembang tak lebih dari “provinsi”. Ia baru memroklamirkan kemerdekaannya selang beberapa generasi Kesultanan Mataram).

Sebetulnya, menyikapi silang sengkarut seperti ini, saya punya analisa (yang mungkin saja “agak ngawur”) sebagai berikut:

Saridin memang terdampar di Palembang. Tetapi sebetulnya ia tak sendirian, atau sendirian sebab ia datang lebih belakangan. Pada saat itu, pada masa ketika kesultanan Demak diguncang konflik perebutan kekuasaan, beberapa anggota keluarga Demak memang disebutkan mengungsi ke Palembang. Keturunan dari orang-orang inilah yang kelak memproklamirkan Palembang Darussalam sebagai kesultanan independen, lepas dari Mataram.

Saridin barangkali tidak menetap lebih lama, oleh sebab itu ia kembali lagi ke tanah jawa. Tetapi sebelum itu, saya menduga, ia meninggalkan sekelumit “ilmu”-nya di tanah Sriwijaya ini. Ini tidak mengherankan, sebab seturut legenda, beberapa peninggalan Saridin, seperti Lulang Kebo Landoh masih menyimpan keramat bahkan ketika tuannya sudah meninggal. Kulit kerbau inilah yang menjadi sasaran perburuan para kolektor, sebab konon dengan kulit tersebut seseorang bisa kebal senjata.

Lantas bagaimana hubungan Saridin dengan Ki Merogan?

Ki Merogan merupakan keturunan, atau setidak-tidaknya murid, dari orang-orang yang pernah berguru pada Saridin (Keturunan ke berapa atau murid angkatan ke berapa, saya kurang jelas betul). Karamah-karamah Ki Merogan yang amat terkenal di Palembang, adalah satu dari beberapa ajaran yang diwariskan dari Saridin. Masalahnya adalah apa yang diajarkan Saridin? Saya yakin bukan “ilmu-ilmu hikmah” seperti yang banyak diperagakan dalam dunia persilatan dan atau medan perdebusan.

***

Bisa saja Anda tidak setuju dengan pandangan saya. Sah-sah saja. Tetapi yang membuat saya tak habis pikir adalah cerita tutur yang saya terima itu memang diniatkan oleh si pencerita untuk menunjukkan adanya “missing link” yang menghubungkan peradaban Jawa dan Sumatera, dalam hal ini geneologi intelektual. Perlu pendalaman yang lebih intens lagi untuk menggali subyek kajian yang satu ini. Kita tahu, dari Palembang juga lahir ulama-ulama hebat sekaliber Syeikh Abdus Shamad Al-Falimbani, Kemas Fahruddin, dan lain-lain. Dengan adanya kajian yang lebih jauh, saya pikir kita pada akhirnya bisa menjelaskan mengapa umpamanya, pola keberagamaan masyarakat Palembang Modern terasa lebih “kering”? Bisa jadi karena kami memang telah kehilangan Saridin?

About these ads

39 comments on “Kyai Saridin dan Ki Merogan

  1. Usup Supriyadi
    03/03/2011

    salam ikut menyimak ;)

  2. Elha Husnan
    03/03/2011

    Salam kenal. Terimakasih atas kunjungan dan penghargaannya.

  3. budi
    23/10/2011

    benar tidaknya cerita saridin belum bisa dibuktikan, yang jelas cerita yang anda dapatkan belum sesuai yang berkembang d masyarakat pati, coba banyak baca literatur deh…. baru ditulis, mungkin itu lebih baik…..thks

    • Elha Husnan
      11/11/2011

      Dear, Mas Budi…
      Saya sepakat dengan hipotesis Mas yang pertama, bahwa kisah Saridin belum bisa dibuktikan. Persis di situlah konteks postingan saya. Justru karena belum bisa diverifikasi kebenarannya, bahkan cerita yang berkembang di Pati pun barangkali bisa dianulir. Posisi saya di sini jelas untuk menyuguhkan alternatif.

      Tetapi mungkin Anda tidak membaca dengan lebih teliti. Kisah ini saya pungut dari mulut orang-orang Palembang. Cerita tutur yang tidak tumbuh di tanah kelahirannya sendiri, tentu menyimpan bias. Sudah saya sebutkan ditulisan, barangkali wujud bias itu adalah anakronisme. Atau bisa juga, seperti yang sampean sebut, tidak bersesuaian dengan alur cerita di tanah aslinya, di Pati.

      Yang pasti, tujuan awal tulisan ini bukan merekonstruksi lagi cerita Saridin. Anda baca pada paragraf terakhir, saya lebih tertarik untuk melihat adanya hubungan (sesuatu yang saya sebut missing link) antara Jawa dan Sumatera. Itu pun bukan kesimpulan final, atau sampean bisa menganggapnya testimoni saya belaka. Sesuatu yang saya harapkan bisa mengetuk hati kita semua, untuk senantiasa menggali dan mencari tahu lagi khazanah kekayaan bangsa kita ini.

      Salah satunya, boleh jadi, memutuskan kebenaran cerita Saridin. Jangan-jangan kisah-kisah ala Pati itulah nanti yang terbukti salah?

      Tabik,
      Elha Husnan

      • A rochim
        04/06/2014

        Datang & berkunjung ke pati ,kecamatan kayen desa landoh biar tau sejarah yg asli jangan asal nulis ..

    • Nicho Se Lah
      29/03/2014

      wali termasuk perkara yang di rahasiakan allah , keabsahan wali songo meragukan

  4. Pangeran Surya
    25/12/2011

    Alhamdulillah

  5. ulin nuha alghazali
    17/02/2012

    saya warga pati,kebetulan saya sendiri tidak mempercayai cerita yang berkembang dsini sepertinya banyak kiasannya,, salut untuk bapak yang sudah menulis cerita ini, saya hanya mengkroscek tulisan bapak dengan cerita disini >>

    “Saridin!!!,” panggil sipir belanda.

    “Iya tuan,” jawab Saridin.

    “Kamu belum membuktikan semua. Bagaimana dengan buah kelapa itu? Terdapat air di dalamnya, bukan? Apakah ada ikan juga di sana?”.

    “Benar tuan, ada ikan di sana”.

    “Yang benar saja,” sergah kumpeni. “Bagaimana jika kita bertaruh? Kalau di dalam buah kelapa itu tidak ada ikan, kamu dihukum pancung?”.

    “Boleh, tuan, silahkan buktikan sendiri”.

    Buah kelapa dijatuhkan dari pohon. Dibelah. Dan, ikan itu melompat. Semua orang terdecak heran, tetapi sipir penjara terlanjur malu dan berang. Saridin diringkus. Ia tetap dikenai hukuman pancung.

    Bukan Saridin jika ia tidak mampu melarikan diri. Konon, Saridin mampu melepaskan dirinya dari hukuman mati, dan lantas melarikan diri menuju laut. Dengan berbekal blarak (ranting pohon kelapa), Saridin mengarung laut sampai terdampar di Palembang”

    berikut ini penggalan kisah saridin yang beredar disini>>

    “ONTRAN – ontran Saridin di perguruan Kudus tidak hanya menjengkelkan para santri yang merasa diri senior, tetapi juga merepotkan Sunan Kudus. Sebagai murid baru dalam bidang agama, orang Miyono itu lebih pintar ketimbang para santri lain.

    Belum lagi soal kemampuan dalam ilmu kasepuhan. Hal itu membuat dia harus menghadapi persoalan tersendiri di perguruan tersebut. Dan itulah dia tunjukkan ketika beradu argumentasi dengan sang guru soal air dan ikan.

    Untuk menguji kewaskitaan Saridin, Sunan Kudus bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?” Saridin dengan ringan menjawab, “Ada, Kanjeng Sunan.”

    Mendengar jawaban itu, sang guru memerintah seorang murid memetik buah kelapa dari pohon di halaman. Buah kelapa itu dipecah. Ternyata kebenaran jawaban Saridin terbukti. Dalam buah kelapa itu memang ada sejumlah ikan. Karena itulah Sunan Kudus atau Djafar Sodiq sebagai guru tersenyum simpul.

    Akan tetapi murid lain menganggap Saridin lancang dan pamer kepintaran. Karena itu lain hari, ketika bertugas mengisi bak mandi dan tempat wudu, para santri mengerjai dia. Para santri mempergunakan semua ember untuk mengambil air.

    Saridin tidak enak hati. Karena ketika para santri yang mendapat giliran mengisi bak air, termasuk dia, sibuk bertugas, dia menganggur karena tak kebagian ember. Dia meminjam ember kepada seorang santri.

    Namun apa jawab santri itu? ”Kalau mau bekerja, itu kan ada keranjang.” Dasar Saridin. Keranjang itu dia ambil untuk mengangkut air. Dalam waktu sekejap bak mandi dan tempat wudu itu penuh air. Santri lain pun hanya bengong.”

    sumber

    http://ketoprakjawa.wordpress.com/2010/09/24/mengungkap-sosok-saridin-syeh-jangkung/ dan saya mendengar ketopraknya sendiri seperti itu, salam..!!!

    • Elha Husnan
      18/02/2012

      Terimakasih, Pak (atau Mas ya?), atas share -dan kalau bukan koreksi-nya. Saya sadar, dan bahkan sudah bikin tanggapan komentar sebelumnya, soal ketidaksesuaian kisah Saridin dengan versi yang berkembang di tempat kelahirannya.
      Terus terang, saya memperoleh versi cerita ini sebelum saya membaca atau mendengar versi Pati-nya (meski tentu saja, di Kota Palembang ini, masyarakat Pati Rantauan memiliki “daerah” tersendiri, terutama di Kecamatan Sekip). Sebab itulah mungkin, saya kemudian jadi banyak mempertanyakan kesesuaian kronologis cerita yang saya terima -sebagai cerita yang penuh anakronisme.
      Anda boleh tidak memercayai cerita yang berkembang di Pati. Tetapi Anda juga tidak patut untuk segera meyakini versi yang saya unggah ini. Betul, cerita Saridin penuh kiasan (seperti ditulis dalam posting Blog yang Anda kutip). Tetapi bukan mustahil, cerita tutur (tinular?) ini benar memiliki konteks sejarah. Dengan kata lain, pernah betul-betul terjadi.
      Saya pernah berdiskusi dengan sejarawan muda kita, Bonnie Triyana -owner majalah Historia Online. Menurutnya, cerita-cerita fiksi (seperti juga cerita tutur tentang Saridin) bisa dan boleh kita posisikan sebagai “Sumber Sejarah” (dengan tanda kutip). Tetapi untuk keperluan itu, kita juga mesti kritis; mampu memilah mana yang mitos, murni fiktif, dan mana yang historis.
      Kembali ke cerita Saridin. Menurut saya, kronologis dan atau latar belakang mitis di situ sebetulnya bisa kita singkirkan sebentar -kalau perlu kita tidak usah memperdebatkan apakah Saridin sampai di Palembang dengan naik blarak atau batok kelapa? Dan seterusnya.
      Satu hal yang lagi-lagi mesti saya jelaskan adalah bahwa entry point cerita Saridin adalah missing link yang menghubungkan “peradaban” Palembang dengan kebudayaan Jawa -yang bagi beberapa orang di sini (di Palembang) hendak diingkari. missing link itu barankali bisa kita runut dalam sejarah-sejarah tutur -seperti dalam kisah Saridin ini? Wallahu a’lam.
      Yang pasti, saya lebih senang kita berdiskusi terbuka seperti ini. Tidak dengan mudah men-judge bahwa ini atau itu sudah keliru, apalagi cerita yang kita bicarakan adalah legenda. Sesuatu yang hampir-hampir mirip gosip, atau desas-desus, atau lebih tepatnya FIKSI. Tetapi, tentu saja, saya sepakat bahwa kita musti melestarikan cerita-cerita rakyat.

  6. Pras
    18/02/2012

    Tulisan anda jauh dr yg pernh aq dengr slma ini…

    • Elha Husnan
      18/02/2012

      Sip… dan semoga Anda bisa menemukan perspektif lain, yang berbeda, yang bukan selama ini saja. Keep study!!! . Terimakasih.

  7. joe
    10/12/2012

    saridin itu bukan nya ki’arogan ya…

  8. sgung dipo
    07/01/2013

    Saya salah satu pengagum tokoh ini. Pengenalan dengan tokoh ini pada awalnya lewat cerita ketoprak sering saya lht waktu masih kecil. Sejak itulah selalu mencari ref tentang Saridin termasuk tulisan anda. TKS.

  9. chozin asli pati
    19/01/2013

    ceritanya ada yg salah tuh harus di benerin

  10. mau tau
    02/02/2013

    cerita yg bener yg mana ya…saya pernah datang kemakamnya dan bertanya sama kepada sesama para takziah siapa sebenarnya saridin itu… tapi ceritanya ko laen ea…

    • Elha Husnan
      14/03/2013

      Barangkali yang saya tulis memang adalah cerita saridin dalam “perspektif lain”. Masalahnya, barangkali kita semua (yang hadir dalam komen dan atau forum ini) melupakan tulisan pendahuluan dan analisis saya (yang tersebut sebelum cerita).

  11. Sariden
    21/02/2013

    Aslmualkum….mohon di cari lagi crita sariden ini.karna crita ni kurang akurat.ak lengkap punya kaset ketoprak sariden.klu tntang berguru di kudus itu sama yang ak dapat critanya,sampe kayu jadi jembatan yang di utus/printah,kalau kamu masih di gunakan menyabrang sungai/jembatan,jangan kamu pergi dari sini dan kalau sudah ndak di gunakan kamu boleh pergi,kebetulan sebelahnya jembatan sariden ini dah di bangun jembatan sekarang kayu itu pun hilang/hanyut,dulu pernah hanyut tapi tak tau pagi2 ad lagi di situ,kebetulan jembatan itu tak jauh dari kampung saya,kurang lebih tutur spaku minta maaf,wasalam alkum

    • Elha Husnan
      14/03/2013

      Maaf mas, standar akurasi sampean apa? Betulkah kisah-kisah yang Anda dengar itu (apalagi dari kaset-kaset ketoprak) merepresentasikan sejarah yang sesungguhnya. Dalam konteks bahwa sejarah yang kita tahu hanya sebatas cerita tutur, saya yakin versi yang sampean punya juga tidak sepenuhnya akurat. Itu juga berlaku pada cerita yang saya tulis ini.

  12. charis
    10/06/2013

    saya rasa si penulis blog ini tidak memiliki pertimbangan dan penelitian.di daerah pati banyak sekali fakta sejarah yg masih ada,coba sampean datang langsung ke makamnya,dan temuilah penjaga makamnya,nanti sampean akan di kasih petujuk,ok

    • Elha Husnan
      23/10/2013

      Ah, Anda tidak benar-benar membaca tulisan (juga komentar-komentar balasan) saya…

  13. Fitri
    24/06/2013

    Ass, kalo anda emang kyai sakti mandraguna tlg hubungi saya saya bth bantuan anda segera ke no 08975881139

  14. nita
    17/09/2013

    BEGOK BGT nih yg ngarang cerita,..
    klo nulis tu di pelajari dulu ceritanya sama cari sumbernya,jg cm dr beberapa sumber aja gan
    BLO’ON loe,.

    • Elha Husnan
      23/10/2013

      Ah, Anda tidak benar-benar membaca tulisan (juga komentar-komentar balasan) saya…

  15. surayanto
    07/10/2013

    Justru cerita2 seperti yang anda tulis ini yang makin menyesatkan, karena hanya berdasarkan cerita orang yang jauh dari sumber/tempat asal sejarah tanpa melakukan pembanding informasi dari tempat asalnya

    • Elha Husnan
      23/10/2013

      Ah, Anda tidak benar-benar membaca tulisan (juga komentar-komentar balasan) saya…

  16. coreng
    24/12/2013

    Saya mengerti apa yg anda maksud, anda menulis sesuai apa yg diterima. Belum mengecek secara keseluruhan. Itu wajar banyak yg menyanggah. Dan banyak jg yg blm mengerti tulisan anda.

    • Elha Husnan
      28/12/2013

      Terimakasih telah memahami tulisan saya, dan mengerti saya juga tentunya. Hanya, barangkali betul saya menulis sesuai yang saya terima. Akan tetapi, perihal kenapa saya tidak memverifikasi kebenaran cerita yang saya dapat, saya punya beberapa alasan, di antaranya, saya terlanjur menganggap cerita yang saya terima ini sebagai sebuah “versi”. Dengan demikian, dalam hal ini, sebagai versi, ia bisa diterjemahkan sebagai subversi dan atau “antitesis” dari cerita “yang dianggap, atau disepakati, sebagai benar”. Persoalannya, hampir semua orang di komentar-komentar ini, semoga saya keliru, tidak bisa menerima keberadaan “kebenaran yang tak tunggal”. Wallohu a’lam.

      Ala kulli hal. Terimakasih banyak atas apresiasi Anda.

  17. andre
    04/01/2014

    hahaha, alhamdu yang anda tulis membuat banyak yang komen. jadi rame.. sedikit mengomentari anda kayaknya belum paham tentang jawa. terima kasih

    • Elha Husnan
      04/01/2014

      Terimakasih. Saya belum, sebagaimana banyak orang juga belum, memahami kejawaan dengan baik. Saya kerap mendengar unen-unen, bahkan “wong jowo” pun “kari separo”. Atau, saya memang belum paham jawa, sebagaimana Anda memahaminya. Itu problem epistemologis yang berlaku dimana-mana.

  18. agus
    17/01/2014

    Senang bisa baca blog ini.
    Kebetulan saya memang pingin tahu cerita saridin di palembang. Meski belum bisa dapat di blog ini cerita keberadaan saridin di palembang. mungkin bisa di tambahkan kalo ada.
    Maaf, versi cerita memang berbeda dengan yang saya tahu.
    Tapi saya senang, selama di palembang saya br ketemu wong kito yang mengenal saridin, yang sepengetahuan kami di
    palembang lebih dikenal dengan syeh jangkung

    • Elha Husnan
      18/01/2014

      Terimakasih, Mas Agus. Saya tidak mengurai lebih jauh mengenai keberadaan jejak Saridin di Palembang oleh sebab, salah satunya, keterbatasan data. Betul seperti jenengan sebut, wong kito tidak banyak yang mengenal saridin, bahkan jikapun ia dilabeli dgn namanya yang lain, Syaikh Jangkung. Itulah problem saya, dan juga barangkali masalah kita semua. Untuk mendapatkan versi yang valid dari sebuah kisah, apalagi yang sudah menjadi semacam legenda, kita dihadang oleh jutaan problem. Inilah pula yg sya alami saat hendak menggali “legenda” dari tanah kelahiran saya sendiri; Jombang Jawa Timur. Legenda yg saya maksud adalah kisah kebo kicak.

  19. agus
    17/01/2014

    Mas… tambahan…
    Bahasa halus di palembang sangat mirip dengan bahasa jawa lho…

    • Elha Husnan
      20/01/2014

      Betul, Mas Agus.
      Bahasa Asli Palembang, atau Anda menyebutnya sebagai Bahasa Halus, dan Wong Plembang sendiri kerap menengarainya sebagai “Bebaso”, memang tersengar mirip dengan bahasa Jawa. Saya kenal dengan seseorang yang relatif ahli dalam penggunaan bahasa ini, dan yang bahkan sempat menggubah “Kamus Bebaso Palembang”.
      Tetapi, menariknya, di Palembang sendiri, terutama saat-saat ini, bahasa yang seperti ini tidak banyak dipakai. Orang lebih suka memakai bahasa Nasional Indonesia, atau Melayu, dengan sedikit tambahan aksentuasi “o”. Pertanyaan saya, dan saya sebetulnya tergerak untuk menelitinya lebih jauh, mengapa bisa demikian? Sejak kapan kultur bahasa tersebut bergeser?
      Tentu saja, pertanyaan saya ini berada di atas asumsi bahwa “bebaso” adalah bahasa asli Palembang, atau sebagaimana hal itu dipahami oleh “Wong Plembang Asli”, bukan bahwa ia sekedar bahasa halus orang palembang belaka.
      Terimakasih.

  20. henry aguscik
    28/04/2014

    mungkin sy bisa menambahkan sedikit fakta ttg keberadaan saridin & rekannya kl dl pernah terdampar di palembang…singkat cerita 5 th yg lalu seblm meninggal,ayah sy menitipkan sebilah keris yg berasal dr turun temurun kpd sy..stlh sy cari tau ternyata keris tsb berasal gunung muria jateng..informasi yg sy ketahui keris tsb dibuat th 1564 yg diberi nama halimun drajat..sedikit informasi kl sy, ayah, akas/kakek, tuyu’/kakek buyut sy asli palembang ( komering ) sedangkan informasi yg di dpt dr ayah sy itu warisan turun temurun..mungkinkah ada korelasi legenda saridin dg warisan orang tua sy??terima ksh seblmnya wass

  21. sundoyo
    14/05/2014

    cerita sebenarnya bukan seperti itu, yang sebenarnya bisa diperoleh dari cerita legenda orang-orang pati jawa tenggah. dan saridin memang guru ki mrogan.
    adapun makam beliau yang sebenarnya ada di palembang. salam dari orang yang mencari keberadaan makamnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 03/03/2011 by in Essey and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 33,975 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: