Seorang opsir membelah keributan. Ia mengacungkan revolver. “Zaman ini,” gumamnya sembari marah-marah, “bukan lagi  masa beradu otot. Cukup pakai senjata”. Tetapi belum selesai dengan keangkuhannya, seseorang tiba-tiba menangkap tangan kanan sang petugas. Sedemikian tenang dan cekatan, picu pistol pun terkunci. Dengan sedikit sentilan jari, magasin senjata itu lepas dari rangkanya. Kepada polisi ia berkata, “asal kamu tahu, petugas, kami –para pecinta bela diri– tak pernah bicara kotor sepertimu.” Baca entri selengkapnya »

Tak Perlu Petrus

06/03/2012

Momok itu bernama premanisme. Setelah Ayung (Tan Hari Tantono), bos PT. Sanex Steel, terkapar tewas di kamar 2701 Swiss-Bel Hotel, publik kian gelisah. Berturut-turut, juga sesudah John Kei (terduga pembunuh Ayung) dicokok, adegan-adegan premanisme membuat masyarakat tambah resah. Baca entri selengkapnya »

Setelah adegan Umrah plus yang entah dibiayai siapa itu, beberapa surat kabar meminta Ustadz Nawawi (KH. A. Nawawi Dencik al-Hafizh) menggubah catatan perjalanan. Ia menyanggupi, dan “tugas” itu ujungnya dilempar ke saya. Di sini, saya menulis Hebron. Saya menulis Bosporus. Saya juga menulis Palestina. Tetapi, tentu saja, kota-kota masyhur tersebut tak betul-betul saya kunjungi. Saya hanya berkelana melalui imajinasi -meski tulisan ini based from reality. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.